Profil Tokoh DEPOK

Heri Syaefudin

Heri Syaefudin

Desember 2008

Gathering Komunitas Puring, Gonku Landscape & Stock Plant-Sawangan, 13 Desember 2008

Setelah sempat diundur karena menyesuaikan waktu dengan teman2 yang hadir, akhirnya gathering tahap kedua dilaksanakan tanggal 13 Desember 2008 bertempat di Gonku Nursery, Sawangan. Rencana semula acara dibuka pukul 9 pagi namun karena banyak teman2 yang nyasar, akibatnya mulur sampai jam 11, ooaalahhh…. Akhirnya kumpul jg deh sekitar 20 orang, lumayan..

Pertemuan kali ini berfokus pada pembentukan organisasi Komunitas Puring dan problematika industri puring. Organisasi atau paguyuban ini hendaklah merupakan bentuk wadah komunitas yang jelas dan terarah, bukan asal – asalan hanya mengikuti tren saja. Anggota komunitas puring saat ini ada sekitar 100 orang, terdiri dari anggota pasif dan aktif. Diputuskan untuk pembentukan pengurus berasal dari anggota yang hadir saat gathering ini, untuk pengembangannya ditentukan kemudian. Adapun pengurus yang terbentuk adalah :

Ketua : Heri Syaefudin (Gonku Landscape)

Wakil Ketua : Zulfikar

Sekretaris : Novilia

Bendahara : Ary

Humas : Didi, Briliantoro, Silo, Pashya, Andri, Firdaus

Semoga kepengurusan ini dapat berjalan dengan lancar dan pastinya perlu dukungan dari teman2 semua.

Ada masukan dari Bpk. Heri mengenai segmentasi komunitas puring ini. Karena tanaman puring sendiri terdiri dari berbagai kelas dari kelas harga murah (tanaman proyek) sampai harga selangit (kolektor item). Apakah akan berfokus pada pelestarian plasma nuftah (puring2 asli Indonesia), orientasi bisnis atau hanya sekedar koleksi. Pembahasan mengenai hal ini belum terjawab karena lebih tertuju pada pembentukan pengurus terlebih dahulu.

Image tanaman puring saat ini masih terpuruk karena masih dianggap sebagai tanaman kuburan. Mungkin belum banyak orang yang tertarik untuk menghiasi taman atau sudut rumahnya dengan tanaman puring gara2 image tersebut. Maka dengan adanya Komunitas Puring ini diharapkan mampu mengangkat image atau derajatnya menjadi lebih terhormat lagi dan masyarakat pun tidak ragu tuk mensejajarkan puring dengan aglaonema atau jenis tanaman koleksi lainnya. Amiieennn…

Bpk. Briliantoro concern mengenai identifikasi puring secara genetik, karena yang beredar saat ini sudah tidak jelas asal – usulnya. Belum ada informasi yang baku dan tepercaya mengenai silangan2 puring. Namun sepertinya hal itu sulit sekali tuk dilakukan, mengingat jenis yang ada ini mungkin sudah hasil silangan beberapa generasi indukan. Sulit sekali dicari puring yang benar2 species (asli) dari sekian banyak jenis, kecuali mungkin orang2 LIPI yang berkompeten mengurusi hal ini.

Hal yang paling mungkin dilakukan adalah identifikasi berdasarkan bentuk fisiknya (bentuk daun, warna, motif, dll). Jenis puring berdaun lebar dikelompokkan dengan jenis daun lebar, dan selanjutnya.

Penamaan puring pun belum ada standarisasinya. Dari satu jenis puring yang sama dapat ditemui nama yang berbeda2. Hal ini tentu saja membuat bingung. Semoga dengan adanya Komunitas Puring ini ada usaha2 untuk perbaikan yang lebih baik. Mungkin bisa saja diadakan pertemuan Puringers seluruh Indonesia untuk membahas standarisasi penamaan puring sehingga terbentuk nama yang baku.

Selama ini pelaku bisnis tanaman di Indonesia tergantung pada Thailand, India dan lain2 untuk pemenuhan terhadap tanaman puring. Alangkah lebih baik jika kita pun memperhatikan puring2 jenis local yang banyak sekali beredar. Jenis2 puring Indonesia pun tidak kalah menarik. Sudah saatnya kita melepas ketergantungan pada Thailand dan mulailah untuk mencari pangsa pasar di luar negeri. Sebenarnya tidak ada salahnya bila kita mengimport dari luar negeri, namun apabila hal itu menjadi kecanduan tentu tidak ada manfaatnya bagi pertanian kita.

Ada teman, Ibu Siti dari Sukabumi yang memang berorientasi ekspor. Menurut beliau, permintaan akan puring di Korea dan China lumayan tinggi. Hanya saja karena saat ini masih musim salju dan adanya krisis global, ekspor tanaman belum dilakukan lagi. Sambil menunggu, beliau giat berproduksi puring. Yang diminati adalah puring yang sudah diokulasi beberapa jenis, jadi pada satu tanaman akan terbentuk berbagai macam jenis. Tentu saja jenis puring local karena puring2 koleksi harganya sangat tidak terjangkau. Ibu Siti sudah mengusahakan untuk bermitra dengan petani2 di Cipanas, namun hanya sedikit saja yang mampu memenuhi pesanan puring okulasi sesuai dengan standar bakunya. Sehingga saat ini beliau terpaksa memproduksi sendiri. Ada teman2 yang berminat jadi mitra ???!!!

Semoga apa yang sudah didiskusikan bukan wacana semata, perlu ada effort dan support dari semua pihak. Semangat ya guys..!!!

Ditulis oleh : Novillia – Komunitas Puring Indonesia

Gathering Komunitas Puring, Taman Suropati, 26 Oktober 2008

Kronologis

Jam 10.00 pagi, semua peserta yg sudah confirm mulai nongol satu persatu. Dimulai dengan Bu Yenny (Bekasi).Berikutnya Mas Ophyt (Ciputat), Mas Alan (Cibinong) ngebawa pasukan plus Juragan Puring dari CIbinong – Pak Didi. Gak lama nongol pula Mba Ully dengan “pasukannya”.

Seperti yang udah diinformasikan sebelumnya, Mas Budi dari Majalah Flona ikutan nimbrung.

Wuiiih… makin tambah seru. Soale diliput MEDIA !.

Acara dimulai dengan mengangkat isu pembentukan “Organisasi Puring”. Perbincangan semakin hangat, karena dari Bu Yenny yang notabene-nya hobiis puring sejati juga ikut bicara. Bu Yenny rupanya dah lama koleksi puring, dari yg beli di Mba Ully sampe yang boleh minta ama tetangga

Mas Alan ikutan bicara, “pembentukan organisasi itu bukan hal yang buruk, akan tetapi kita perlu pikiran pula apakah akan berjalan efektif atau tidak?”.

Senada dengan Mas Alan, Mba Ully juga berkata seperti itu.

Pak Didi : “lebih baik kita fokus kepada bagaimana menyerap pendapat/aspirasi dari para pelaku pasar yg sudah cukup paham masalah puring”.

Melihat kecenderungan yang kurang positif dengan isu “Orgasisasi Puring” ini saya berusaha untuk mengambil kesimpulan bahwa untuk sementara waktu kita kesampingkan ide pembentukan organisasi ini. Berjalan sealami mungkin dalam bingkai komunitas, berusaha memberikan yang terbaik walau sekecil apapun.

Perbincangan beralih ketopik “Nama Dagang” alias penamaan puring. Seperti yang udah semua tau, penamaan puring ini udah bikin kepala pusing makin nambah “mumet” . Walau barangnya sama, tapi nama dagang berbeda . Ngejlimet !

Mas Budi dari Majalah Flona juga ikutan bicara mengenai penamaan ini. Mas Budi pernah punya pengalaman ditunjukin suatu jenis puring dengan nama dagang tertentu yang di klaim hasil silangan dari seseorang (katakan saja “A“) yang sama persis bentuk daun, corak, warna dan identitas yang melekat lainnya dengan jenis puring yang diklaim merupakan hasil silangan hobiis “B“.Terjadilah saling klaim mengklaim. Padahal menurut pandangan Mas Budi keduanya merupakan jenis puring yang sama alias ga beda. Weleh.. .Weleh..!

Kesimpulan untuk diskusi dengan topik penamaan puring ini kita serahkan kembali ke pasar/para pelaku dan hobiis puring. Karena penamaan yang carut-marut ini ternyata ga cuma dialamin oleh Puring, Jenis tanaman hias lain jg ngalamin. Ambil contoh Sansievera. Dalam suatu diskusi milis, kesamaan nama satu jenis sansievera akan berbeda ketika berada ditangan orang yang berbeda.

Beranjak ke topik tentang pengaruh negeri Thailand dalam dunia tanaman hias di Indonesia . Belajar dari Aglonema jenis Pride of Sumatera, yang di “kloning” negeri gajah putih terus dilempar kembali ke pasaran Indonesia. Jelas2 merupakan sebuah bentuk “penjajahan”. Isu beaya produksi dan investasi yang tinggi untuk bisa memperbanyak/kloning suatu jenis tanaman tertentu di negeri kita sendiri menjadi alasan yang diutarakan Mba Ully.

Dari segi bisnis, hitung-hitungan seperti itu sangat masuk akal terlebih di negeri kita sendiri terlalu banyak beaya siluman yg ga semestinya keluar harus kita bayar kepada oknum-oknum tertentu. Menyedihkan !.

Belum lagi budaya instant, pengen cepat dapat hasil tapi ga mau mengolah dari nol. Beli bahan setengah jadi atau udah jadi terus dijual lage.

Moga-moga penyakit ini ga menjangkiti rekan-rekan di Komunitas Puring.

Dalam diskusi dengan topik pengaruh negeri Thailand terhadap perdagangan tanaman hias di Indonesia tak terkecuali Puring, terlahir sebuah idealisme dari Pak Didi yang pada dasarnya sama dengan idealisme saya bahwa Dominasi Negeri Gajah Putih dalam bisnis Tanaman Hias harus bisa kita perangi/kurangi/saingi. Dengan demikian profit yang didapat akan kembali kepada para pelaku bisnis di bidang Tanaman Hias khususnya para petani.

Suatu idealisme yang “naif“.

Intisari

Sebenernya banyak hal yang kita diskusikan di acara KopDar kemaren, tapi terlampau panjang untuk diceritakan disini. Jadi, saya intisarikan saja butir-butir diskusi kita di KopDar Taman Suropati 26 Oktober 2008 sebagai berikut :

1. Pembentukan Organisasi Puring bukanlah hal yang haram tapi bukan pula wajib untuk diwujudkan. Perjalanan komunitas untuk masa sekarang ini dibiarkan berjalan secara alami dengan motto “Sekecil apapun kontribusi Anda, akan jauh lebih berarti ketimbang tidak berkontribusi sama sekali”.

2. Memberi ruang bagi rekan2 pecinta puring lainya untuk bisa lebih mendalami puring dengan melakukan kegiatan-kegiatan komunitas di lapangan/offline.

3. Menjalin komunikasi dengan rekan-rekan pecinta puring lainnya terutama petani dan menyerap aspirasi mereka.

4. Menjalin komunikasi dengan rekan-rekan media khususnya media flora

5. Menyusun rencana kegiatan komunitas puring

6. Semangat untuk terus melawan dominasi negeri tetangga dalam percaturan bisnis tanaman hias perlu terus dikobarkan

Sekian laporan langsung dari saya, terakhir ijinkan kembali saya menyampaikan rasa terima kasih.

Thanks To :

1. Mba Ully-Depok. Udah dateng beserta pasukan dan Misuanya.

2. Bu Yenny-Bekasi. Ikutan nimbrung mesti diburu2 dengan acara Farewell party di kantornya.

3. Mas Alan-Cibinong. Atas segala support dan masukannya.

4. Pak Didi-Cibinong. Untuk support dan masukannya. Yang ini juragan puring beneran

5. Mas Ophyt-Ciputat. Dah nyempetin waktu mesti ga pulang kerumah karena ngeliput berita.

Special Thanks To :

1. Mas Budi-Majalah Flona. Dah ikutan ngeliput komunitas puring.

Forum diskusi mohon agar tetap menggunakan jalur Milis Komunitas Puring

Oktober 2008

Mendulang Untung Dengan Usaha Botani

Tabloid Peluang Usaha, 20-10-2008Sekalipun usaha tanaman hias sempat lesu karena menurunnya pamor anthurium di awal tahun ini, namun kini telah hadir primadona baru di pasar tanaman hias. Selain tampilan tanaman ini yang mempesona dan bunganya yang indah, tanaman ini juga menyedot perhatian pehobi tanaman hias dengan berbagai tampilan warna dan karakternya.Kamboja Jepang, terbukti bisa bertahan berada dipuncak kejayaannya, hal yang sama diprediksikan terjadi pada tanaman puring. kamboja Jepang atau Adenium Obesum sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Memang tren-nya tidak seheboh anthurium, namun eksistensi tanaman berbonggol dan bunga berbentuk terompet itu bertahan jauh lebih lama.

Menurut Ir.Slamet Budiarto, Manager Operasional Godong Ijo Nursery, sejak awal tahun 2008 geliat dari kamboja Jepang mulai terasa, begitu juga dengan puring (Cadiaeum mollucanum).

Sebagai tanaman yang tengah naik daun, kamboja Jepang dan puring memiliki keistimewaan sendiri. Puring yang sebelumnya hanya tumbuh di kuburan kini telah naik kelas lantaran telah ditemukan jenis baru dengan bentuk berbeda yang menyerupai apel, telapak tangan, kaki, kapal, hingga kura-kura. Setidaknya kini telah ditemukan 280 jenis puring. Belum lagi dengan corak daunnya yang berwarna kontras, bahkan kata pehobiis, tujuh warna pelangi bisa ditemukan di daun puring ini.

Sama halnya dengan puring, kamboja Jepang pun setidaknya sudah ada 300 jenis yang telah dirilis oleh Godong Ijo Nursery yang bertempat di Sawangan Depok itu. Dengan adanya banyak pilihan tersebut, diramalkan kedua tanaman ini akan menjadi trend center pehobiis tanaman.

Anjloknya tren anthurium pada tahun 2007 lalu disebabkan harganya yang sudah terbilang gila-gilaan. Untuk itu agar kedua tanaman ini bisa menjadi tren dalam waktu yang relative lama, maka harganya dipertahankan untuk tetap berada dalam koridor yang realistis.

Untuk tanaman yang berukuran 30-50 cm harganya berkisar Rp.50-200 ribu rupiah. Sedangkan untuk tanaman yang berukuran besar bisa mencapai puluhan juta rupiah. Pelaku usaha tanaman ini dikabarkan bisa mendapatkan keuntungan hingga 80 %.

Bagi pelaku usaha pemula, mengikuti ajang pameran merupakan langkah yang bagud dalam mengenalkan berbagai jenis tanaman pada khalayak umum. Selain itu dengan mengikuti pameran, pelaku usaha dapat mengetahui tanaman yang sedang trend saat ini.

Bagi Heri Syaefudin, pemilik Gonku Nursery, bergabung dengan himpunan pelaku dan pehobiis tanaman hias memiliki keuntungan tersendiri. Menurutnya, dengan cara itu relasi akan semakin luas dan jaringan akan kian terbuka lebar, alhasil komsumen pun mengalir dari informasi rekan dan jaringan yang terbangun.

Nah, untuk Anda yang ingin usaha dan juga cinta dengan tumbuh-tumbuhan, usaha ini sepertinya cukup menjanjikan. Selain Anda mendulang untung, bumi akan semakin hijau, lingkungan pun jadi kian indah.

Agustus 2008

Pilah Pilih Pot

Nova, Sabtu 9 Agustus 2008 10:36Kalau halaman tak luas, pot bisa diandalkan untuk wadah menanam tanaman kesayangan. Sesuaikan jenis pot dengan tanaman yang akan ditanam. Selain itu, bentuk dan pemilihan material juga harus diperhitungkan.

Pot sering diartikan sebagai belanga atau jambangan. Dalam kehidupan sehari-hari, pot berfungsi sebagai wadah (container) untuk tanaman. Dari sisi estetika, pot haruslah mempunyai nilai keindahan, proporsi yang bagus, dan bahan-bahan yang berkualitas.

“Sedangkan dari sisi fungsional pot digunakan sebagai cover, atau untuk menyimpan tanaman. Untuk tanaman tertentu pot haruslah punya lubang yang cukup di bawahnya, tidak berkarat, dan tentu saja tidak pecah. Ada, kan, pot yang baru beberapa kali disiram sudah mengalami keretakan,” tutur Heri Syaefudin, ahli lansekap dari Gonku.

Di pasaran bertebaran aneka pot dengan bahan-bahan dasar yang amat beragam. Mulai gerabah, keramik, porselen, plastik, besi, semen, atau kayu. Khusus untuk pot kayu, kebanyakan hanya dipakai untuk cover pot saja.

Luar vs Dalam
Secara umum, jenis pot dibedakan dari pot yang berlubang dan tidak berlubang. “Pot yang berlubang untuk tanaman yang memerlukan pourositas seperti keladi atau aglonema. Sedangkan pot yang tidak berlubang untuk tanaman air, misalnya lotus, teratai, papirus,” jelas Heri.

Agar ideal, Heri menyarankan, perhatikan komposisi serta ukuran ruangan saat meletakkan pot di dalam ruang. “Jenis dan ukuran pot akan sangat berpengaruh pada ruangan. Misalnya, ruangan besar jangan diisi pot kecil. Pasti akan terlihat tak seimbang.”

Untuk pot yang diletakkan di luar ruangan, pilih pot yang tahan terhadap perubahan cuaca. “Pilih pot yang tahan di tempat panas atau teduh. Pot dari keramik biasanya tahan lama dan pas disimpan di dalam atau luar ruangan.”

Selain itu, perhatikan juga perawatan sebelum atau setelah dipakai. “Pot dari gerabah sebelum dipakai harus di-coating (dilapisi) dengan water proofing (lapisan tahan air) atau semen biar lebih kuat. Sementara keramik jika ada kotoran yang menempel tinggal dilap dengan kain lembap.”

Butuh Konsentrasi
Di Jakarta, salah satu tempat yang banyak menjajakan pot adalah daerah Gerbang Pemuda Senayan, Jakarta. Di sana banyak sekali dijual pot-pot dari berbagai bahan, motif, dan bentuk yang menarik. Pot semen, misalnya, tersedia dalam beragam warna, mulai putih, abu-abu, sampai hitam. Bentuknya pun aneka jenis: bulat, persegi panjang, atau persegi empat.

Beni, salah seorang pembuat pot di sana, menawarkan aneka pot cantik dari bahan batu kupang, andesit, dan mozaik. “Potnya sendiri, sih, dari bahan semen. Hanya saja dinding pot ditempelkan batu dalam posisi tegak. Hingga telihat alur batu yang bagus dan rata,” tutur Beni.

Pekerjaan menempel batu ini memerlukan konsentrasi tinggi. “Batu-batu harus disortir dulu yaitu dipilih yang pipih. Maksudnya tak lain agar terlihat indah dan bagus. Saat menempel batu tidak semua dinding pot dikasih semen dulu. Harus sedikit-sedikit agar hasilnya maksimal.”

Pot jenis lain masih berbahan semen, namun diwarnai hitam atau putih. Tak hanya bagus untuk tanaman dengan media tanam tanah atau cocopeat, juga bagus untuk tanaman air. Bahkan ada juga yang memanfaatkan sebagai tempat air mancur sebagai pemanis sebuah taman. Jadi, tinggal disesuaikan dengan keinginan kita.

Beri Tatakan
1. Jika memakai pot plastik jangan memilih bahan daur ulang karena lebih mudah pecah.
2. Sesuaikan pot dengan jenis tanaman. Tanaman untuk daerah panas gunakan pot yang tahan panas.
3. Memakai pot keramik di dalam ruangan jangan lupa beri tatakan di bawahnya. Kalau tidak bisa menimbulkan noda atau kotoran pada lantai.
4. Tak susah membersihkan pot, dari keramik tinggal dilap dengan kain lembap. Pot dari semen atau abut bersihkan dengan sikat halus. Jangan terlalu kuat menggosok.

5. Pot dari semen biasanya untuk membersihkan disikat dengan sikat plastik. “Memang lama-lama warnanya akan berubah. Amannya pakai pot yang bahannya dari semen yang berwarna atau memakai semen putih.”

BINTANG SAAT INI: CROTON ALIAS PURING!

Trubus, Agusus 2008Suka tidak suka, kini Croton alias Puring lagi jadi bintang. Dibanding anthurium, croton unggul karena bisa dipakai sebagai tanaman lanskap. Untuk memperbanyaknya juga butuh waktu, sehingga tidak gampang banjir. Citra sebagai tanaman kuburan pun bakal hilang dengan tampilnya puring-puring bercorak indah. Minat?Jumat, 27 Juni 2008. Di halaman parkir sebuah nurseri di Jalan Kaliurang Km 15, Yogyakarta, terparkir kendaraan bak terbuka. Di sebuah bangunan di sisi kiri areal itu terlihat 2 pria tengah membungkus tajuk puring menggunakan kertas koran. Puring setinggi 30 cm di pot berdiameter 15 cm itu lalu dikemas ke dalam keranjang. ‘Ini untuk pengiriman ke pameran di Jakarta,’ tutur salah seorang pegawai. Total jenderal ada 50 pot yang disiapkan.Sabtu, 28 Juni 2008. Di ajang Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, kiriman itu sudah ditunggu pembeli. Maklum 250 pot yang dibawa lebih dulu ludes terjual pada hari pertama dan kedua pameran pada Kamis dan Jumat, 26-27 Juni 2008. Jenisnya antara lain concord brazil setinggi 15 cm seharga Rp1-juta, oscar (5 cm, Rp330.000), seribu bintang (15 cm, Rp 500.000), afrika (15 cm, Rp100.000), serta banglore (15 cm, Rp600.000 dan 30 cm, Rp4-juta).

Selama 10 hari pameran didapat omzet Rp60-juta dari penjualan 350 pot berbagai jenis puring. Pendapatan yang lumayan paling moncer dalam pameran yang dibuka oleh Menteri Pertanian Anton Apriyantono itu. Pantas bila Linda Irawati, si empunya nurseri yang pengusaha itu, sumringah. Maklum itu pameran perdana yang diikuti. Nurseri Camelia-nama nurserinya-pun baru mulai serius menerjuni bisnis puring sejak Februari 2008.

Yang juga menikmati manisnya perniagaan croton ialah Naam Sutikno. Setahun silam ayah 1 anak itu masih membuka bengkel bubut di halaman rumahnya di Kediri. Kini bengkel bubut itu bersalin menjadi deretan pot puring. Sejak Mei 2007, Naam memang memutuskan untuk menerjuni bisnis puring. Keputusan itu lantaran ia mendengar bila anggota famili Euphorbiaceae itu tengah jadi barang incaran di Yogyakarta.

Insting bisnisnya terusik. Mantan kontraktor tebu itu tahu persis sentra puring di wilayah timur: Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Yogyakarta bisa jadi pasar potensialnya. Benar saja. Kali pertama membawa 1 truk puring, semua langsung terjual. Setelah itu selama 5 bulan berturut-turut minimal 25 truk puring lokal asal sentra di timur dikirim ke Kota Gudeg. Setiap truk berisi 400 pot ukuran besar atau 3.000 pot ukuran kecil. Dari perniagaan itu, Naam menuai laba Rp400-juta. Kini volume penjualan rata-rata 500 pot berbagai ukuran dengan pendapatan Rp40-juta per bulan.

Baru tapi lama

Penelusuran Trubus menunjukkan banyak pemain baru yang menerjuni bisnis puring. Sebut saja Agus Choliq. Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Yogya-karta, itu sejak pertengahan 2006 menjajakan kerabat bunga delapan dewa itu. Omzetnya sekarang Rp50-juta-Rp60-juta per bulan dari penjualan 70-100 pot berbagai jenis puring.

Di Sawangan, Depok, Ferdian AS, SSi, mulai bermain croton sejak setahun silam. Pada Januari-Februari 2008 ia menjual 200 pot puring kura tinggi 30-50 cm senilai Rp150-juta, 200 apel kuning (tinggi 50-60 cm, Rp45-juta), dan ‘bibit’ (tinggi 20-25 cm, Rp9-juta). Total jenderal pendapatannya pada 2 bulan itu mencapai Rp204-juta.

Muka-muka lama pun tak ketinggalan ikut menekuni puring. Di Tangerang ada Fredy Wiyanto, Handhi, Edi Sebayang, Handry Chuhairy, dan Nur Ali. Semula Fredy lebih dikenal sebagai pemain euphorbia dan adenium. Handhi: adenium dan sansevieria, Edi: ayam serama, adenium, sansevieria, dan pachypodium. Handry: adenium, aglaonema, dan pachypodium. Sementara Nur Ali, pemain anggrek potong.

Di Sawangan, Depok, sebut saja Doddy Iskandar, Heri Syaefudin, Hari Harjanto, dan Chandra Gunawan. Di Bogor, Gunawan Wijaya, Jakarta (nurseri Tania Flora, nurseri Annajwa, Wahana Floris, nurseri Citra Ayu, nurseri Golden Star), Yogyakarta (Liling Watiasita, nurseri Lotus Garden, dan nurseri Watu Putih), Magelang (Pong Waluyo), serta Surabaya (nurseri Seger Ijo).

Kolektornya pun bermunculan. Gara-gara mencari tanaman yang cocok untuk lansekap taman rumah, Toto Edhi Santoso di Sleman kepincut croton sejak 1,5 tahun lalu. Anggota DPRD Kabupaten Sleman itu senang mengoleksi jenis berdaun lebar di halaman depan dan belakang rumah seluas 3.000 m2. ‘Kesannya lebih kokoh,’ katanya. Jenisnya antara lain vinola, pink meridian, red dragon, lipstick, new legend, banglore, seribu bintang, sahara, golden king, red spider, red star belgrade, phinisi, gotik, dan raja.

Sementara di kediamannya di Wonosobo, Santo Subagyo memiliki banglore, sweet love, concord merah, india, sahara, red spina, vista, timun, golden rain, katana, concord hijau, dan jenis-jenis yang masih belum bernama.

Antipolusi

Bukan tanpa alasan jika puring jadi pilihan. ‘Puring penuh variasi bentuk dan warna,’ kata Handry. Dibanding aglaonema-si ratu tanaman hias daun-ragam warna croton lebih banyak. Pada aglaonema warna kuning sulit didapat. Varian croton berwarna kuning banyak. Kombinasi warna pada aglaonema paling hingga 3 warna. Puring bisa lebih.

Keindahan Codiaeum variegatum itu bisa dinikmati sebagai tanaman pot, pun untuk lansekap. ‘Di taman, puring jadi center poin,’ kata Heri Syaefudin, pekebun dan perancang taman. Di Selomanen, Kediri, terdapat 15 pekebun yang memperbanyak puring untuk kebutuhan lansekap. Puring pun terbilang tanaman bandel dan mudah diperbanyak.

Keistimewaan lain, puring terbukti sebagai antipolutan ampuh. Hasil penelitian Ir Suparwoko, MURP, PhD, dari Jurusan Arsitektur FTSP, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, croton paling baik dalam menyerap timbal dibanding beringin dan tanjung. Puring mampu menyerap 2,05 mg/l timbal, beringin (1,025 mg/l), dan tanjung (0,505 mg/l) (baca: Puring Paling Top Serap Timbal, halaman 50).

‘Ukuran partikel timbal sangat kecil, hanya 2 mikro-meter. Sedangkan lebar stomata 2-7 mikrometer,’ tutur Ir Ari Wijayani Purwanto MP. Karena ukuran timbal lebih kecil daripada stomata secara otomatis mudah diserap tanaman. Hanya saja, menurut ahli fisiologi tumbuhan dari Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian, Universitas Pembangunan Nasional (UPN) itu ada tanaman yang bisa mengolah timbal untuk kebutuhan metabolismenya, ada juga yang tidak. Bahkan sebagian tanaman keracunan bila menyerap polutan itu. Timbal masuk ke sel dan menumpuk di jaringan palisade parenkim yang banyak mengandung sitoplasma. Sitoplasma merupakan bagian sel yang fungsinya melarutkan hara serta membentuk dan menyimpan energi.

Timbal lalu menumpuk di klorofil. Ketika kerja klorofil terganggu, laju fotosintesis terhambat. Pada akhirnya pertumbuhan tanaman terganggu dan mati. Pada puring, timbal diubah menjadi enzim tertentu sehingga menjadi tidak beracun dan digunakan dalam proses metabolisme. Pantas bila puring cocok sebagai tanaman lansekap jalan. Di Yogyakarta, deretan croton menghiasi tepi Jalan Adisucipto.

Booming croton

Sejatinya bukan kali ini saja puring ramai jadi incaran. Pada 1995 croton sempat banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan tepi jalan. ‘Waktu itu ada 50.000 tanaman dipakai sebagai border di jalan-jalan di kompleks perumahan elit di Tangerang,’ ujar Heri Syaefudin, perancang taman. Heri memilih karotong karena sebagai elemen taman puring penuh warna. Sayang, krisis moneter yang melanda dunia properti membuat puring ikut tiarap.

Berikutnya, para pemain mencatat sebelum anthurium booming pada 2006-2007 croton sudah mulai menggeliat. Lagi-lagi pasar mandek karena stok barang terbatas. Jenis-jenis yang ketika itu disukai: kura, apel, eksotika, dan oscar.

Ketika itu Yogyakarta dan Jawa Tengah jadi lokomotifnya. Puring mendominasi di arena pameran. Perkara 2 daerah itu jadi motor tren croton diduga berkaitan dengan budaya dan mitos. ‘Orang Jawa percaya puring bisa menolak bala,’ kata Agus Choliq. Di Sleman malah berdiri Kelompok Tani Puring Karakan (Ketapuk) pada 15 April 2007. Sleman memang salah satu sentra puring Kota Pelajar.

Namun, para pemain sepakat sejak akhir Februari 2008 pamor puring paling mengkilap. Hampir semua pekebun dan pedagang mengalami lonjakan permintaan. Harga pun melesat pesat. Handry mencatat, pada Januari 2008 harga concord brazil setinggi 30 cm hanya Rp50.000. Pada pertengahan Juni 2008 menjadi Rp1,5-juta untuk ukuran sama.

Di ajang pameran puring pun mendominasi. Pada Trubus Agro Expo 2008 di Parkir Timur Senayan, Jakarta Pusat, minimal 10 stan memajang croton secara dominan. Pemandangan serupa diamati Nesia Artdiyasa, wartawan Trubus, waktu menelusuri pameran tanaman hias di Blitar.

Koleksi Jack

Indikasi lain, banyak importir yang membawa masuk puring. Tiga kali mendatangkan croton dari mancanegara, Fredy Wiyanto menangguk omzet Rp75-juta. Sumber impor dari Thailand, India, Sri Lanka, dan Filipina. Maklum negara-negara itu termasuk produsen puring dunia. Thailand punya ciri khas daun berpilin dan bulat, misal kura-cocok untuk potplant. Sementara puring Sri Lanka cenderung berdaun tipis, lebih pas untuk lansekap.

Penyilang tanahair pun bermunculan. Sebut saja Gandung Paryono (Yogyakarta), Pong Waluyo (Magelang), dan Lili Fayani (Malang). Potensi menyilang besar, apalagi puring sejatinya asli Indonesia. Hasil silangan Pong yang banyak dicari: sangkelat, nogososro, dan pulanggeni.

Bila semula pergerakan karotong dominan di Yogyakarta dan Jawa Tengah, kini menyebar ke Bogor, Depok, Jakarta, Tangerang-di barat, serta Blitar, Kediri, dan Surabaya-di timur. Di Depok, nurseri ‘Nggon-ku, milik Heri Syaefudin, salah satu gudang puring. Di Tangerang ke arah Cilegon, ada sebuah desa yang khusus mengembangkan puring.

Hanya saja arus tren Yogyakarta dan Jawa Tengah memang lebih kencang. Di sana tren puring sudah melaju pada tahap mengoleksi jenis-jenis eksklusif. Yang sekarang tengah jadi buruan, puring-puring koleksi Jack E Craig. Ciri khasnya ukuran daun besar. Jack-pria asal Amerika Serikat-dikenal sebagai kolektor tanaman hias dan buah. Dari perjalanannya ke berbagai negara didapat aneka jenis tanaman hias dan buah eksotis yang dirawat di kebun di salah satu sudut Wonosobo. Di antaranya croton.

Di Jakarta, sebagian pemain mulai membidik jenis-jenis eksklusif seperti di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sebut saja red paradise, new legend, monalisa, dan kipas dewa. Harga tanaman mencapai jutaan rupiah. Sementara puring buruan di Kediri dan Surabaya masih jenis-jenis ‘lama’ seperti kura, polkadot, apel, jengkol, dan batik.

Puring koleksi Jack seperti vinola, banglore, dan seribu bintang disebut sebagai collector item. Harganya tinggi. Vinola misalnya, asal cangkok setinggi 20 cm harganya Rp5-juta (lihat tabel). Sementara jenis-jenis yang banyak dicari, jumlah masih terbatas, dan harga relatif tinggi disebut komersial. Contohnya oscar, kura, raja, dan concord. Sementara jenis yang jumlahnya sudah relatif banyak dan murah disebut lokal. Misal jet, kirana, pancawarna, timun, zebra mas, dan lancur.

Banyak risiko

Peluang bisnis croton memang menggiurkan. Namun, kendalanya pun banyak. Edi Sebayang boleh dibilang kapok mengimpor puring. Dari 1.000 tanaman yang didatangkan pada Agustus 2007 setengahnya mati. Daun rontok karena tanaman stres setiba di tanahair. Padahal di antaranya ada croton-croton juara kontes di negeri Gajah Putih yang dibeli dengan merogoh kocek Rp15-juta-Rp20-juta. ‘Sudah harganya mahal, penanganannya pun susah,’ keluh pemilik beberapa perusahaan itu. Dari jumlah yang selamat, baru 100 tanaman yang berhasil dijual. Kejadian serupa dialami Handhi, Gunawan Wijaja, dan Chandra Gunawan.

Sekadar mengimpor pun bisa jadi bumerang. Kaji Yunus, pemilik Lotus Garden, di Kaliurang, Yogyakarta, urung mengimpor dari Thailand. Musababnya, ‘Jenis-jenis yang permintaannya di sini banyak justru puring-puring koleksi Jack,’ tuturnya. Banjir kura dan apel asal Thailand membuat stok berlimpah sehingga pasar cenderung mandek.

Salah perawatan bisa membuat penampilan puring dalam pot jelek. Batang nglancir dan daun menguncup. Padahal sebagai potplant, lebih disukai puring pendek dengan daun rebah sehingga kecantikan pola warnanya terlihat. Handry Chuhairy mengamati sekarang banyak ditemukan puring kura dengan daun cenderung tegak dan berbentuk cekung. Sejatinya kura berdaun cembung dan merebah. Keterbatasan batang bawah jadi kendala saat pekebun berpacu melipatgandakan produksi.

Nama dagang yang belum baku pun membuat pemain baru pusing tujuh keliling. Handry Chuhairy membeli 2 puring dengan nama berbeda. Saat tanaman tiba di nurseri ternyata ujudnya sama. Padahal, niat awal penamaan puring untuk mempermudah perniagaan. Batu sandungan lain, citra sebagai tanaman di pemakaman. Agus Choliq ingat, waktu pertama kali mulai menyetok puring untuk tanaman induk banyak yang menertawakan. ‘Kuburannya pindah ke sini ya,’ olok mereka yang menyepelekan. Harga kerabat kastuba itu pun murah. Pemain dan penggemarnya bisa dihitung dengan sebelah jari.

Sama seperti tanaman hias lain, pemain croton pun berisiko kemalingan. Dua bulan silam Doddy Iskandar menemukan pot-pot kosong yang semula berisi 5 banglore ukuran kecil, 4 banglore ukuran besar, 1 kura, dan 1 angora ukuran 1 m. Total kerugian mencapai Rp20-juta. Pantas kemudian ada selorohan, ‘Dulu puring tanaman pagar, sekarang harus dipagari.’ Sementara Naam pernah gigit jari lantaran penjualan senilai Rp30-juta tidak dibayar.

PanjangToh mereka yang sempat gagal tidak patah arang. Gunawan Wijaya memasukkan croton yang baru datang dari mancanegara ke dalam ruang kabut. Suhu, kelembapan, dan cahaya yang masuk diatur sehingga pas untuk puring pendatang itu. Hasilnya tingkat keberhasilan hidup mencapai 99,9% (baca: Croton Impor, Masuk ICU Dulu, halaman 42)Para pemain yakin tren croton belum sampai di puncak. Asumsinya, saat ini mayoritas jual-beli masih di tingkat pedagang. Masih sedikit croton yang sampai ke tangan konsumen akhir. Kondisinya sama seperti ketika awal tren anthurium. ‘Ketika tanaman sudah sampai ke tangan konsumen akhir, permintaan akan besar,’ ucap salah seorang pemain. Harga pasti turun, tapi diimbangi dengan penambahan volume jual. ‘Saya optimis puring tetap laku. Yang penting harga rasional,’ ujar Nur Ali.Dibanding anthurium, croton unggul karena bisa dipakai sebagai tanaman lansekap. Lagi pula untuk memperbanyaknya butuh waktu, sehingga tidak gampang banjir. Sebagai contoh, untuk hasil cangkokan baru siap dijual setelah umur 3-4 bulan.

Citra sebagai tanaman di pemakaman bakal hilang dengan menampilkan croton-croton bercorak indah. Buktinya seorang kolektor rela memboyong sepot oscar dan raja setinggi 2 m dengan harga masing-masing Rp20-juta dan Rp10-juta dari nurseri Camelia. Sifat multimanfaat: sebagai potplant dan lansekap, penghias sekaligus antipolutan, pun terus munculnya jenis baru bakal membuat napas croton makin panjang. (from TRUBUS (Evy Syariefa/Peliput: Andretha Helmina, Destika Cahyana, Imam Wiguna, Rosy Nur Apriyanti, dan Vina Vitriani))

April 2008

Pengelolaan Sempadan Situ Pengelolaan Sempadan Situ

Monday, 07 April 2008Danau atau situ secara alami menjadi penampung air untuk kawasan yang berada di sekitarnya. Keberadaan situ menjadi sangat bermanfaat terutama di wilayah urban dan suburban yang tingkat polusi udaranya tinggi serta ketersediaan sumber airnya terbatas.Jakarta memiliki daerah penyangga seperti Bekasi, Bogor dan Tangerang. Selain sebagai wilayah permukiman bagi masyarakat yang beraktivitas di Jakarta, keberadaan area di seputar kota tersebut juga sebagai penyedia air dan pemberi udara segar.

Kota Depok yang berada di wilayah kabupaten Bogor memiliki 22 buah situ di wilayah administrasinya. Sebagian dari situ tersebut kini sudah beralih fungsi sehingga mengurangi efektivitas situ sebagai penampung air. Menyikapi hal ini Pemda Depok sedang gencar mengembangkan aturan dan kebijakan untuk meningkatkan fungsi situ dengan mengikutsertakan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi situ berada. Dengan menjaga area seputar situ yaitu sempadan situ, masyarakat dapat turut mengelola lingkungan agar lebih berperan sebagaimana mestinya.

Heri Syaefudin misalnya adalah salah satu warga yang tinggal di daerah Sawangan – Depok yang peduli terhadap pengelolaan sempadan situ. Pada kaveling miliknya seluas 6000m2 yang terletak di tepi danau Pengasinan, Sawangan – Depok, diterapkan sebuah konsep yang bersinergi antara pengelolaan berwawasan lingkungan sempadan situ dan nurseri dalam penataan taman yang bernilai estetis.

Dalam Peraturan Daerah (Perda) tentang pengelolaan situ disebutkan bahwa, radius 50 meter dari danau merupakan area penyangga. Peruntukan pada area penyangga ini lebih ditujukan sebagai penyangga ekosistem seputar danau. Dengan demikian tidak boleh didirikan bangunan yang sifatnya permanen melainkan diupayakan pengelolaan ke pemanfaatan yang lebih ramah lingkungan dan tidak merusak ekosistem situ.

Berdasarkan peraturan ini Heri mengelola area penyangga tersebut dengan menerapkan konsep estetika dan konsep fungsional yaitu dengan membuat cekungan-cekungan yang difungsikan sebagai daerah tangkapan air (water catchment). Cekungan-cekungan tersebut berfungsi sebagai “kantung” untuk menampung kelebihan air pada saat volume air danau meningkat.

Antara cekungan dan danau dihubungkan dengan saluran air yang berada di dalam tanah, yang berfungsi untuk menyeimbangkan tinggi permukaan air seperti hukum bejana berhubungan. Agar lebih bermanfaat, air pada cekungan itu digunakan untuk membudidayakan ikan air tawar dan tanaman hias air.

Pada tahap awal proses pembuatan taman situ ini, Heri melakukan pengerukan pada beberapa titik yang rencananya akan digunakan untuk water catchment. Tanah hasil kerukan dimanfaatkan untuk meninggikan permukaan tanah di sekelilingnya dan ditata kontur tanahnya agar terlihat lebih dinamis, sehingga tidak terjadi pembuangan lapisan tanah asli. Pada radius yang ditentukan, digunakan untuk penanaman koleksi tanaman hias milik Heri dalam penataan yang artistik. Karena tanah aslinya merupakan tanah rawa yang berlumpur, pada area penanaman ini diberi selapis tanah kebun agar dapat lebih menyuburkan tanah sehingga kualitasnya lebih baik untuk habitat tanaman hias.

Dengan konsep seperti ini pengelolaan area di sekitar situ tetap dipertahankan sesuai dengan ekosistem alami di seputar danau. Tanaman hias air dan tanaman rawa asli dibiarkan tumbuh pada area-area cekungan. Beberapa tanaman lama seperti duku dan rambutan tetap dipertahankan (existing) untuk meneduhi area di seputar bangunan utama yang dibangun di luar areal sempadan situ. Di samping itu dibuat pula pondokan untuk rumah tinggal sangat sederhana yang dibuat dari bahan-bahan alam yang murah dan mudah didapat. Pada salah satu sudut taman dibangun saung dari kayu bambu yang terdiri dari dua lantai dan dindingnya setengah terbuka agar dapat menikmati udara segar dan pemandangan indah ke arah situ.

Konsep pengelolaan situ seperti ini menjadi pilot project yang ramah lingkungan dan berdaya guna serta dapat diaplikasikan untuk situ-situ lainnya. Jakarta secara alami memiliki beberapa buah situ yang belum dioptimalkan pemanfaatannya sesuai dengan konsep green design. Bahkan beberapa buah situ menyimpang peruntukannya karena sudah dikelola oleh pihak swasta untuk bangunan komersial. Situ-situ yang dimiliki oleh Jakarta seperti ini perlu dikelola secara bijak sehingga dalam jangka panjang dapat mengatasi permasalahan banjir yang seringkali melanda kota Jakarta setiap tahunnya.

Lokasi : Rumah tinggal Heri Syaefudin
Situ Pengasinan – Sawangan, Bogor

Green Revolution – Untuk Yang Peduli Lingkungan

Jika Anda menertawakan sesuatu pada oranglain, Anda menganggapkan sesuatu Lelucon. Jika hal itu menimpa Anda, Anda menganggapnya suatu Penghinaan.
News in the World
Google
InformationWeek – Google Gets Chrome Ready For Mac, Linuxpowered by

Selasa, 2007 November 20
Memberdayakan Masyarakat dengan Tanaman Hias

Banyak cara yang bisa digunakan untuk memberdayakan masyarakat dan mengurangi pengangguran. Salah satunya dengan memanfaatkan lahan yang tersedia, yang sebelumnya tidak termanfaatkan sebagai sumber penghasilan. Misalnya dengan menanaminya dengan tanaman hias bernilai ekonomi tinggi.

Beberapa jenis tanaman hias, seperti Anthurium dan Gelombang Cinta memang sedang tren saat ini. Harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Pemberdayaan masyarakat lewat tanaman hias inilah yang kini banyak dilakukan di Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat. Bahkan dari usaha itu, Sawangan kini terkenal sebagai salah satu pusat tanaman hias.

Masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki usaha namun mempunyai lahan, dikenalkan dengan budidaya tanaman hias. Saat ini sudah ratusan masyarakat di Sawangan yang alih profesi menjadi petani tanaman hias. Beberapa diantara mereka kemudian membentuk kelompok tani. Salah satu yang sudah berdiri dan memberikan kontribusi bagi anggotanya adalah Kelompok Tani dan Koperasi Maju Bersama.

Salah seorang tokoh pendirinya, Heri Syaefudin, mengungkapkan, ide awal pembentukan kelompok tani ini adalah untuk memberdayakan masyarakat di wilayah Sawangan dengan cara memanfaatkan lahan yang ada. Meskipun tidak terlalu luas, namun lahan tersebut bisa diolah menjadi sumber pendapatan keluarga.

Selain itu, dengan cara ini juga bisa mengurangi jumlah pengangguran yang ada. Tidak hanya itu, upaya ini juga sesuai dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Depok yang menyebutkan 30 persen wilayah untuk ruang terbuka hijau.

”Kami ingin ruang terbuka hijau itu ada unsur bisnisnya. Terutama yang terkait dengan gaya hidup masyarakat. Maka dipilihlah tanaman hias menjadi komoditas utama kami,” katanya kepada Republika.

Menurut Heri, sejak didirikan pada 2004 lalu, perkembangan kelompok tani Maju Bersama cukup besat. Aset para anggotanya juga berkembang. Selain itu, citra Sawangan sebagai pusat tanaman hias juga sudah terbentuk. Para pembeli yang datang juga dari berbagai daerah, seperti Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sumatera.

”Anggota pun kini sudah mulai menikmati hasil dari budidaya tanaman hias ini. Omset mereka bervariasi. Ada yang Rp 30 sampai 70 juta, ada juga yang sampai ratusan juta,” ujar Heri menambahkan.

Beberapa jenis tanaman hias yang dikembangkan antara lain yang langsung ke end user. Misalnya tanaman perdu dan tanaman landskap. Namun ada juga tanaman yang segmentasinya kalangan menengah ke atas, seperti aglonema, anthurium, dan gelombang cinta.

Untuk lebih mengembangkan usaha budidaya tersebut, lanjut Heri, pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan Bank Mandiri. Dalam hal ini, Bank Mandiri memberikan bantuan permodalan dari dana CSR yaitu lewat Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL).

”Ke depan, kami juga akan membentuk lembaga keuangan mikro di bidang agribisnis. Diharapkan lembaga keuangan ini bisa membantu anggota dalam hal permodalan,” tuturnya.

Setelah berhasil di wilayah Sawangan, Heri menjelaskan, pihaknya kini sedang berusaha untuk mengangkatnya di tingkat kota. Untuk itu pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan sejumlah pihak terkait. Tingkat penerimaan mereka cukup baik.

”Harapan kami apa yang sudah dikembangkan di Sawangan bisa dilakukan juga di wilayah lain. Sehingga akan lebih banyak lagi masyarakat yang bisa diberdayakan dengan tanaman hias ini,” paparnya.

Untuk itu, demikian kata Heri, yang sangat penting untuk dirubah adalah mindset masyarakat. Keberhasilan program ini juga sangat ditentukan oleh seluruh komponen masyarakat. ”Karena itu semua stakeholder harus terlibat dan memberikan dukungannya,” tandas Heri. (sumber: republika.co.id : Selasa, 06 Nopember 2007)

Diposkan oleh Green Revolution di 00:22
Label: Tanaman Hias
0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru
Posting Lama
Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
Kontributor
than mas
Green Revolution
Arsip Blog
▼ 2007 (4)
▼ November (4)
Pada Sebuah Kearifan Lingkungan
Memberdayakan Masyarakat dengan Tanaman Hias
Menghijaukan Senayan dengan Pohon Langka
Green Building untuk Lingkungan Berkelanjutan
Pegangan Kebenaran
Republika Online

Januari 2007

Tren Tanaman: Alami atau Rekayasa?

Flona Edisi 47/111 Januari 2007

Begitulah sepenggal pertanyaan yang sering ada di benak masyarakat, ikhwal kemunculan tanaman baru yang tiba-tiba dibandrol dengan harga fantastis. PASANG SURUT BISNIS TANAMAN HIAS TERKADANG MENCENGANGKAN. Tanaman yang mulanya tak dihargai tiba-tiba menjadi primadona. Diburu dan ditransfer dengan barga gila-gilaan. Wajar bila lantas muncul pertanyaan, mungkinkan ini hanya akal-akalan? Gunawan Widjaja dari Wijaya Nursery berpendapat, dalam bisnis tanaman hias berlaku hukum pasar. Tingginya permintaan selalu menyebabkan kenaikan harga. Apalagi kalau barang itu tak banyak jumlahnya. Kalau stok tanaman sedikit tetapi permintaannya tinggi, pasti harganya akan naik, ujarnya.

Tingginya permintaan bisa dipengaruhi oleh bermacam faktor. Paling utama adalah keindahan tanaman itu sendiri. Selanjutnya kemudahan perawatannya. Ada syarat lain kalau mau jadi primadona, yakni adaptif dengan iklim dataran rendah. Ini sesuai denggan kebanyakan karakteristik daerah perkotaan di Tanah Air.

Apakab kalau sudah memenuhi syarat itu lantas permintaannya tinggi.
Tidak selalu, terkadang diperlukan trigger untuk merangsang kenaikan pamornya. Contoh paling dekat adalah moncernya anthurium. Ketika itu para petani di Karanganyar, Jawa Tengah berujar untuk menjadikan kotanya sebagai sentra anthurium. Anthurium dari berbagai tempat pun diborong, makanya harganya langsung melambung.

Uniknya ketika harga anthurium naik pesat, bisnis anthurium menjadi semakin marak. Semua pemain tanaman hias, terutama di kota-kota besar Pulau Jawa ikut meramaikan. Tingginya harga justru menjadi magnet sangat kuat bagi para pelaku bisnis tanaman hias.
Kenapa? Tentu saja ekspektasi akan keuntungan yang melimpah.

Bukan rahasia kalau banyak jenis tanaman hias dikarbit agar pamornya melejit dan banyak diburu. Namun tak semua barang karbitan sukses menuai popularitas. Kalaupun pamornya naik, umumnya tak akan bertahan lama. Tapi kalau memang memenuhi syarat untuk jadi favorit, kepopulerannya pasti bertahan lama. Minat konsumen akan selalu sama, tanaman terbaik. Secara estetika dia bagus, adaptif dengan iklim kita dan produktivitasnya tinggi, ujar Sansan.

Menurut Heri Syaefudin, tanaman baru tak akan bisa begitu saja dikarbit. Tanaman itu harus punya kelebihan dibandingkan jenis yang sudah ada sebelumnya. Ketersediaan materi juga harus cukup banyak, terang Heri Syaefudin.

Dalam pandangannya, tanaman hias ngetren dan digemari adalah tanaman yang terjual sampai ke tangan konsumen. Itu hanya bisa dipenuhi oleh jenis tanaman yang harganya terjangkau. Sementara tanaman hias yang dibandrol sangat mahal hanyalah tren semu belaka. Tanaman hias yang harganya puluhan bahkan ratusan juta tak akan bisa sampai ke tangan konsumen. Barang hanya akan berputar di tangan pedagang saja, ujarnya.

Heri menganjurkan untuk berhati-hati dengan tanaman hias yang bandrolnya gila-gilaan. Karena menurutnya, kehebohannya tak akan bisa bertahan lama. Hanya orang-orang di front line yang akan mendapat keuntungan. Pemain dan petani yang ikutikutan akan rugi karena harganya sudah turun, padahal belinya masih mahal, terangnya.

Bisnis tanaman hias yang ideal adalah dengan memproduksi massal.
Produksi massal sebanyak-banyaknya, dengan kualitas sebaik-baiknya. Lalu tekan harga serendah-rendahnya. Tapi dengan catatan harga jual tetap masih menguntungkan, ujarnya. Heri mencontohkan aglaonema Pride 0f Sumatera. Dia menjadi tanaman yang paling bannyak dikoleksi konsumen karena harganya terjangkau.

KUCAI, RUMPUT MINI, PLUMERIA LARIS MANIS

Menurul Heri Syaefudin dari Gonku lanscape dan Stock Plant di Sawangan, Depok, bisnis tanaman lansekap juga dipengaruhi oleh tren gaya taman. Sementara gaya taman mengikuti gaya arsitektur rumah minimalis yang sekarang marak. Otomatis jenis tanaman lansekap yang banyak dicari juga yang menjadi elemen taman minimalis.
Namun pengaruhnya menjadi tak terlalu terasa karena taman gaya minimalis hanya butuh sedikit materi baik jenis maupun jumlahnya, ujar Heri.Masih banyak orang Indonesia yang suka dengan suasana yang teduh dan hijau. Tak sedikit juga yang memadukan unsur garis-garis arsitektur bangunan yang minimalis dengan unsur lansekap tapis, lanjutnya.

Deddy Suhardi, perancang taman dari Natural Landscape juga menengarai hal serupa. Saat ini, tanaman lansekap terbagi menjadi 2, yaitu untuk keperluan taman minimalis dan natural. Tanaman untuk taman minimalis umumnya berpostur tinggi dan memanjang. Contohnya adalah iris.
Pilihan lainnya adalah helikonia atau rumput-rumputan, tambah Deddy.

Untuk menyiasati halaman agar terlihat luas, tanaman-tanaman itu diletakkaan di bagian pinggir. Sementara di tengah diisi rumput. Biasanya rumput yang lembut dan kecil. Seperti rumput swiss, peking, dan golf. Sebagai penyeimbang, beberapa pemilik taman minimalis menambahnya dengan tanaman perdu dan portulaka.

Taman bergaya minimalis biasanya memunculkan satu tanaman center
yang terletak di tengah taman. Tanaman tersebut biasanya harganya cukup mahal. Jenis kamboja dan palem kurma banyak dipilih, ujar Dedy. Pilihan tanaman mahal itu untuk menunjukkan derajat si pemilik taman.
Untuk taman bergaya natural, pilihan jenisnya tidak terlalu spesifIk. Hanya saja kebanyakan orang memilih tanaman seperti pisang-pisangan, pandan bali, tanaman air, tanaman bunga dan beberapa tanaman perdu lainnya, lanjutnya.

James Lumbanradja, general manager PT Benara, supplier tanaman bias di Karawang, Jawa Barat mengungkapkan, sepanjang tahun 2006 permintaan akan kucai semakin meningkat. Jelas ada hubungannya dengan tren gaya rumah minimalis yang tengah digandrungi masyarakat, katanya.

Beberapa tanaman yang mengusung tema etnik masih tetap diminati, semisal kamboja (Plumeria sp). Tanaman ini menjadi favorit bagi para gardener karena pas untuk tipe taman etnik seperti gaya Bali dan Jawa. Sementara untuk pasar luar negeri, aneka tanaman berbau tropis justru terus menghangat. *

Heri dan Konservasi Situ di Depok

R Adhi Kusumaputra

Awalnya, Heri Syaefudin ( 38 ) penasaran melihat areal sempadan situ atau danau di seputar Kota Depok, Jawa Barat, dibiarkan menganggur dan ditumbuhi semak belukar. Mengapa sempadan situ tidak dimanfaatkan menjadi kawasan agrowisata berbasis tanaman hias yang dapat menghasilkan uang?

Heri memulainya dari Situ Pengasinan di Kecamatan Sawangan. Dia melihat Situ Pengasinan nyaris lenyap karena berubah menjadi empang dan sawah, bahkan nyaris diuruk menjadi perumahan oleh pengembang.
Perusakan lingkungan di Situ Pengasinan dapat dihindari ketika pada tahun 2003 Wali Kota Depok (waktu itu) Badrul Kamal meminta petugas Dinas Pekerjaan Umum mengeruk danau seluas 6,5 hektar itu sehingga Situ Pengasinan kembali pada fungsinya. Di sekitar situ, dalam jarak 50 meter, harus menjadi ruang terbuka hijau dan tidak diperbolehkan ada bangunan permanen.

Tahun 2004, Heri membeli tanah seluas 3.000 meter persegi di tepi Situ Pengasinan. Saat itu di sempadan situ dipenuhi semak belukar. Dengan tekad yang kuat, Heri mengubah dan menatanya menjadi tempat yang sedap dipandang. Arealnya tetap menjadi bagian dari lanskap danau. Di sana ada kolam ikan, penuh tanaman hias, dan rerumputan hijau.

Heri merangkul warga Kelurahan Pengasinan yang sebelumnya bertani untuk memanfaatkan danau yang saat itu telanjur jadi sawah dan empang. Setelah danau dikembalikan pada fungsinya, Heri mengajak warga menjadi petani tanaman hias.

Tentu saja, tidak dengan seketika warga memenuhi ajakannya. Mereka ragu-ragu dan ingin melihat-lihat dulu. Namun, Heri tidak putus asa dan terus bekerja.

Setelah warga melihat apa yang dilakukan Heri terbukti ada hasilnya, warga Pengasinan dan warga kelurahan lain di Sawangan ramai-ramai mengikuti ajakannya untuk bertanam tanaman hias.

Sampai akhir tahun 2006 ini, ada sekitar 500 orang menjadi petani tanaman hias dan 100 lainnya menjadi pedagang yang memiliki kios di sepanjang Jalan Raya Bojongsari (Sawangan)-Ciputat. Mereka tergabung dalam tujuh kelompok tani dan koperasi.

Heri, anak petani yang lahir pada 22 Juli 1968, mengenyam pendidikan di SMP Grabag, Magelang, Jawa Tengah, dan SMAN I Temanggung. Heri hijrah ke Jakarta tahun 1988, menyelesaikan pendidikan di Akademi Lanskap Jakarta dengan tugas akhir tentang konsep penataan sempadan situ pada tahun 1992. Setelah bekerja sebagai pekerja lanskap di berbagai tempat, Heri pindah ke Sawangan, Depok, tahun 2002.
Menurut Heri, pada saat itu perdagangan tanaman hias sudah ada di Sawangan, tetapi jenisnya tidak bervariasi. Hanya palem dan rumput. Petaninya pun tak bertambah.

Kini, Heri merasa bangga karena cita-citanya memberdayakan masyarakat Sawangan ada hasilnya. Sekarang, penghasilan seorang petani tanaman hias rata-rata Rp 3 juta sampai Rp 15 juta per bulan. “Setidaknya anak-anak muda yang dulu kerjanya cuma nongkrong kini mempunyai pekerjaan dan penghasilan,” ungkap Heri.

Bu’an (41), warga Pengasinan, misalnya, mengaku awalnya ragu mengikuti ajakan Heri. Namun, setelah usaha peternakan lele dan ayamnya bangkrut, ia beralih menjadi petani tanaman hias. Dari usahanya itu, kini dia mampu menguliahkan anaknya di Bogor.

“Tetangga saya pedagang bubur, mengerjakan usaha tanaman hias ini secara sambilan dan mendapat penghasilan lumayan,” tuturnya.

Dilirik perbankan
Yang juga membanggakan Heri, konsepnya membangun Sawangan menjadi kawasan agropolitan berbasis tanaman hias didukung kalangan perbankan. Melalui program Perbankan Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) Bank Mandiri, setiap petani bisa mendapat kredit bank dengan bunga 6-8 persen per tahun.

Usaha Heri memberdayakan warga Pengasinan ini mendapat perhatian tim Program Pendanaan Kompetensi Indeks Pembangunan Manusia ((PPK IPM) Jawa Barat. Daerah ini akan dibangun dengan dana PPK IPM sebagai daerah pertanian tanaman hias. Setidak-tidaknya jalan tanah menuju lokasi Situ Pengasinan diharapkan dapat segera diaspal.

Heri pun melihat usahanya tidak sia-sia karena Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il peduli terhadap upaya pelestarian lingkungan, sekaligus upaya memberdayakan masyarakat sekitar itu. “Kalau Situ Pengasinan berhasil menjadi kawasan agrowisata berbasis tanaman hias, danau ini bisa menjadi proyek percontohan bagi 30-an danau lainnya yang ada di seputar Kota Depok,” ujarnya.

Suami dari Santi Widya (32) dan ayah dari dua anak itu berpendapat, seharusnya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membantu program penyelamatan lingkungan di daerah pinggirannya itu. Kalau DKI membantu menyelamatkan situ-situ di Kota Depok, Jakarta akan terhindar dari kekeringan di musim kemarau dan tidak kebanjiran di musim hujan.

Sumber: KOMPAS,  Rabu, 06 Desember 2006

Berburulah Tanaman Hias ke Sawangan

Kompas, 14 Agustus 2006

Anda mencari tanaman hias adenium,aglonema, atau anggrek? Atau juga tanaman lanskap seperti soka, aralea, krokot, ataupun tanaman air se-
perti lotus dan teratai?

Penggemar tanaman hias biasanya memburunya di Sawangan, Kota Depok. Sejak lima tahun terakhir nama Sawangan memang lebih dikenal kalangan
pencinta tanaman hias di Nusantara ketimbang nama Depok itu sendiri.

Sawangan, nama salah satu kecamatan di Kota Depok tersebut, kini berkembang menjadi sentra tanaman hias, setidaknya untuk wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Sejak Rawabelong di Palmerah, Jakarta Barat, tak berkibar lagi, kini Sawangan
menjadi primadona tanaman hias. Lebih hebatnya lagi, Sawangan bukan hanya dikenal sebagai pusat penjualan, tetapijuga pusat produksi tanaman hias.

Luas sentra tanaman hias di Kota Depok sekitar 40 hektar dengan jumlah petani 500-an, dua pertiga di antaranya berlokasi di Sawangan. Mereka
umumnya tergabung dalam koperasi usaha tanaman hias.

Di Sawangan beberapa kelompok tanaman hias, antara lain, Koperasi Tanaman Hias Maju Bersama di Jalan Raya Sawangan, Kelurahan Bojongsari. Anggota kelompok itu 50-120 orang dengan luas areal 5-10 hektar, dan lebih dari 150 jenis tanaman, terutama tanaman lanskap,
seperti corimbosa, sambang dara, dan crosandra. Omzet setiap bulan koperasi ini antara Rp 250 juta sampai Rp 400 juta.

“Kami berupaya menjadi trendsetter tanaman hias lanskap,” kata Ketua Koperasi Maju Bersama Heri Syaefudin.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kota Depok Ir Khamid Wijaya, tanaman hias dapat menjadi primadona pertanian perkotaan di Depok karena me-
miliki nilai ekonomis yang tinggi dan prospeknya sangat menjanjikan.

Selain itu, akses ke Jakarta juga lebih mudah sehingga sangat tepat jika Sawangan menjadi sentra tanaman hias Jabodetabek. Bahkan, cukup banyak juga pencinta tanaman hias dari luar Jabodetabek, dari luar Jawa,
yang mencari tanaman hias ke Sawangan.

“Pemkot Depok memberi perhatian kepada Sawangan agar jika orang ingin mencari tanaman hias, datanglah ke Sawangan. Bukan ke tempat lain,” kata
Khamid.

“Adenium”

Jika Anda penggemar adenium, tempat yang paling pas didatangi adalah Godongijo di KelurahanCinangka.Berbekallahan sewa seluas 2,3 hektar de-
ngan sistem bagi hasil, Chandra Gunawan Hendarto (45), pemilik Godongijo Nursery, serius menekuni usaha tanaman hias ini sejak lima tahun terakhir. Kini Chandra memiliki cabang di Alam Sutera (Serpong, Tangerang) dan 13 agen di sejumlah kota, antara lain, di Yogyakarta,
Semarang, Surabaya, Medan, dan Denpasar.

Menurut pria asal Kudus, Jawa Tengah, ini usaha tanaman hias cocok untuk semua lapisan orang dan sangat prospektif. Petani berlarian sempit dan berpendidikan rendah pun dapat menjalankan usaha ini. Nilai plusnya, usaha tanaman hias memberi kontribusi hijau bagi lingkungan.

“Sayangnya, usaha ini masih dipandang sebelah mata. Padahal usaha tanaman hias dapat mendorong ekonomi daerah. Ini berbeda dengan tanaman buah,” kata Chandra. Dia memberi contoh, lahan seluas satu m2
saja dapat diisi 35 pot adenium dengan panen empat bulan sekali.
“Dibandingkanjika lahan itu dimanfaatkan untuk sawah, lebih ekonomis usaha tanaman nias. Usaha ini lebih cocok dilakukan di daerah perkotaan,”
ungkapnya Chandra sendiri mengaku memulai usaha adenium di la-
han seluas 500 m 2 dengan dua tenaga kerja untuk menyiram dan melakukan okulasi. Tiga tahun kemudian, ia sudah memiliki 50 tenaga yang bekerja pada lahan seluas 2,3 hektar. Dalam satu bulan, yang terjual rata-rata 2.000 pot dengan harga rata-rata Rp 60.000 per pot. Adenium
termurah dijual Rp 40.000, sedangkan termahal mencapai Rp 50 juta-Rp 60juta.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen Kehutanan (Dephut) Adi Susmianto mengatakan, jika usaha adenium ini usaha budidaya, dari kacamata konservasi, Dephut mendukungnya.
Menjadi petani tanaman hias kini merupakan kebanggaan. “Saya lebih suka disebut sebagai petani. Saya tidak malu,” kata Chandra.

Hal senada disampaikan Heri, “Kita harus dapat meyakinkan para petani bahwa ‘aku bangga menjadi petani tanaman hias’. Petani pun dapat menjadi alternatif kaum profesional. Hilangkan kesan petani sulit diajak maju,” katanya.  (RADHI KUSUMAPUTRA)

2 Comments »

  1. Saya usul Masukan Tokoh Kyai yang memiliki pesantren di kota Depok : KH. Abdussomad R. Fadil ( Pesantren Arrahmaniyah ) Terima kasih

    Comment by Triyono — July 24, 2010 @ 12:53 pm

  2. Dear profiltokohdepok.wordpress.com

    Selamat Pagi,

    Kami dari Humas Merdeka.com bermaksud menawarkan content yang sesuai dengan tipikal blog Anda yang bisa digunakan secara gratis. Content ini sangat mudah aplikasinya dan sangat membantu Anda dalam Reblogging.
    Jika Anda berminat, silahkan kunjungi http://content.merdeka.com/ dan dapatkan contentnya.

    Terima kasih atensinya, kami menunggu kabar baik dari Anda.

    Salam,

    Humas Merdeka.com
    Selvie Chummairoch

    Comment by selvie chummairoch — June 12, 2012 @ 10:07 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: