Profil Tokoh DEPOK

Gagah Sunu Sumantri

Drs. Gagah Sunu Sumantri MPd

Desember 2008

Setu Pendongkelan jadi wisata air

Monitor Depok, 26 Desember 2008

TUGU, MONDE : Situ Pendongkelan yang berlokasi di Kelurahan Tugu, Cimanggis mulai kemarin difungsikan menjadi tempat pariwisata taman rekreasi air yang dilengkapi dengan sepeda air.

Peresmian wisata air dilakukan Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok Gagah Sunu Sumantri, dihadiri Lurah Tugu Supian Suri dan Sekretaris Kecamatan Cimanggis Marjaya dan ratusan warga. Gagah mengatakan Industri pariwisata merupakan suatu industri yang sifatnya komplek dan perlu didukung oleh sektor lain, kalau kita berbicara dengan industri yang lain sekarang kondisinya sangat terpuruk sedangkan sektor pariwisata kalau dipelihara dengan baik maka kondisinya lebih bagus.

Warga sangat membutuhkan hiburan, karena itu pariwisata merupakan suatu kebutuhan sekunder dari manusia, dengan adanya taman wisata air Situ Pendongkelan masalah kelestarian lingkungan hidup akan terjaga.

Gagah meminta kepada warga ikut menjaga kelestarian dan kebersihan situ. Sebab melalui kepariwisataan akan memberikan sumbangan yang besar apabila dikelola dengan baik dan professional. Dengan adanya obyek wisata ini, lanjut dia harus dapat mensejahterahkan masyarakat sekitar wilayah situ, rencananya wisata ini akan dikembangkan dengan menambah berbagai macam fasilitas.

Dia mengimbau kepada warga untuk selalu menjaga keberadaan taman wisata air ini dan kerahmahan warga sekitar situ terhadap pengunjung wisata, karena hal yang terpenting dari pariwisata adalah masalah pelayanan dari warga itu sendiri.

“Mari kita jaga dan lestarikan wisata alam yang ada dikota Depok,” ajaknya.

Sementara itu Ketua Pokja Situ Pendongkelan, Sain N Iskandar merasa bangga dengan difungsikan situ Pedongkelan yang luasnya sekitar 4,5 hektare dijadikan wisata air yang dilengkapi dengan sepeda air.(m-10)

November 2008

Beragamnya seni budaya Depok, Pemkot siap tampung aspirasi

Monitor Depok, 28 November 2008

PANCORAN MAS, MONDE: Beragamnya seni dan budaya Depok membuat Pemerintah Kota Depok berupaya untuk menampung beragam ide dan gagasan baru dari para praktisi seni dan budaya se-Kota Depok.

Upaya tersebut dilaksanakan melalui acara Forum Praktisi Seni dan Budaya Kota Depok yang diselenggarakan di Yayasan Cakra Buana, kemarin. Acara yang digagas oleh Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok ini juga dihadiri Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail.

Dalam sambutannya, Walikota mengatakan bahwa dirinya juga seorang pecinta seni. Namun, ia mengaku prihatin dengan banyaknya tayangan yang mengatasnamakan seni, tapi isinya tidak dapat membentuk karakter bangsa.

Sedangkan bagi Aktris Neno Warisman yang turut hadir dalam acara ini, Islam pada dasarnya juga menyukai kesenian. “Islam memiliki beragam kesenian yang dapat saling bersinergis,” ujarnya. Ia juga menegaskan, sebuah kebudayaan yang baik juga harus dapat mendidik generasi akan datang.

Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok Gagah Sunu Sumantri menjelaskan bahwa acara ini juga berupaya untuk melestarikan seni budaya.

“Banyak nilai-nilai yang dapat diteladani dari kesenian. Misalnya nilai toleransi, supporting, saling menghargai dan menghormati,” ujanya.

Undang Hidayat Kepala Seksi Seni dan Budaya Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok mengatakan beragam dan bervariasinya seni dan budaya di Kota Depok tentunya masing-masing memiliki ciri dan warna berbeda.

“Kekayaan budaya diharapkan dapat menghasilkan berbagai ide dan gagasan yang berbeda untuk pengembangan seni budaya Depok,” ujar Undang.

Dari forum ini diharapkan dapat terkumpul sejumlah ide dan gagasan baru dari para praktisi seni dan budaya.

Masukan tersebut nantinya diharapkan dapat mengakomodir seluruh komponen pelaku seni. Bahkan, bukan tak mungkin Depok memiliki berbagai seni dan budaya yang tidak dimiliki oleh daerah lain. “Kita memiliki keunggulan pada Topeng Cisalak dan Gong Si Bolong,” kata Undang.

Sekretaris Umum Dewan Kesenian Depok Nuning Darmadi, untuk mengembangkan seni budaya dan pariwisata Depok, diperlukan kesepakatan bersama.(m-12)

Perkenalkan wisata di Depok, FK Kompepar gelar touring

Monitor Depok, 17 November 2008

DEPOK, MONDE: Sekitar 523 peserta dengan mengendarai sepeda motor ikut meramaikan touring wisata yang digelar Forum Komunikasi Kelompok Penggerak Pariwisata (FK Kompepar), akhir pekan lalu.

“Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk mengenalkan obyek wisata yang terdapat di wilayah Kota Depok,” ungkap Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok Gagah Sunu Sumantri kepada Monde.

Pelepasan peserta kegiatan tersebut dilaksanakan di halaman Balaikota pukul 08.00, dan finish di Aquatic Fantasy, Telaga Golf Sawangan, pukul 11.00. “Para peserta tidak hanya masyarakat umum, termasuk pegawai kelurahan dan dinas instansi.”

Diakui Gagah, masih banyak masyarakat Depok yang belum mengenal dan mengetahui keberadaan obyek wisata yang terdapat di kota ini seperti a.l Wisata Konvensi, Wisata Ilmiah, Wisata Keramik, Wisata Argo, Wisata Alam, Wisata Tirta, Wisata Reliji.

“Selain memperkenalkan objek wisata, hal ini juga untuk meningkatkan kunjungan wisata di Depok. Jangankan masyarakat umum, banyak pula aparatur pemerintahan yang tidak mengetahui soal potensi pariwisata Depok.”

Ketua FK Kompepar Depok, Ningworo Supeni, menyampaikan bahwa saat kegiatan berlangsung, pengelola obyek wisata bersama pihak panitia memandu peserta sekaligus memberi penjelasan terkait obyek dan daya tarik wisata (ODTW) yang disinggahinya. “Selain memperkenalkan objek wisata, diharapkan melalui penjelasan yang detil, para peserta memiliki keinginan untuk berkunjung kembali bersama keluarganya ke obyek wisata tersebut.”

Melalui kegiatan ini pula disosialisasikan makna dari gerakan Someah Hade ka Semah yang implementasinya serupa dengan Sapta Pesona yaitu Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Kenangan. Dengan digelarnya touring wisata sepeda motor ini, lanjutnya, diharapkan peserta akan mengenal sekaligus memunculkan daya tarik terhadap obyek wisata yang dikunjungi. “Pada akhirnya peserta akan menginformasikan kepada keluarga dan kerabatnya.”

Sejumlah obyek wisata yang disinggahi [transit] peserta yaitu Wisata Alam Setu Sawangan, Tanaman Hias Gondong Ijo Green Globe Inspiration, dan Aquatic Sawangan. Di lokasi finish, peserta dihibur oleh musik OT oleh anggota FK Kompepar Depok serta pembagian doorprize.(m-9)

Oktober 2008

Promosikan wisata, Sleman adakan Travel Dialog ke Depok

Monitor Depok, 29 Oktober 2008

BALAI KOTA, MONDE: Potensi wisata dan budaya di suatu daerah perlu dikenal di berbagai daerah lainnya.

Upaya tersebut direalisasikan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman yang kemarin mengadakan Travel Dialog dengan Kantor Pariwasata Seni dan Budaya Kota Depok, di aula lantai 5 Balaikota Depok. Kegiatan ini merupakan bagian dari program promosi wisata untuk memperkenalkan potensi daerah wisata Sleman. Acara yang dimulai pukul 10.00 itu, dihadiri oleh Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Wahyudi Heru Santoso M.P, Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri, sejumlah kepala sekolah dan guru dari beberapa sekolah di Depok, serta beberapa perwakilan dari agen/ biro perjalanan wisata di wilayah Depok.

Dalam paparannya, Heru menjelaskan selain sebagai sarana promosi wisata, acara ini juga dimaksudkan untuk memperat tali silaturahmi. Pemerintah Kabupaten Sleman juga mengajak beberapa instansi, terkait dengan beberapa objek wisatanya, di antaranya pengelola Museum Yogya Kembali, Universitas Veteran, dan para pemilik restoran.“Sleman memiliki objek wisata alam, budaya, dan pendidikan,” ujar Heru.

Menurutnya, keragaman objek wisata itu diharapkan dapat menarik minat wisatawan pada umumnya dan para pelajar khususnya untuk berkunjung ke daerah yang terkenal dengan salak pondoh-nya itu.

Lebih lanjut Heru memaparkan saat ini program 40 desa wisata gencar dikembangkan, dimana masing-masing desa memiliki kekhasannya sendiri. Misalnya, Kecamatan Turi, memiliki kekhasan dengan tanaman salaknya.

Desa wisata juga akan menyasar pada sektor industri. Hanya industri yang dikembangkan memang industri yang lekat dengan alam dan jauh dari pencemaran. “Kami juga memiliki desa yang menjadi sentra tenun dan kerajinan bambu,” kata Heru.

Pihak Pemerintah Kota Depok sendiri senang dengan adanya acara ini. Menurut Gagah, kemitraan yang dijalin dengan daerah lain perlu dikembangkan untuk kebaikan bersama. “Kedepannya, diharapkan Depok juga bisa berkunjung ke sana untuk memperkenalkan wisata yang ada di Depok,” katanya.(m-12)

Agustus 2008

Abang & Mpok harus citrakan budaya Depok

Monitor Depok, 7 Agustus 2008

BUMI WIYATA, MONDE: Ketua DPRD Kota Depok Naming D. Bothin menuturkan pemilihan Abang dan Mpok selayaknya menapilkan beragam kesenian yang merupakan ciri khas dari Kota Depok.

Sejumlah budaya khas Depok itu di antaranya kesenian lenong, Gong si Bolong dan lainnya. Hal ini menurut Naming sebagai upaya untuk melestarikan kesenian tradisional Depok yang mulai terpinggirkan di tengah pertumbuhan kota yang pesat.

Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Gagah sunu Sumantri, mengatakan pemilihan Abang dan Mpok merupakan even unggulan pariwisata Depok. Oleh karenanya diperlukan upaya serius untuk mengemasnya menjadi atraksi yang menarik tanpa meninggalkan unsur pelestarian nilai-nilai budaya lokal.

Walikota Nur Mahmudi Ismail berharap pemilihan

Abang dan Mpok Depok mampu menghasilkan generasi muda yang cerdas, berkepribadian dan berpola pikir ke depan. Juga memiliki semangat kebangsaan yang tinggi, sehingga mampu berperan sebagai duta-duta pembangunan pariwisata Depok serta teladan bagi generasi muda Indonesia

Malam final pemilihan Abang dan Mpok Depok yang berlangsung di Hotel Bumi Wiyata pada Senin (4/8) malam menobatkan pasangan Erwin Fajrin dan Asri Aldina sebagai pemenangnya.

Untuk Abang dan Mpok harapan I diraih oleh Pandu Putra (Sawangan) dan Mpok Martha Safitri (Pancoran Mas). Harapan II diraih oleh Fiki Syarifudin (Sukmajaya) dan Ajeng Tri wahyuni (Cimanggis).(ina)

Juli 2008

Pemkot data rumah makan kena gusuran tol

Monitor Depok, 3 Juli 2008

MARGONDA, MONDE : Kantor Pariwisata dan Seni Budaya akan mendata sejumlah rumah makan yang akan terkena proyek pembebasan pembangunan jalan tol di Kota Depok.

Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kantor Pariwisata dan Seni Budaya Gagah Sunu Sumantri, di sela acara grand opening rumah makan Blan’de di kawasan Jl Margonda Raya, kemarin.

Meski demikian, Gagah belum bersedia mengungkapkan berapa jumlah pasti rumah makan di Depok yang bakal terkena gusuran tol. Sementara itu diketahui, rumah makan Blan’de yang baru diresmikan itu dipastikan terkena lintasan Tol Cinere –Jagorawi (Cijago)

Mengenai masalah ini, Gagah mengaku sudah mengingatkan pihak RM Blan’de bahwa lokasi yang digunakan saat ini kedepannya akan terkena pembangunan Tol Cijago.

Hal itu pun disadari sepenuhnya oleh Direktur Rumah Makan Blan’De Purwanto Kitung. ”Kami sudah mengetahui jika lokasi rumah makan ini termasuk yang tekena lintasan tol,” ujarnya.

Akan tetapi, sambungnya, sisa waktu ini tidak salah kiranya tetap memanfaatkanya dengan menghadirkan Blan’De yang merupakan pembenahan dari manajemen sebelumnya.

Sementara itu Hotel dan Restoran Konsultan (Koreka) Blan’De Rahma, menuturkan bahwa pihaknya selama ini akan bergiat dalam mencari pangsa pasar di Depok. Dengan bermodalkan penyajian masakan ala tradisional Indonesia dan Belanda, pihaknya optimis akan mampu meraih pasar tersendiri di Depok.

Menurutnya, secara historis Depok memiliki kedekatan emosional dengan Belanda, yang terlihat dari kehadiran Belanda Depok. Untuk itu diharap mampu menghadirkan nostalgia tersendiri dengan berkunjung di Blan’De Depok. ”Jika nantinya RM Blan’De tergusur tol, kita tetap setia kepada para pelanggan dengan mencari tempat baru,” tandas Rahma.(ina)

RM Blan’De hadir di Depok, Suguhkan Depok tempo dulu

Monitor Depok, 3 Juli 2008

Rumah makan bernuansa Belanda yang mengusung nama Blan’De, siap ramaikan wisata kuliner di Kota Depok.

Purwanto Kitung, direktur rumah makan itu menuturkan nama Blan’De merupakan paduan kata dari Belanda dan Depok. Secara historis, Kota Depok memiliki kedekatan emosional yang terkenal dengan Belanda Depok-nya.

Bersama rekannya yang kebetulan pernah tinggal di negeri Belanda, semangat untuk menghidupkan nuansa negara kincir angin di kota belimbing ini menguat.

Kehadiran rumah makan yang menghadirkan perpaduan antara masakan tradisional Belanda dan Depok ini diharap menjadi tempat yang pas untuk bernostalgia bagi sejumlah warga Depok yang kangen akan suasana tempo dulu.

“Setelah kami lakukan survei dengan waktu yang lumayan panjang, nampaknya rumah makan dengan nuansa Belanda di Depok, baru kamilah satu-satunya. Dengan ciri khas ini, kami harap mampu mendatangkan banyak pengunjung nantinya,” harap Purwanto.

Ia mengungkapkan koleksi hidangan yang disuguhkan antara lainya dutch egg salad. Menu ini disajikan dengan racikan sayur rebus dan saus bawang putih.

Selain itu, ada bruine bonen soep (sup kacang merah), roterdam grill steak, dan beef tenderlain yang disajikan dengan kentang goreng dan selada.

Tak hanya itu rumah makan ini juga menyediakan sejumlah makanan tradisional lain seperti tahu kipas, pepes ikan, cah kangkung dan sejumlah hidangan lainnya.

Hotel Restaurant Konsultan RM Blan’De Rahma, menuturkan pengunjung yang datang ke rumah makannya tak saja memuaskan diri untuk makan saja. Namun juga mampu menambah wawasan setidaknya terkait historis Belanda di Depok.

“Saat ini kami sedang dalam persiapan menghadirkan sejumlah foto-foto tempo dulu sebagai hiasan,” katanya yang ke depannya akan menghadirkan arena dansa serta suguhan musik tempo dulu.

Menurut Rahma, melalui tampilan yang berbeda, diharapkan tingkat konsumen Blan’de bisa menyentuh angka 150 – 200 pengunjung seiap harinya.

Kepala Kantor Dinas Pariwisata Kota Depok Gagah Sunu Sumantri, menyambut hangat akankehadiran RM Blan’De. Adanya ciri khas merupakan sebuah daya tarik tersendiri untuk memikat konsumen. Seperti halnya Blan’De yang menghadirkan nuansa Belanda dalam suguhan menu serta konsep tata ruangnya.(Suci Dewi)

Juni 2008

Pengelola wisata mesti pede

Monitor Depok, 21 Juni  2008

BALAIKOTA, MONDE :Menjelang liburan anak sekolah, Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri mengajak segenap pengelola wisata untuk percaya diri menyambut kedatangan para wisatawan.

BALAIKOTA, MONDE :Menjelang liburan anak sekolah, Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri mengajak segenap pengelola wisata untuk percaya diri menyambut kedatangan para wisatawan.

“Ya, dengan kondisi yang telah ada saat ini kita harus mulai percaya diri (pede) untuk menyuguhkan sarana wisata kita kepada pengunjung,” tuturnya.

Untuk Depok menuju kota wisata, menurut Gagah, dapat dilakukan dengan cara bertahap tanpa harus menunggu segala sesuatunya tampil ideal terlebih dahulu.

Dia mengatakakan guna mendukung suksesnya Visit Indonesia Year 2008 ‘serta Visit West Java 2008, maka hadir Forum Komunikasi Kelompok Penggerak Pariwisata (FK Komperpa) Kota Depok.

Forum ini bersekertariat di Jl Siliwangi No 48, dimana keberadaannya merupakan organisasi formal yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat. Di dalamnya terdiri berbagai unsur masyarakat yang berada di objek dan daya tarik wisata (ODTW).

“FK Komperpa berfungsi sebagai mitra kerja Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya. Kegiatannya adalah promosi yang bertujuan memajukan kepariwisataan Depok secara intensif dan berkesinambungan.”

FK Komperpa dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Depok No.177/583/Ktps/II/2008, tertanggal 11 Februari 2008.

Saat ini tidak kurang 11 macam objek wisata yang dijadikan lokasi andalan Kota Depok. Yakni wisata jiarah atau religi; Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri Kel, Meruyung, Limo. Wisata alam; Kampung 99 Pepohonan, Setu Bojongsari, Setu Cilodong, Setu Pengasinan, Setu Cilangkap dan sejumlah setu lainnya.

Hadir pula wisata konvensi; Hotel Sawangan, Hotel Bumi Wiyata, Wisma Makara UI, Wisma Kinasih serta Wisma Graha Insani. Sementara wisata belanja dengan dukungan sejumlah pusat perbelanjaan seperti Margo City, Detos, Mal Depok, ITC, DTC serta Plaza Depok.(ina)

Depok incar 1 juta turis

Monitor Depok, 27 Juni  2008

BALAIKOTA, MONDE : Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menargetkan tingkat kunjungan wisata tahun 2008 ke kota ii sebanyak 1 juta orang, atau naik 20% jika dibandingkan tahun lalu sebanyak 800.000 orang.

BALAIKOTA, MONDE : Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok Gagah Sunu Sumantri melalui kasi Jasa dan Sarana Wisata Lukmanto mengatakan potensi pariwisata Kota Depok menjanjikan.

Dia mencontohkan wisata religius dimana keberadaan masjid kubah emas Dian Al Mahri merupakan salah satu lokasi objek wisata Depok yang diharapkan mampu membantu tercapai target tersebut.

Saat datangnya liburan anak sekolah, Gagah pun mengajak segenap pengelola objek wisata untuk percaya diri menyambut kedatangan para wisatawan ke Kota Depok ini.

“Ya, dengan kondisi yang telah ada saat ini kita harus mulai percaya diri untuk menyuguhkan sarana wisata kepada pengunjung,” tuturnya.

Menurut dia, upaya Depok menuju kota wisata dapat dilakukan dengan cara bertahap tanpa harus menunggu sektor lainnya.

Di sisi lan, guna mendukung suksesnya Visit Indonesia Year 2008 serta Visit West Java 2008 di Kota Depok telah hadir Forum Komunikasi Kelompok Penggerak Pariwisata (FK Komperpa).

Dengan bersekertariat di Jl. Siliwangi No 48, keberadaan FK Kompepar merupakan organisasi formal yang tumbuh dari, oleh dan untuk masyarakat yang terdiri dari berbagai komponen.

FK Kompepar berfungsi sebagai mitra kerja Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Depok terutama dalam memacu kegiatan promosi yang bertujuan memajukan sektor pariwisata Depok.

Berdasarkan SK Kepala Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Depok No. 177/583/Ktps/II/2008 tanggal 11 Februari 2008, saat ini terbentuk Forum Komunikasi Kompepar di enam kecamatan yang ada.

11 Objek

Tak kurang sedikitnya 11 objek wisata dijadikan sebagai lokasi andalan di Kota Depok. Untuk wisata ziarah, Pemkot mengandalkan Masjid Kubah Emas Dian Al-Mahri di Kecamatan Limo.

Sedangkan untuk menarik turis yang menyukai alam, Depok mengandalkan Kampung 99 Pepohonan, Setu Bojongsari, Setu Cilodong, Setu Pengasinan, Setu Cilangkap dan sejumlah setu lainnya.

Hadir pula wisata konvensi yang diharapkan bisa ditarik oleh pengelola Hotel Sawangan, Hotel Bumi Wiyata, Wisma Makara UI, Wisma Kinasih serta Wisma Graha Insani.

Sedangkan wisata belanja didukung sejumlah pusat perbelanjaan modern seperti Margo City, Detos, Mal Depok, ITC, DTC serta Plaza Depok dan sejumlah lokasi sebagai sarana berbelanja lainnya.

Frankly Siagaan, Direktur dari Maida Tour & Travel mengatakan untuk menuju daerah tujuan wisata, Pemkot Depok harus memacu masyarakat untuk sadar terhadap besarnya keuntungan dari industri pariwisata.

“Dengan warga yang sadar wisata, tentu mereka akan mendukung terjadinya perubahan suatu daerah menjadi pusat pawisata terkemuka. Hal itu, telah terjadi di Pulau Bali,” katanya.(ina)

Mei 2008

Wisata ke Depok? Hayuukk…

KOMPAS/ ADHI KUSUMAPUTRA, Sabtu, 31 Mei 2008 | 09:43 WIB

KOMPAS/ ADHI KUSUMAPUTRA Masjid berkubah emas ini dibangun di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok. Masjid ini milik Hj Dian Djuriah Maimun Al Rasjid, pengusaha asal Banten. Kini luas kawasan masjid ini mencapai 100 hektar.

KOMPAS/ ADHI KUSUMAPUTRA Masjid berkubah emas ini dibangun di Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok. Masjid ini milik Hj Dian Djuriah Maimun Al Rasjid, pengusaha asal Banten. Kini luas kawasan masjid ini mencapai 100 hektar.

JAKARTA, SABTU – Tahukah Anda bahwa Depok, kota mandiri di pojok selatan Jakarta, saat ini tengah menggalakkan potensi wisatanya. Pemerintah Kota Depok telah membangun Tourist Information Centre (TIC) atau Pusat Informasi Pariwisata. Lokasi TIC berada di Kampung Rusa, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jawa Barat, berdekatan dengan Masjid Dian Al-Mahri atau yang dikenal dengan nama Masjid Kubah Emas

Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri, di Depok, mengatakan, selama ini orang hanya mengenal Masjid Kubah Emas sebagai obyek wisata di Depok. Padahal, kota ini memiliki banyak hal yang menarik, mulai dari obyek wisata, wisata kuliner, cenderamata, juga makanan dan minuman khas Depok seperti olivera dan belimbing. “TIC menyediakan berbagai macam informasi yang berhubungan dengan pariwisata yang ada di Kota Depok.

Selanjutnya, untuk meningkatkan aktivitas pariwisata di Depok, Kantor Pariwisata Depok juga menjalin kerjasama dengan penyelenggara wisata luar daerah seperti Yogyakarta, Bali, Lombok, dan kota lainnya. “Potensi wisata yang ada di Depok akan semakin diketahui masyarakat luas melalui penyelenggara biro wisata di daerah lain. Kerjasama sangat diperlukan untuk memajukan pariwisata di Kota Depok,” katanya.


Pemkot bangun pusat informasi pariwisata

Monitor Depok, 19 Mei 2008

BALAIKOTA, MONDE: Pemerintah Kota (Pemkot) Depok hari ini dijadwalkan mulai meresmikan pembangunan Tourist Information Centre (Pusat Informasi Pariwisata/TIC) guna memajukan sektor pariwisata di kota ini.

Pemkot juga Forum Komunikasi Penggerak Pariwisata (Kompepar) di tingkat Kecamatan Sukmajaya untuk menggali potensi pariwisata dan budaya di daerah ini dan memperkenalkan obyek wisata dan budaya daerah ini kepada masyarakat.

Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok Gagah Sunu Sumantri mengatakan TIC akan dibangun di lokasi wisata Kampung Rusa daerah Meruyung Limo.

Keberadaannya diharapkan mampu mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan baik asing maupun lokal ke kota ini.

TIC akan menyediakan segenap informasi yang berhubungan dengan wisata di Kota Depok, mulai dari lokasi wisata baik kuliner, sejumlah lokasi rekreasi hingga tempat belanja, hotel dan menyediakan pernak-pernik khas Depok.

Masyarakat diharapkan mengetahui secara optimal potensi pariwisata yang dimiliki oleh Depok yang dahulunya dikenal sebagai kota pendidikan.

Ke depan tak menutup kemungkinan pula, bahwa kehadiran TIC akan dikerjasamakan dengan penyelenggara wisata luar daerah seperti Bali, Lombok dan kota lainnya.

Melalui sistem barter ini, diharapkan keberadaan potensi wisata di Depok pun terpublikasikan oleh penyelenggara biro wisata di daerah lain.

Sejumlah pegawai dari Kantor Pariwisata ditempatkan untuk menjaga keberadaan TIC. Mereka itu akan bertugas memberikan penjelasan terhadap pengunjung tentang potensi wisata Depok.

Kehadiran TIC mendapat sambutan positif dari pengurus Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (Asita) Depok Budiyono. Menurutnya TIC berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan ke Depok.

“Potensi wisata Depok memang selama ini belum tersosialisasi dengan baik. Kehadiran TIC pun digharap mampu mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) tentunya,” tuturnya.(ina/sud)

April 2008

Festival Depok, Anggaran tidak transparan

Monitor Depok, 29 April 2008

DEPOK, MONDE: Perayaan HUT ke 9 Kota Depok yang dilaksanakan secara meriah di Jl Juanda, Minggu (27/4), ternyata meninggalkan satu tanda tanya besar. Dari mana anggaran untuk perayaan itu?

“DPRD Kota Depok akan meminta klarifikasi mengenai Festival Depok apakah kegiatan ini disupport pemerintah Kota Depok atau tidak?” ungkap salah satu anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi Golkar Babai Suhaimi.
Ditegaskannya, setiap kegiatan yang menelan dana cukup besar misalnya di atas Rp 100 juta, Pemkot Depok tidak bisa main langsung tunjuk siapa penyelenggaranya, tetapi harus melalui mekanisme yaitu sistem tender.
“Dua kali Pemkot Depok menyelenggarakan kegiatan seperti ini tanpa adanya transparansi mengenai pembiayaan kepada dewan. Yang pertama adalah Pameran Depok yang dilaksanakan tahun lalu menjelang hari raya Idul Fitri dan yang kedua adalah sekarang,” ujar Babai.
Katanya lagi, Event Organizer (EO) yang ditunjuk pun sama hanya dengan nama yang berbeda padahal di Depok cukup banyak EO.
“EO kegiatan Pameran Depok dengan Festival Depok kan sama hanya namanya saja yang berubah padahal EO di Depok kan banyak. Jadi, jangan ada monopoli sehingga menimbulkan kecemburuan. EO punya hak untuk berkiprah, pemerintah wajib menawarkan kalau perlu melakukan pembinaan,” tegasnya.
Mengenai keberadaan sponsor pun, lanjut Babai, perlu dipertanyakan. Apa ada rekomendasi atau diberikan kapasitas apa terhadap para sponsor ini? Jangan sampai kegiatan ini justru dimanfaatkan untuk mengais sesuatu.
Menurut Babai timbul pertanyaan apakah kegiatan ini menggunakan dana APBD. Jika yang digunakan adalah bantuan Pemkot, bantuan keuangan tersebut berasal dari pos mana?
Dia mencatat tidak semua kegiatan kemasyarakatan yang tercover sehingga butuh klasifikasi. Jika ini berkaitan dengan anggaran pemerintah tentunya ini terkait dengan Keppres 80 tentang pengadaan barang dan jasa serta Permendagri No 13.
Ditambahkannya, kegiatan ini memang memakan biaya yang cukup besar mengingat digunakannya dua unit panggung besar. Jika terbukti, sanksi yang diberikan cukup berat mengingat hal ini dapat dikategorikan sebagai korupsi yaitu penyalahgunaan kewenangan (KKN).
”Apa dasar hukum menunjuk EO dan melakukan penyelenggraan kegiatan?” tanyanya.
Selama ini anggota dewan dalam juga tidak dilibatkan dalam Festival Depok sehingga pemkot perlu melakukan pengkajian ulang. ”Pemkot kan punya institusi yang dapat diberdayakan misalnya Kadin atau Apindo.”
Dalam pandangannya jika dana yang dikeluarkan melalui KONI tentunya yang dibantu adalah olahraga yang telah memiliki cabang olahraga yang jelas.
“Jika melalui dana kantor pariwisata apa kaitannya dan kenapa yang lain tidak dibantu?” lanjutnya.
Sementara itu Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri yang dihubungi Monde mengenai persoalan ini, menolak berkomentar.
“Coba hubungi langsung kepada Ibu Sekda. Saya tidak berwenang memberi penjelasan,” katanya.
Sementara Kabag Infokom, Dadang Wihana tidak bisa dihubungi karena teleponnya dalam keadaan tidak aktif.
Terpisah, Roy Prygina dari EO Komunitasgus dan Impresikomm sebagai panitia Festival Depok membantah keras jika tidak ada transparansi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Dari awal kami cuma mendapat suport dari Pemkot hanya berupa rekomendasi. EO sebagai penyelenggara tidak mendapat bantuan sepeser pun dari Pemkot,” kata Roy.
Dia menjelaskan, dengan rekomendasi Pemkot itu, dia dan teman-temannya bergerak untuk mencari sponsor. Jadi pembiayaan seluruhnya berasal dari sponsor, bukan dari Pemkot,” ujarnya menambahkan.
Pertanggungjawaban pun nantinya, kata Roy, akan diberikan kepada sponsor, bukan kepada Pemkot. “Tapi kami tetap akan memberikan laporan tertulis kepada Pemkot, karena mereka telah memberikan rekomendasi. Tapi itu bukan pertanggungjawaban. Hanya sebatas etika,” katanya.
Menurut Roy, jika penyelenggaraan festival ini dikatakan tidak transparan, itu sangat tidak tepat.
“Ini bukanlah proyek, karena dari awal kami yang mengajukan diri sebagai EO. Jadi kami tidak ditunjuk Pemkot, namun menawarkan diri,” jelasnya.(m-9/van)

April 2008

Dina Ardhia raih mahkota Putri Depok

Monitor Depok, 27 April  2008

MARGONDA, MONDE: Dina Ardhia terpilih sebagai Putri Depok 2008, setelah menyisihkan 19 rivalnya di grandfinal pemilihan Putri Depok yang berlangsung di lantai dasar Mal Depok, kemarin.

Runner up I di raih Nur Baeti Hasanah dan Runner up II Lussy Minadaniati.
Mahasisiwi semester II jurusan Public Relation London School ini, tampil penuh percaya diri, dengan lugas menjawab pertanyaan yang menyangkut tentang kepariwistaan di Kota Depok.
Tak heran kalau pada akhirnya dewan juri memutuskan Dina Ardhia sebagai Putri Depok 2008, sekaligus menyandang predikat Duta HIV AIDS Kota Depok.
Dengan demikian, Dina Ardhia tercatat sebagai juara baru di tahun keempat, sejak digulirkan pemilihan Putri Depok oleh Bias Entertainment dan Yayasan Putri Depok Indonesia.
Pentas grandfinal pemilihan Putri Depok kemarin, menghadirkan Wakil Walikota Depok Yuyun Wirasaputra, anggota DPRD Depok Babai Suhaimi, Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Gagah Sunu Sumantri, Ketua YLCC Valentino Jonathan, dan sejumlah undangan lain di jajaran Pemkot Depok.
Dengan bangga Yuyun
memberikan penghargaan kepada pihak penyelenggara, dimana kegiatan yang tidak didukung secara financial oleh pemerintah setempat, akan tetapi mampu melahirkan kegiatan yang bernilai edukatif.
Meskipun perhatian pemerintah dinilai masih sangat minim terhadap acara itu, namun tidak mengurangi semangat dari pihak penyelenggara untuk menggelar kegiatan tersebut.
Secara umum, ajang yang melibatkan potensi di kalangan pemuda Depok, dapat dikatakan punya kontribusi yang jelas bagi kemajuan kota ini.(ina/k-1)

Maret 2008

Putri Indonesia 2007 di Terminal Depok: Berdayakan anak jalanan dengan potensinya

Monitor Depok, 23 Maret 2008

TERMINAL DEPOK, MONDE: Putri Indonesia 2007, Putri Raemaswati, mengajak seluruh elemen masyarakat Depok untuk peduli terhadap anak jalanan, dengan memberdayakan mereka melalui potensi yang dimiliki.

Hal itu dikatakan Putri saat menghadiri acara Charity For Kids Education 2008, yang berlangsung di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FKBM), Bina Insan Mandiri, terminal Depok, Kamis (20/3). Kegiatan yang diselenggarakan Badan Eksekutif Himpunan Mahasiswa program Ekstensi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Yayasan Putri Depok itu, menghadirkan Putri Indonesia Lingkungan Duma Riris Silalahi, Putri Depok 2007 Nendi Yunizar, Kepala Dinas Pariwisata Kota Depok Gagah Sunu Sumantri, Bona Idol, Pramuka Kota Depok, dan sejumlah anak jalanan.

Dengan mengedapankan tema problematika anak jalanan, Putri Indonesia berharap adanya kepedulian sosial secara umum baik dari pemerintah maupun masyarakat, guna memperbaiki nasib mereka yang semestinya mendapatkan hak pendidikan secara normal.

“Dampak perkembangan ekonomi yang semakin kurang bersahabat bagi masyarakat kecil, mendorong mereka untuk mengais rejeki dengan turun ke jalan, sebetulnya mereka punya potensi yang bisa diberdayakan sepanjang adanya perhatian dari kita semua,” kata Putri Raemaswati bersemangat.

Forum silaturrahmi yang diwarnai dengan seminar Pendidikan, talkshow dan pelatihan perpustakaan itu, menumbuhkan semangat kebersamaan dikalangan pelajar, pemerintah dan masyarakat umum.

Sementara Gagah Sunu, berharap kegiatan sosial yang di gagas anak-anak mahasiswa UI itu dapat terus dikembangkan. “Kegiatan ini sangat positif, mudah-mudahan ke depan bisa menjadi agenda rutin demi menekan angka pengemis yang marak berkeliaran di jalan-jalan.”

Februari 2008

Developer abaikan situs sejarah, Tong air Bedahan terancam raib

Monitor Depok, 9 Februari 2008

BEDAHAN, MONDE: Bagi warga asli Depok, tentu kenal dengan tong air Bedahan di Sawangan, sebagai salah satu situs peninggalan sejarah yang masih dimiliki kota ini.

Sayangnya ada kabar menyedihkan, bahwa menara penampungan air yang sudah berdiri tegak sejak zaman Belanda tersebut bakal dibongkar. Ironisnya lagi, pembongkaran itu hanya untuk kepentingan developer Perumahan Tugu Residence guna memperlebar akses jalan masuk sekaligus jadi lingkungan perumahan tersebut. Rencana developer itu tentu saja tak hanya mengabaikan kebanggaan warga Kota Depok tapi juga melenyapkan situs sejarah yang sudah menjadi salah satu tanda khas kota ini. Padahal sudah cukup banyak situs sejarah dan cagar budaya di Depok yang hilang atau beralih fungsi untuk kepentingan lain.

Itu sebabnya puluhan warga Bedahan, Sawangan melayangkan surat melalui Lurah Bedahan Deden Kosasih yang intinya memprotes rencana pembongkaran gentong air bersejarah yang jadi simbol kebanggaan daerah setempat.

Meski saat ini tak terawat, keberadaan gentong air buatan Belanda itu memang masih tampak kokoh berdiri dengan ketinggian sekitar 15 meter. Tapi tak terlihat lagi rimbunan pepohonan yang dulu menemaninya.

Syamsul, salah seorang warga Bedahan, mengatakan warga tidak setuju dengan pembongkaran tong air ini karena merupakan tonggak sejarah dari Desa Bedahan. “Kami minta tong air Bedahan tetap dilestarikan.”

Pihak kelurahan dan kecamatan, lanjut Syamsul, harus meninjau kembali keberadaan tong air yang dari kejauhan berwarna coklat itu.

Tegur developer

Lurah Deden Kosasih mengakui beberapa hari lalu warga menyampaikan surat keberatan atas rencana pembongkaran tong air Bedahan. “Saya juga tak setuju bila peninggalan Belanda ini dibongkar karena jadi kebanggaan warga Bedahan,” katanya.

Tong air itu, lanjut lyrah, memang hartus dipertahankan. “Lebih baik direnovasi dan dicat kembali sehingga lebih bagus.”

Dia mengakui saat ini tong air itu sudah tak berfungsi tapi layak dipertahankan karena usianya sudah mencapai ratusan tahun yang dibangun di masa penjajahan Belanda. “Jadi tong air ini sebagi sejarah kelangsungan warga Bedahan tempo dulu dan sekarang.”

Deden menambahkan pihaknya sudah menegur secara lisan developer Perumahan Tugu Residence soal rencana membongkar tong air. Lagipula developer tersebut belum mengantongi izin dari kelurahan terkait IMB tapi sudah melakukan kegiatan.

“Karena itu kegiatan pembangunan perumahan tersebut harus dihentikan dulu sementara.”

Saat ini, menurut lurah, pihak developer itu baru meratakan tanah dan belum memulai pembangunan rumah. “Tapi jika sudah mengawali kegiatan, harusnya sudah ada izin.”

Deden mengancam jika pihak developer Tugu Residence masih melakukan aktivitasnya maka pihaknya akan segera melayangkan surat teguran secara tertulis.

Camat Sawangan Usman Haliyana juga mengingatkan developer menyelesaikan perizinan terlebih dulu termasuk IMB sebelum melakukan pembangunan

Ketika hendak dikonfirmasi, Monde tak menjumpai seorang pun di kantor pemasaran Tugu Residence yang terlihat tutup.

Butuh perda

Sementara itu Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri mengatakan, saat ini pemkot belum mampu memberikan perlindungan maksimal terhadap situs cagar budaya karena belum adanya payung hukum berupa peraturan daerah (perda).

“Kantor Pariwisata sudah mendata situs dan cagar budaya tersebut yang nantinya akan dibukukan dan diajukan menjadi raperda,” ujarnya.

Jika situs dan cagar budaya itu milik pribadi, menurut Gagah, pemkot sulit melindungi jika pemiliknya mau menjual ke pihak lain. “Gimana kita mau melindungi jika perda-nya belum ada.”

Ketiadaan perda ini pula, lanjutnya yang menjadi kendala ketika pemkot ingin melakukan perawatan. “Ini tentu terkait dengan persoalan anggaran. Hingga saat ini sama sekali tidak dianggarkan dalam APBD untuk pemeliharaan dan perawatan situs dan cagar budaya di Depok.” Gagah hanya berharap masyarakat ikut mendukung pelestarian benda-benda budaya bernilai tinggi tersebut agar tidak punah.

FPI ancam tutup Kafe Widuri

Monitor Depok, 4 Februari 2008

DEPOK, MONDE: Ketua Front Pembela Islam (FPI) Kota Depok, Habib Idrus Al-Gadrie meminta Pemkot bertindak tanpa kompromi dalam menangani persoalan tempat maksiat di Kota Depok, termasuk untuk segera menutup Kafe Widuri dan Bagabe yang ada di daerah Simpangan Depok.

“Dulu waktu ada kegiatan penghancuran miras, saya pernah Kepada Pak Yuyun (Wakil Walikota) tentang izin Kafe Widuri. Saat itu, Kepala Kantor Pariwisata,Gagah Sunu Sumantri yang sedang bersama Pak Yuyun bilang bahwa kafe itu nggak punya izin. Tapi kenapa sekarang malah Pemkot bilang bahwa kafe itu punya izin sebagai studio musik, ada apa ini?” tanya Habib Idrus dengan nada heran.

Tokoh masyarakat Kampung Lio itu kembali mempersoalkan mengenai hal tersebut menanggapi pernyataan Kepala Satpol PP Kota Depok, Sariyo Sabani bahwa Kafe Bagabe dan Widuri mengantongi izin studio musik dari Kantor Pariwisata Seni dan Budaya (Monde 3/1).

“Kalau memang ada izin, berarti Kantor Pariwisata selama ini telah melegalkan terjadinya kemaksiatan di Depok. Walikota harus bisa bersikap tegas, terhadap anak buahnya.”

Sementara itu megenai pernyataan Kasie Kecamatan Sukmajaya, Tjutju Supriawan yang mengatakan bahwa pihak kecamatan akan meminta pengelola kafe untuk mengembalikan izin yang dimiliki, agar kembali menjadi studio musik, dinilai Habib Idrus sebagai formalitas semata.

“Saya minta agar Satpol PP segera menutup kafe tersebut. Tidak ada istilah mengembalikan izin atau sejenisnya, karena selama ini jelas-jelas kafe itu digunakan sebagai tempat maksiat. Jika Satpol PP tidak mampu, maka FPI yang akan turun,” tandasnya.

Habib mengatakan, seharusnya Walikota Nur Mahmudi Ismail malu telah membiarkan kemaksiatan merajalela di Kota Depok.

“Walikota Nur Mahmudi itu kan diusung oleh Partai Islam. Harusnya malu kepada partai yang mengusungnya karena tetap membiarkan berkembangnya tempat maksiat di Depok,” tutur Habib Idrus.

Pemerintahan di zaman Walikota Badrul Kamal, menurut Habib Idrus, justru lebih berani menumpas kemaksiatan. “Dulu Walikotanya dari partai yang nasionalis, sekarang dari partai Islam. Kok lebih berani Walikota dari partai nasionalis daripada Walikota sekarang,” ujarnya.

Desember 2007

Hari ini, Pemkot gelar festival seni budaya

Monitor Depok, 29 Desember 2007

DEPOK, MONDE: Kantor Seni dan Pariwisata menggelar Festival Karya Seni Budaya Kota Depok yang akan dimulai hari ini hingga 31 Desember mendatang, dipusatkan di halaman Balaikota.

Festival ini merupakan rangkaian kegiatan sebelumnya pada tanggal 17 Agustus lalu, berupa bedah buku yang digelar di Graha Insan Cita.

Menurut Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri, Festival Karya Seni Budaya Kota Depok 2007 ini merupakan suatu bentuk refleksi dari berbagai kegiatan yang telah digelar di Depok sepanjang tahun ini.

Adapun bentuk kegiatan lain yang digelar adalah pameran, pawai, sarasehan, serta bermacam perlombaan, a.l lomba lukis, lomba belimbing terbesar, serta karnaval delman.

Gagah mengungkapkan Festival Karya Seni dan Budaya ini akan diikuti oleh seluruh dinas dan kantor di lingkungan pemkot, termasuk dari enam kecamatan, para pelaku usaha, serta masyarakat umum.

“Kegiatan ini semacam kaleidoskop dari pemkot untuk menginformasikan kepada masyarakat tentang kinerja selama 2007, baik oleh pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat sendiri,” ujarnya.

Sementara itu pada 31 Demenber mendatang, menurut Gagah, juga akan dilakukan diskusi dan sarasehan di Hotel Bumi Wiyata, membicarakan tentang hal apa yang harus dilakukan pemkot dan pelaku usaha menghadapi 2008 mendatang.

Pembukaan pameran dilakukan langsung Walikota Nur Mahmudi Ismail, besok. Sementara itu, pada 30 Desember akan digelar pawai dari peserta festival yang akan dimulai dari Jl Juanda hingga ke Balaikota.

Nantinya kata Gagah, peserta pawai juga akan diberi penilaian, termasuk penilaian dari juri kehormatan yaitu Walikota Depok. Para pemenang pawai nantinya akan mendapat hadiah menginap di Pulau Seribu selama satu malam.

Lebih lanjut Gagah mengatakan kegiatan Festival Seni Budaya ini akan dilaksanakan setiap tahun, dan jika berjalan dengan baik maka direncanakan sebagai salah satu kegiatan pariwisata Kota Depok.

Sementara itu, persiapan pawai dari para peserta dari masing-masing kecamatan di Kota Depok juga sudah siap menyambut hari-H. Seperti di Kecamatan Limo, karakter khas wilayah sudah siap dipertunjukkan dalam arak-arakan. “Secara garis besar Limo siap menampilkan arak-arakan yang terbaik,” kata Lurah Gandul, Mawardi.

Dijelaskannya, untuk Kelurahan Gandul sudah mempersiapkan tim Tanjidor dan ondel-ondel untuk ikut dalam arak-arakan. “Lebih kurang 20 orang di luar para pemain sudah siap ikut arak-arakan,” kata Mawardi.(m-5/mr)

Januari 2008

Satpol PP siap segel Kafe Widuri. FPKS: Aparat mesti serius

Monitor Depok, 15 Januari 2008

BALAIKOTA, MONDE: Kepala Satpol PP Kota Depok, Sariyo Sabani menegaskan instansinya segera menutup dan menyegel kafe Widuri dan panti pijat (PP) karena dinilai telah meresahkan warga.

Sementara, Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya (Parsenibud) Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri mengatakan kafe itu tak penah memiliki izin.

“Hari ini (kemarin-Red) saya sudah menugaskan anggota untuk memeriksa kafe tersebut. Kalaupun memang ada izin, harus dilihat dulu siapa yang mengeluarkan izin. Kalau camat atau lurah mengeluarkan izin, apa dasarnya, sebab tempat seperti itu jelas telah meresahkan warga,” kata Sariyo saat ditemui Monde, kemarin.

Seandainya, katanya, pemiliknya memiliki IMB atau Izin Pemanfaatan Ruang (IPR), harus dijelaskan dulu usahanya untuk apa. Dia menuturkan, semua orang memang berhak mencari nafkah, “Tapi tidak boleh melanggar atauran dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Apalagi menyangkut norma agama dan sosial.”

Selanjutnya, menurut dia, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan instansi terkait, misalnya Kantor Pariwisata Seni dan Budaya untuk mengecek perizinan tempat itu. “Kalau ternyata tidak ada kami minta pemiliknya menutup dengan sukarela atau Satpol PP yang turun menutupnya,” katanya.

Sariyo sendiri berterima kasih kepada warga yang punya perhatian serius terhadap masalah ini. Namun ia meminta masyarakat tidak bersikap anarkis dalam permasalahan ini.

Sementara, Gagah Sunu Sumantri menegaskan instasinya sejak awal tak pernah memberikan izin kepada pemilik kafe.

“Sama sekali tidak ada izin. Kalau pemiliknya atau Lurah bilang izinnya habis Februari, izin yang mana? Coba dibuktikan kalau memang ada,” ujarnya saat ditemui Monde, kemarin.

Kantor Parsenibud , menurut dia, tidak pernah memberikan izin karena tempat itu digunakan sebagai diskotik. “Dalam Perda tidak diatur pemberian izin untuk diskotik,” katanya.

Selama ini, katanya, Kantor Parsenibud hanya sebatas memberikan izin kepada rumah makan, restoran, tempat biliard, biro perjalanan dan travel, kolam renang, dan tempat-tempat wisata lainnya.

Selama ini, menurut dia, memang ada tempat-tempat tersebut yang menyalahgunakan izin yang diberikan. Misalnya izin untuk rumah makan malah digunakan sebagai diskotik. “Ini pernah terjadi tahun 2006 lalu dan kami langsung mencabut izin yang diberikan,” katanya. Biasanya hal tersebut didahului dengan tiga kali surat peringatan.

Terkait kasus Kafe Widuri dan panti pijat yang ada di Sukamaju, menurut dia, sama sekali belum pernah dikeluarkan izin. “Kami juga tidak bisa memperingatkan pemiliknya, karena Kantor Parsenibud sebelumnya tidak memberikan surat izin. Jadi kalau Satpol PP mau menutup dan menyegel kafe tersebut, silakan saja,” katanya.

Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Amri Yusra meminta kepada pemerintah dan aparat serius dalam menindaklanjuti permasalahan tersebut. “Polisi dan pemerintah mesti menuntaskan masalah ini. Sudah dalam taraf meresahkan masyarakat sekitar. Kalau memang menyimpang harus ditindak tegas, tanpa mesti tunggu laporan masyarakat, ” jelasnya.

Oleh karena itu, katanya, dia mempertanyakan keseriusan dari pemerintah dan aparat dalam penuntasan masalah tempat maksiat tersebut.

Mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Depok, yang akan menjadikan kota ini sebagai kota perdagangan dan jasa yang religius maka arti kata religius menurutnya harus dijunjung tinggi. “Nilai agama harus dijunjung tinggi.”

Sementara itu, Ketua Fraksi FPKS Supariyono mengatakan ada ataupun tidak ada izin untuk bangunan tersebut bila memang terjadi penyimpangan maka harus ditutup dan ditindak tegas. Karena, menurut dia, keberadaan tempat itu sudah sangat meresahkan warga setempat. “Walaupun ada izin tapi ada penyimpangan, maka tetap harus ditindak,” ucapnya.(m-5/why)

Gagah peduli musik indie

Monitor Depok,14 Januari  2008

Tahun 2007 memang sudah lewat.

Tapi bukan berarti tidak menyisakan apa-apa. Setidaknya Depok Indie Scene, komunitas band indie Depok, mengawali 2008 dengan manis.

Ucapan itu meluncur dari Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri, kemarin. Menurutnya, meski pada masa awalnya, band indie sering nyeleneh, bahkan cenderung aneh, tapi mereka tetap berani mengedepankan kebebasan dalam urusan bermusik.

“Dengan pemeo do it yourself, boleh dibilang mereka mengurus dirinya sendiri dari soal bikin musik dan lagu, rekaman, sampai pemasaran,” ujar Gagah.

Hal itu membuat dirinya bersama seluruh jajaran Pemkot Depok berusaha memberi ruang bagi komunitas indie di Depok a.l dengan pembinaan dan promosi.

“Kita telah mendapatkan komitmen dari Hotel Bumi Wiyata, untuk menampilkan band-band lokal Depok di setiap acara yang digelar. Ke depannya, seluruh cafe di Depok pun akan kita arahkan kesana.”(ap)

Depok Indie Scene. Festival musik unik & tak biasa

Monitor Depok, 14 Januari 2008

Panmas, Monde: Pertama kali digelar tahun ini, komunitas Depok Indie Scene sukses menggelar pesta musik indie di Depok.

Ya, kemarin, digelar sebuah festival musik seru dan tidak biasa. Depok Indie Scene 2008, demikian tajuk acaranya. Kenapa tidak biasa? Karena festival musik ini diperuntukkan khusus untuk band-band indie Depok, kota yang diyakini sebagai kota yang produktif melahirkan band-band indie berkualitas. Selain itu, ada launching album kompilasi 17 band Indie Depok.

Awan mendung yang menyelimuti Kota Depok, kemarin sore, menghadirkan suasana yang cukup nyaman untuk acara kumpul-kumpul di luar ruangan. Tidak heran kalau kemudian para pencinta musik indie rela berkumpul di tengah parkiran Plaza Depok, meski saat itu gerimis membasahi Plaza Depok.

Tepat pukul 14.00, MC Bocor langsung muncul dan menyambut ratusan penonton yang sudah berkerumun di sekitar panggung. Penampilan hari itu dimulai dengan penampilan Raqet. Personel-personelnya muncul di panggung lengkap dengan busana yang dipenuhi warna gelap.

Usai membawakan 2 buah lagu, MC Bocor memanggil Daylight, band asal Bogor untuk sharing pengalaman.

Indie memang tak mengenal batas. Dari style mereka saja langsung tampak keanekaragaman dari dunia Indie.

Tepuk tangan meriah diiringi senyum para personel band terkembang saat Kepala Dinas Pariwisata, Seni & Budaya Kota Depok, Gagah Sunu Sumantri, meresmikan komunitas Depok Indie Scene.

Gagah menyambut positif event yang diprakarsai Bias Production itu.

“Ini aset pariwisata Depok. Pariwisata akan hidup dengan seni,” ujarnya.

Pertunjukan sore itu belum selesai sampai disitu.

Berbagai warna musik, mulai dari rock n’ roll, brit pop, gloomy pop, rock melayu hingga tekno, membuat ratusan penonton ikut bergoyang hingga pukul 20.00 malam. “Tak ada perbedaan. Kita semua bersaudara. Hidup musik Indie,” ucap Hanna, seorang penonton asal Depok Timur.(ap)

November 2007

Final Pemilihan Mojang Jajaka Jawa Barat, Abang Depok raih juara favorit

Monitor Depok, 23 November 2007

Malam final pemilihan Mojang Jajaka (Moka) Jawa Barat menobatkan pasangan Iqbal Nugraha asal Kuningan dan Dwi Suci Andika dari Kabupaten Purwakarta sebagai pemenang pertama.

Fatir Fajar Sidiq dan Tiara Astari, wakil Moka dari Kota Depok terpilih menjadi pe-serta favorit versi poling SMS dan menempati juara harapan II, serta masuk ke sepuluh finalis.

Acara pemilihan Moka 2007 yang berlangsung di gedung serba guna Penue Eldorado, Rabu (21/11) malam diikuti perwakilan dari 26 kabupaten/kota se-Jawa Barat.

Meski gagal meraih gelar Moka 2007, tak membuat Fatir dan Tiara berkecil hati. Kepada Monde Tiara menuturkan, meskipun dirinya tak meraih predikat Mojang Jawa Barat 2007, ia bangga lantaran tetap menjadi pemenang.

“Aku rasa, saya masih memiliki kelebihan, yang tak dimiliki pemenang yang berhasil menyandang gelar Mojang,” ujar Tiara.

Hal senada dituturkan Fatir. Ia tetap merasa bersyukur.

“Menjadi peserta terfovorit dan menyandang juara harapan II pun bagi saya sudah alhamdullilah,” katanya.

Sementara Kepala Kantor Pariwisata Kota Depok Gagah Sunu Sumantri melalui Kepala Seksi (Kasi) Seni dan Budaya Undang Hidayat, Kepada Monde menuturkan bahwa ajang pemilihan Moka Jajaka memang cukup Kompetitif.

Ia pun tak merasa kecewa meskipun wakil asal Depok belum meraih gelar Mojang Jajaka Jawa Barat.

Dapat masuk dalam 10 besar finalis ditambah kemenangan Fatir menyabet dua juara masing-masing peserta terfavorit dan juara harapan II merupakan prestasi cukup bagus.

Sebagai Kasi Seni Budaya Kantor Wisata Kota Depok, Undang pun akan terus memotivasi para remaja untuk berprestasi.(ina)

Juli 2007

Fathir & Tiara, Abang & Mpok Depok 2007

Monitor Depok,30 Juli 2007

BUMI WIYATA, MONDE : Malam final pemilihan Abang dan Mpok yang berlangsung di Hotel Bumi Wiyata Sabtu akhir pekan lalu yang menobatkan pasangan Fathir Fajar Sidiq dan Tiara Astari sebagai Abang dan Mpok Kota Depok 2007.

Sementara untuk kategori Wakil 1 Abang dan Mpok Depok masing-masing diraih oleh Adam Isa wakil dari Panmas dan Distya T.Endri asal Beji. Wakil II diraih Denny Irawan Zakno dan Cindy Vera GK yang keduanya wakil Cimanggis. Untuk kategori wajah photogenic diraih Pebbi M Kadapi asal Cimanggis dan untuk kategori peserta favorit disandang Desy Is Anugrah.

Abang Depok terpilih Fathir, yang merupakan alumni dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) kepada wartawan menuturkan, kemenangannya merupakan bukti bahwa tidak seluruhnya alumni IPDN memiliki reputasi negatif.

“Sebagai alumni IPDN saya akan membuktikan, bahwa saya bisa berkiprah secara positif. Dengan terpilihnya jadi Abang Depok, akses saya lebih terbuka untuk turut membangun Depok,” katanya seusai acara malam pemilihan.

Hal senada dituturkan Mpok 2007 terpilih Tiara, yang saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Bina Nusantara.

Gadis yang memiliki hobi main piano dan membuat puisi ini mengaku bangga terpilih. Dengan menyandang Mpok Depok 2007 dia pun berharap mampu memberi kontribusi lebih dalam membangun Kota Depok.

Acara pemilihan Abang dan Mpok berlangsung cukup meriah, dihadiri Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail beserta Ibu Nur Azizah, Sekdakot Winwin Winantika, Kepala Kantor Pariwisata Depok Gagah Sunu Sumantri, dan Wakil Ketua DPRD Kota Depok Amri Yusra.

Malam final pemilihan Abang dan Mpok 2007 juga dipenuhi warga Depok dan sekitarnya. Tak jarang sejumlah pengunjung dari kalangan anak muda meneriakkan para Abang dan Mpok yang mereka jagokan.

Dalam sambutannya Walikota berharap mampu memunculkan sosok teladan sebagai duta yaitu duta yang memiliki keseimbangan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ) sehingga mampu berperan sebagai duta wisata yang akan mewakili Depok pada ajang kompetisi Mojang dan Jejaka Jawa Barat pada Agustus 2007.

Nur pun berharap agar para finalis membudayakan kebersihan, keindahan, kesehatan dan ketertiban yang pada akhirnya dapat menjadi manusia yang secara jasmani dan rohani berperilaku bersih, bermoral serta bermental baik.

Lebih baik

Anggota tim juri pemilihan Abang dan Mpok Depok 2007 yang juga dosen Antropologi dari UI, Jajang Gunawijaya kepada Monde menuturkan, kualitas peserta pemilihan kali ini mulai membaik.

“Saya melihat, dari tahun ke tahun kemampuan yang dimiliki para peserta Abang dan Mpok makin bagus dan merata dimiliki semua peserta. Hal itu merupakan sebuah indikasi positif tentunya,” tutur Jajang yang mengaku telah beberapakali menjadi juri pemilihan Abang dan Mpok.

Indikasi positif itu, menurutnya, makin menepis anggapan sebagain masyarakat selama ini, bahwa pemilihan Abang dan Mpok hanya sekedar ajang pamer kecantikan atau ketampanan saja.

Dengan makin membaiknya kualitas para peserta Abang dan Mpok Depok, lanjut Jajang, akan membuka peluang wakil dari Kota Depok merebut kemenangan sebagai Mojang dan Jejaka tingkat Jawa Barat.

Sementara itu Kasie Kantor Pariwisata dan Seni Budaya Kota Depok, Undang Hidayat menuturkan, dengan terpilihnya Abang dan Mpok Depok 2007 pihaknya akan segera memberikan pembekalan untuk persiapan menuju pemilihan Mojang dan Jejaka 2007.(m-7)

Juli 2007

Setu Asih Pulo jadi obyek wisata

Monitor Depok,2 Juli 2007

RANGKAPAN JAYA, MONDE: Obyek wisata air di Depok bertambah satu. Walikota Nur Mahmudi Ismail, kemarin meresmikan Setu Asih Pulo di Kelurahan Rangkapan Jaya Pancoran Mas sebagai obyek wisata air yang diharapkan mampu menambah pemasukan daerah.

Sebelumnya Depok sudah punya dua obyek wisata air yaitu Setu Pengasinan Sawangan dan Setu Citayam Pancoran Mas. Pemkot Depok berharap ke depan keberadaan daerah resapan air yang jumlahnya 30 setu dapat diberdayakan.

Keberadaan sarana wisata Setu Pulo Asih memang telah dirindukan banyak warga Rangkapan Jaya.

Setidaknya dengan adanya wisata air ini warga tidak perlu mengeluarkan energi lebih karena telah ada di daerah sendiri. Wisata air ini memang layak disyukuri karena biayanya sangat terjangkau.

“Nantinya setiap warga yang mempergunakan sarana di sini (Setu Asih Pulo –Red) dikenai retribusi, tetapi terjangkau,” jelas Mahmudin Sudin, Ketua Pokja Setu Asih ketika ditemui Monde sebelum peresmian kemarin.

Mahmudin mengatakan sebenarnya wacana menuju wisata setu telah lama digagas, tetapi baru kali ini terealisasi. Ia mengatakan persiapan menuju setu wisata air telah dilakukan sejak Oktober 2006. Terlalu banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum Setu Pulo Asih menjadi wisata air.

Untuk mempersiapkan Setu Pulo Asih menjadi wisata air telah menghabiskan anggaran Rp300 juta yang berasal dari swadaya masyarakat dan Lempalhi.

Sebelum secara resmi menjadi wisata air dalam jangka waktu tiga bulan akan dilakukan uji coba terlebih dulu atau promosi. “Selama masa promosi pengelola belum dapat memberikan kapastian berapa retribusi yang diambil dari pengguna sarana hiburan,” tambah Mahmud.

Sarana yang diberikan di wisata air ini adalah getek satu buah dan parahu bebek atau sepeda air sebanyak empat buah. Untuk menjamin keselamatan pengunjung, pihak pengelola menyediakan alat penyelamat berupa pelampung. Nantinya setiap orang diimbau menggunakan pelampung demi keselamatan jiwa.

Setidaknya ada 17 pelampung yang telah disiapkan oleh pengelola setu dimana 13 pelampung dari Depok Rescue dan sisanya dari Lempalhi. Jika memang mendukung, setiap pengunjung akan dikenai retribusi Rp3.000 per orang untuk sepeda air dan Rp2.000 untuk getek.

“Untuk menunjang agar setu terkesan lebih eksotis kami berencana menaruh ikan hias yang berwarna sehingga menjadi pemandangan menarik,” tambah Mahmud.

Terpisah, Gagah Sunu Sumantri, Kepala Kantor Pariwisata, Seni, dan Budaya menjelaskan dengan adanya tambahan sarana wisata ini sangat berpotensi menjadi kelebihan Kota Depok.

“Masih banyak setu yang tidak terawat, maka dari itu kami berharap semua setu di Depok secara keseluruhan bisa menjadi wisata air yang patut dibanggakan,” jelasnya.

Keberadaan wisata air ini pun berpotensi bagi pendapatan Pemkot Depok yang dampaknya bisa dirasakan semua kalangan. Jika PAD bisa masuk maka secara tidak langsung keberadaan wisata air berperan dalam pembangunan Kota Depok.

Dengan rencana tol yang akan melewati Rangkapan Jaya maka keberadaan Setu Asih Pulo sangat berpotensi dan berpeluang besar menjadi hiburan alternatif.(m-8)

Maret 2007

Forum TKIMAI temu karya arsitektur

Monitor Depok, 1 Maret 2007

MARGONDA, MONDE: Forum Komunikasi Temu Karya Ilmiah Mahasiswa Arsitektur Indonesia (FK-TKIMAI) menggelar temu karya ilmiah dan forum komunikasi nasional, 24 Februari-4 Maret 2007.

Pembukaan kegiatan yang bertema Pemukiman masyarakat sekitar Tempat Pembuangan Sampah Akhir ini berlangsung di Margo City, Selasa (27/2).

Kabid Seni, Budaya, Generasi Muda, dan Olahraga Dinas Pendidikan Kota Depok Gagah Sunu Sumantri menyambut baik kegiatan ini dan meminta para peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mau memperhatikan kondisi Kota Depok. “Mungkin para peserta bisa ikut serta dalam upaya pembangunan Depok.”

FK-TKIMAI merupakan wadah mahasiswa arsitektur seluruh Indonesia. Saat ini forum itu sudah beranggotakan lebih dari 150 institusi yang terdapat jurusan ilmu arsitektur dari seluruh Indonesia.

Kegiatan yang sudah ke-23 kalinya ini merupakan acara rutin yang dilaksanakan setiap tahun di berbagai rayon yang ditunjuk sebagai tuan rumah. Rangkain kegiatan a.l. pameran arsitektur hasil karya peserta, seminar nasional, diskusi ilmiah, pengabdian masyarakat, arsitektur nusantara, bursa arsitektur, demo teknologi, talkshow, pemutaran film tentang arsitektur, media komunikasi, forum komunikasi, dan lomba design.

Melalui pameran hasil karya arsitektur yang menampilkan maket dan gambar, peserta bisa melihat hasil karya peserta lain sehingga dapat saling bertukar ilmu dan pengetahuan tentang arsitektur.

“Akan terlihat keberagaman hasil karya peserta dari berbagai daerah. Nah, dari situ kan kita bisa saling tukar ilmu dan pengalaman,” ungkap SC Panitia FK-TKIMAI Hilman Setiawan.

Dalam kegiatan pengabdian masyarakat, peserta langsung terjun ke masyarakat sekitar TPA Bantar Gebang untuk mengetahui kondisi masyarakat di sana dan nantinya mengaplikasikan ilmu yang dimiliki sesuai dengan kondisi di lapangan.(m-9)

Februari 2007

Depok bisa jadi etalase Budaya Sunda

Monitor Depok, 25 Februari 2007

BEJI, MONDE: Sebagai salah satu kota penyangga Ibukota Jakarta, Depok diharapkan mampu menjadi etalase kebudayaan Jawa Barat atau Sunda sehingga bagi warga Jakarta yang ingin melihat kebudayaan Jabar tidak perlu jauh-jauh ke kota lain seperti Bandung.

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Seni Budaya, Generasi Muda, dan Olahraga Dinas Pendidikan Kota Depok Gagah Sunu Sumantri.

“Namun perlu ada usaha mencapai ke arah sana, misalkan memunculkan kebudayaan-kebudayaan yang ada melalui pergelaran-pergelaran yang ditampilkan siswa-siswa sekolah.”

Dikatakannya, dari tiap sekolah bisanya memiliki kegiatan ekstrakulikuler di bidang seni budaya yang telah meraih prestasi di berbagai ajang misalnya tari-tarian, alat musik, pakaian yang kesemuanya bearsal dari Jabar.

“Kita bisa membuat suatu wadah atau ajang unjuk kebolehan tingkat kota misalnya karena selama ini belum ada wadah seni dan budaya di tingkat kota. Kemudian tiap sekolah di Depok bergiliran tampil dalam satu waktu tertentu.”

Menuruh Gagah, sekolah di Depok cukup banyak, jika dalam waktu seminggu ditampilkan dua sekolah, kemungkinan satu sekolah tampil satu kali dalam dua tahun dan dua tahun berikutnya dapat tampil kembali.

“Ini kan tidak mengganggu proses belajar mengajar di sekolah, bahkan menjadi sarana promosi menampilkan kemampuan tiap sekolah dan silaturahmi antarsekolah se-Kota Depok.”

Suatu saat, kata dia, jika ada event seni budaya tingkat Provinsi Jabar, Depok tidak perlu lagi susah-susah mencari atau menunjuk sekolah tertentu mewakili Depok karena telah memiliki aset yang teruji.

“Saat sosialisasi program seni budaya, generasi muda, dan olahraga ke tiap sekolah, sekolah dan siswa antusias mengenai rencana ini karena biasanya siswa hanya bisa tampil saat kegiatan sekolah seperti perpisahan, hari besar, dan ulang tahun sekolah.”

Menurut pandangan Gagah, kegiatan ini juga bisa membantu sekolah yang akan menjalani proses akreditasi. Dengan adanya prestasi akan menjadi penilaian tersendiri untuk mendapatkan akreditasi.(m-9)

Mei 2005

KPUD: Partai Demokrat Tidak Bisa Ganti Calon

TEMPO Interaktif, Senin, 16 Mei 2005

TEMPO Interaktif, Depok: Kepala Bidang Pencalonan KPUD Depok, Yulizar menyatakan, sudah tertutup kesempatan bagi Partai Demokrat untuk mengganti calonnya yang akan berlaga dalam pemilihan kepala daerah tanggal 26 Juni mendatang. Sebab, waktunya sudah lewat. “Kami hanya akan memverifikasi pasangan Wahab dan Ilham,” kata Yulizar kepada Tempo dikantornya, Depok, Senin (16/5).

Wahab dan Ilham dimaksud adalah Abdul Wahab Abidin dan Ilham Wijaya. Yulizar mengatakan pihaknya sudah menunggu rekomendasi untuk pasangan Gagah Sunu Sumantri dan Agung Witjaksono hingga Jumat (13/5) pukul 24.00 WIB.

Sebelumnya, staf ahli DPP Partai Demokrat, Bambang Nuryanto, menyatakan akan mengeluarkan rekomendasi baru bagi Gagah dan Agung sebagai calon wali kota dan wakil wali kota Depok. “Surat itu sekaligus menarik rekomendasi No. 34/RKMD/DPP PD/IV/2005 terhadap Abdul Wahab Abidin dan Ilham Wijaya,” katanya Kemarin, Minggu (15/5).

Bambang mengatakan, rekomendasi No. 34 itu sebagai kesalahan teknis. “Kami sangka Abdul dan Ilham adalah kader Partai Demokrat, ternyata bukan,” kata Bambang yang menyatakan akan mengirimkan surat rekomendasi awal minggu ini. l suliyanti

Partai Demokrat Dukung Abdul Wahab-Ilham Wijaya

TEMPO Interaktif, Jum’at, 06 Mei 2005 | 22:04 WIB

TEMPO Interaktif, Depok: Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Agung Wicaksono batal maju dalam bursa pemilihan Wali Kota Depok. Agung yang dipasangkan dengan Gagah Sunu Sumantri mendaftar sebagai calon wakil wali kota dan wali kota, atas nama Partai Demokrat.

Namun, Jumat (6/5) sore, juru bicara tim kampanye Partai Demokrat Benny Gerungan mengantarkan surat resmi berisi klarifikasi yang diteken Ketua Umum Partai Demokrat S. Budhisantoso dan Sekretaris Jenderal E. E. Mangindaan.

DPP Partai Demokrat merekomendasikan Abdul Wahab Abidin sebagai calon wali kota dan Ilham Wijaya sebagai calon wakil wali kota. April lalu, dua pasangan calon sama-sama mendaftar sebgai utusan dari Partai Demokrat.

Menurut Ketua Bidang Pencalonan Komisi Pemilihan Umum Daerah Kota Depok Yulizar, surat DPP Partai Demokrat menjadi acuan untuk meloloskan pasangan Abdullah dan Ilham.

Bakal calon Agung Wicaksono yang gugur dalam verifikasi tahap pertama, mengaku belum menerima surat dari Dewan Pimpinan Pusat Partainya yang mengesahkan rivalnya, Abdullah Wahab Abidin dan Ilham Wijaya. “Saya masih dalam posisi menunggu keputusan DPP dan KPUD,” katanya kepada Tempo, Jumat (6/5).  Suliyanti Pakpahan-Tempo

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

The Shocking Blue Green Theme. Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: