Profil Tokoh DEPOK

Mustafa Edwin Nasution

H. Mustafa Edwin Nasution Ph.D

mustafaed1

Karirnya terbilang sangat gemilang. Di pundaknya pernah dan sedang dipikul beberapa jabatan. Di antaranya; Ketua Tim Perumusan Kompilasi Nash dan Hujjah Syar’iyyah Bidang Ekonomi syariah (2006); Ketua Tim Ad Hoc Persiapan Badan Wakaf Indonesia; Ketua Program Studi Timur Tengah dan Islam Program Pascasarjana Universitas Indonesia (2001 – sekarang); Ketua Tim Kerja Pembukaan Konsentrasi Interdepartemen “Ekonomi dan Bisnis Syariah”  Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (2005 – sekarang); Anggota Komisi Ekonomi Majlis Ulama Indonesia (2005 – sekarang); Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (2005 – sekarang); Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (2005 – sekarang); dan lain-lain.

Berdirinya Badan Wakaf Indonesia (BWI) tidak lepas dari ide dan jerih payahnya. Ia merupakan penggagas dan pemakarsa lahirnya Undang Undang Nomor 41 tahun 2004 Tentang Wakaf yang  mengamanatkan lahirnya BWI. Berawal dari menghadiri Konferensi Ekonomi Islam ke-4 di Amerika Serikat pada tahun 2002, ia kembali dengan membawa makalah Prof. Dr. M.A. Manan yang memaparkan tentang praktek wakaf uang di Banglades. Kemudian makalah itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan ia presentasikan dalam seminar “Wakaf Tunai Inovasi Finansial Islam: Peluang dan Tantangan dalam Mewujudkan Kesejahteraan Umat”; di kantor Bank Indonesia (BI). Dari seminar itulah muncul gagasan untuk mendirikan badan wakaf. Karena belum ada regulasi yang mengatur pendirian badan wakaf, maka harus membuat regulasi terlibih dahulu yang berupa Undang Undang Tentang Wakaf. Kemudian bersama Dr. KH. Anwar Ibrahim, Drs. KH. Hafidz Utsman, dan Dr. Uswatun Hasanah, MA, ia memnyusun draf Undang-Undang Tentang Wakaf yang akhirnya disahkan oleh DPR pada tahun 2004.

Ia seorang penulis buku, artikel, makalah dan karya ilmiah lainnya. Sebuah buku yang telah ia terbitkan adalah “Permasalahan Tindakan Kolektif: Sebuah Telaah Kasus Tarif di Indonesia”;. Dan pada tahun 2002, ia
meraih Satyalancana Karya Satya yang diberikan oleh Presiden Republi Indonesia. Ia kini tinggal di Gema Pesona Estate Jln. Tole Iskandar No. 45 Depok Telp/Fax: (021) 3916376/3905893, Hp: 0811902541, email:
mstafa_nas@yahoo.com.

September 2008

‘Masjid Gaharu’ menuju kesejahteraan umat

Oleh: Mustafa Edwin Nasution, Ph.D

Monitor Depok (OPINI), 16-Sep-2008

Program yang disebut ‘Masjid Gaharu’ ini dicanangkan secara nasional oleh Menteri Kehutanan, Malam Sambat Kaban, di Masjid Al-Fauzien, Kota Depok, 14 September 2008. Pengembangan budidaya kayu gaharu di masjid-masjid tersebut diinisiasi oleh DMI Kota Depok dan Pusat Penelitian Geografi Terapan (PPGT-FMIPA) Universitas Indonesia (UI).

Budidaya dimulai dari wilayah Depok dan akan dikembangkan di berbagai wilayah lainnya di Indonesia melalui Koperasi Pemberdayaan Ekonomi Masjid Indonesia.

Budidaya kayu gaharu untuk mengantisipasi kepunahan kayu jenis ini di Indonesia. Kepunahan gaharu disebabkan terutama oleh dua hal.

Pertama, teknik penebangan kayu gaharu dan tidak ada kepastian ada atau tidaknya resin gaharu dalam kayu tersebut.

Kedua, karena permintaan kayu gaharu selalu tinggi mengakibatkan menurunnya supply alami. Gaharu umumnya terdapat di hutan-hutan di wilayah hutan Papua, Kalimantan, Halmahera, NTB, NTT, dan Sumate

Bernilai ekonomis

Kayu gaharu memiliki nilai ekonomi tinggi. Terdapat enam klasifikasi harga kayu gaharu – tergantung kualitas dan usia resin yang dihasilkan gaharu — mulai harga termurah Rp100.000 per kilogram hingga Rp30 juta per kilogram. Permintaan resin gaharu selalu meningkat setiap tahun. Negara-negara yang mengimpor banyak gaharu adalah India China, Jepang, Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Pusat Penelitian Geografi Terapan (PPGT) Universitas Indonesia mengembangkan teknologi pembibitan gaharu melalui teknologi kultur jaringan. Lembaga ini juga mengembangkan teknologi serum untuk disuntikkan kepada pohon gaharu tersebut.

Pola yang disebutnya sebagai rekayasa isokulasi jamur tersebut dilakukan setelah pohon gaharu berusia 5 tahun. Teknik penyuntikan jamur ke dalam kayu gaharu dimaksudkan agar pohon tersebut terinfeksi dan berpeluang menghasilkan resin setelah satu sampai tiga tahun kemudian.

Gaharu dapat dibudidayakan masyarakat di areal dataran rendah dengan ketinggian tidak lebih dari 750 meter dari permukaan laut tropis. Apabila di areal tersebut dapat tumbuh pohon berkayu keras seperti rambutan, mangga, nangka, durian, dan sejenisnya, maka kayu gaharu akan tumbuh dengan baik bila dikembangkan di lahan tersebut.

DMI Kota Depok akan bekerjasama dengan masjid-masjid lainnya di Indonesia untuk budidaya gaharu tersebut. Selain memiliki nilai ekonomi, program ini juga berkaitan dengan penghijauan lingkungan hidup dan meningkatkan resapan air untuk kehidupan masyarakat.

Budidaya gaharu merupakan bagian pemberdayakan ekonomi masjid dalam upaya memakmurkan masjid dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Bahkan, bila berkembangan dengan baik, budidaya Gaharu dapat menjadi unggulan agrobisnis Indonesia, selain karena pasarnya cukup besar, juga kayu Gaharu sudah masuk dalam kondisi hampir punah.

Kesejahteraan umat

“Masjid Gaharu” merupakan salah satu program DMI Kota Depok. Pengembangan ekonomi lainnya yang berbasis masjid, antara lain pembangunan jaringan minimarket, pendirian lembaga keuangan syariah (baitul maal wattamwil-BMT), dan kegiatan ekonomi lainnya.

Aktivitas ekonomi masjid ini akan diintegrasikan melalui sistem teknologi informasi yang berbasis internet, sehingga lembaga-lembaga ekonomi masjid dapat saling berkomunikasi, berinteraksi, dan bertransaksi. Konsep pengembangan jejaring ekonomi masjid bernama “Masjid Incorporated” ini dapat menjadi kekuatan ekonomi umat.

Dengan jejaring tersebut, produk usaha mikro dan kecil masyarakat dapat dipasarkan lebih luas, disamping itu jejaring ekonomi masjid akan memiliki posisi tawar dengan produsen besar sehingga dapat memperoleh produk dengan harga yang lebih murah.

Sementara untuk lembaga keuangan BMT, melalui jejaring antara lain dapat melakukan transkasi semacam “kliring” antar BMT. Lembaga keuangan mikro syariah yang terintegrasi ini dapat menjadi channeling agent perbankans yariah di Indonesia karena memiliki jangkauan luas.

Dengan pengembangan ekonomi masjid, selain dapat memakmurkan masjid, juga akan mampu menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan wirausahawan-wirausahawan mandiri, dan meningkatkan pendapatan umat, yang berarti dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Jadi, mari kita memulai peningkatan kesejahteaan masyarakat melalui pendekatan ekonomi masjid. Mulailah dari apa yang bisa dilakukan dulu. Ini adalah solusi bagi permasalahan bangsa kita.

DMI Depok Bangun Masjid Incorporated

Monitor  Depok, 15 September 2008

SUKAMAJAYA, MONDE: Masjid Indonesia (DMI) Kota Depok membentuk Masjid Incorporated guna membangkitkan ekonomi umat dengan memanfaatkan jejaring 1.800-an masjid dan mushalla se-Kota Depok.Ketua DMI Kota Depok Mustafa Edwin Nasution yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia bertekad memakmurkan sejumlah masjid di Kota Depok. Caranya? Dengan menggunakan masjid sebagai pusat ekonomi umat. Aktivitas ekonomi masjid akan diintegrasikan melalui sistim teknologi informasi yang berbasis internet, sehingga lembaga-lembaga ekonomi masjid dapat saling berkomunikasi, berinteraksi dan bertransaksi.“Konsep pengembangan jejaring ekonomi masjid bernama Masjid Incorporated ini dapat menjadi kekuatan ekonomi umat,” ujarnya di masjid al-Fauzien, Perumahan Gema Pesona, Sukmajaya, Depok, kemarin.Hadir pada kesempatan itu Walikota Depok Nur Mahmudi Isma’il, Wakil Walikota Depok Yuyun Wirasaputra, Menteri Kehutanan Malam Sambat Kaban dan sejumlah stake holder masjid di Depok lainnya. Acara ini ditandai dengan penanaman bibit pohon Gaharu, yang hasilnya juga dapat menjadi sumber ekonomi umat.Dengan jejaring tersebut, menurut Edwin, produk usaha mikro dan kecil masyarakat dapat dipasarkan lebih luas, disamping itu jejaring ekonomi masjid akan memiliki posisi tawar dengan produsen besar sehingga dapat memperoleh produk dengan harga yang lebih murah.Menurutnya setidaknya terdapat sekitar 800 hingga 900 masjid di Kota Depok dengan mushola antara 1.700 hingga 1.800-an, hal itu merupakan potensi besar, meski yang terkoordinasi saat ini baru beberapa saja.“Sistem ekonomi kapitalis membina yang besar. Maka kita dari masjid akan membina meraka para pengusaha yang kecil,” katanya.

Edwin menyebutkan, salah satu modal utama misalnya dengan mengunakan tanah wakaf.

“Tanah wakaf saat ini terbukti banyak yang menganggur sehingga tidak produktif,’ katanya.

Ia akan menawarkan fasilitas tanah itu dengan sekaligus menggagas proyeknya untuk ditawarkan kepada Timur Tengah dimana di wilayah itu dikabarkan banyak memiliki modal.

Ia mengungakapkan bahwa ekonomi masjid dapat menjadi kekuatan ekonomi yang besar dalam perekonomian nasional.

Saat ini Indonesia terdapat seitar 700.000 masjid. Bila diasumsikan sebanyak 200.000 masjid memiliki data lembaga keuangan syariah (BTM) dengan modal Rp10 juta, maka akan terhimpaun modal BMT masjid sebesar Rp2 triliun.

Bila masing-masing BMT tersebut mengembangkan asetnya—melalui simpanan anggorta dan pembiayaan modal usaha serta kegiatan usaha lainnya–menjadi Rp100 juta, maka kapitalisasi BMT sudah mencapai Rp20 triliun. Saat ini di Indonesia sudah terdapat sekitar 3.200 BMT dengan total aset Rp2 triliun.

“Dengan kerja keras itu, diharapkan mampu mengatasi warga miskin kota,” katanya. Sebagai salah satu modal awal, kata Edwin, saat ini mengaku ia mendapatkan dana bergulir dari Bank Muammalat dengan dana maksimal Rp100 juta. Meski pun tidak terlalu besar, ia berharap dana itu merupakan setimulan untuk menuju bisnis yang lebih besar.

Nasution, optimis apabila jejaring ekonomi masjid ini dikembangkan dengan baik, akan dapat mengatasi persoalan kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Penduduk miskin di negeri ini masih berjumlah 34,96 juta orang.

Dengan pengembangan ekonomi masjid, kata dia, selain dapat memakmurkan masjid juga akan mampu menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan jiwa kewirausahaan, mandiri dan meningkatkan pendapatan umat.

“Ini berarti dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Depok khususnya dan Indonesia umumnya.(ina/dj)

Menteri Kehutanan Canangkan Gerakan Masjid Gaharu

BUSINESS JOURNAL, Minggu 14-09-2008

INN : JAKARTA – Menteri Kehutanan MS Kaban mencanangkan gerakan nasional budidaya kayu gaharu di lingkungan masjid dan lahan masyarakat (Masjid Gaharu). Pencanangan dilakukan dengan penanaman perdana bibit pohon gaharu varietas unggul oleh Menteri Kehutanan, di Masjid Al Fauzien, Perumahan Gema Pesona, Kota Depok, Minggu (14/9/2008).

Pengembangan budidaya kayu gaharu di masjid-masjid tersebut diinisiasi oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Depok dan Pusat Penelitian Geografi Terapan (PPGT-FMIPA) Universitas Indonesia (UI). Budidaya dimulai dari wilayah Depok dan akan dikembangkan di berbagai wilayah lainnya di Indonesia melalui Koperasi Pemberdayaan Ekonomi Masjid Indonesia.Budidaya kayu gaharu untuk mengantisipasi kepunahan kayu jenis ini di Indonesia. Kepunahan gaharu disebabkan terutama oleh dua hal. Pertama, teknik penebangan kayu gaharu dan tidak ada kepastian ada atau tidaknya resin gaharu dalam kayu tersebut. Kedua, karena permintaan kayu gaharu selalu tinggi mengakibatkan menurunnya supply alami. Gaharu umumnya terdapat di hutan-hutan di wilayah hutan Papua, Kalimantan, Halmahera, NTB, NTT, dan SumateKayu gaharu juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Terdapat enam klasifikasi harga kayu gaharu – tergantung kualitas dan usia resin yang dihasilkan gaharu — mulai harga termurah Rp 100 ribu per kilogram hingga Rp 30 juta per kilogram. Permintaan resin gaharu selalu meningkat setiap tahun. Negara-negara yang mengimpor banyak gaharu adalah India China, Jepang, Arab Saudi dan Amerika Serikat.Pusat Penelitian Geografi Terapan (PPGT) Universitas Indonesia mengembangkan teknologi pembibitan gaharu melalui teknologi kultur jaringan. Lembaga ini juga mengembangkan teknologi serum untuk disuntikkan kepada pohon gaharu tersebut. Pola yang disebutnya sebagai rekayasa isokulasi jamur tersebut dilakukan setelah pohon gaharu berusia 5 tahun. Teknik penyuntikan jamur ke dalam kayu gaharu dimaksudkan agar pohon tersebut tterinfeksi dan berpeluang menghasilkan resin setelah satu sampai tiga tahun kemudian.Gaharu dapat dibudidayakan masyarakat di areal dataran rendah dengan ketinggian tidak lebih dari 750 meter dari permukaan laut tropis. Apabila di areal tersebut dapat tumbuh pohon berkayu keras seperti rambutan, mangga, nangka, durian, dan sejenisnya, maka kayu gaharu akan tumbuh dengan baik bila dikembangkan di lahan tersebut.

Pemberdayaan Ekonomi Masjid

DMI Kota Depok akan bekerjasama dengan masjid-masjid lainnya di Indonesia untuk budidaya gaharu tersebut. Selain memiliki nilai ekonomi, program ini juga berkaitan dengan penghijauan lingkungan hidup dan meningkatkan resapan air untuk kehidupan masyarakat.

Budidaya gaharu merupakan bagian pemberdayakan ekonomi masjid dalam upaya memakmurkan masjid dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Pengembangan ekonomi lainnya yang berbasis masjid, antara lain pembangunan jaringan minimarket, pendirian lembaga keuangan syariah (baitul maal wattamwil-BMT), dan kegiatan ekonomi lainnya.

Aktivitas ekonomi masjid ini akan diintegrasikan melalui sistem teknologi informasi yang berbasis internet, sehingga lembaga-lembaga ekonomi masjid dapat saling berkomunikasi, berinteraksi, dan bertransaksi. Konsep pengembangan jejaring ekonomi masjid bernama “Masjid Incorporated” ini dapat menjadi kekuatan ekonomi umat.

Dengan jejaring tersebut, produk usaha mikro dan kecil masyarakat dapat dipasarkan lebih luas, disamping itu jejaring ekonomi masjid akan memiliki posisi tawar dengan produsen besar sehingga dapat memperoleh produk dengan harga yang lebih murah. Sementara untuk lembaga keuangan BMT, melalui jejaring antara lain dapat melakukan transkasi semacam “kliring” antar BMT. Lembaga keuangan mikro syariah yang terintegrasi ini dapat menjadi channeling agent perbankans yariah di Indonesia karena memiliki jangkauan luas.

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Depok, DR Mustafa Edwin Nasution, optimis apabila jejaring ekonomi masjid ini dikembangkan dengan baik, akan dapat mengatasi persoalan kemiskinan dan pengangguran di Indonesia. Penduduk miskin di negeri ini masih berjumlah 34,96 juta orang.

Dengan pengembangan ekonomi masjid, selain dapat memakmurkan masjid, juga akan mampu menciptakan lapangan kerja, menumbuhkan wirausahawan-wirausahawan mandiri, dan meningkatkan pendapatan umat, yang berarti dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Mustafa Edwin, mengungkapkan bahwa ekonomi masjid dapat menjadi kekuatan ekonomi yang besar dalam perekonomian nasional. Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 700.000 masjid. Bila diasumsikan sebanyak 200.000 masjid memiliki satu lembaga keuangan syariah (BMT) dengan modal Rp 10 juta, maka akan terhimpun modal BMT masjid sebesar Rp 2 triliun. Bila masing-masing BMT tersebut mengembangkan asetnya – melalui simpanan anggota dan pembiayaan modal usaha serta kegiatan usaha lain — menjadi Rp 100 juta, maka kapitalisasi BMT sudah mencapai Rp 20 triliun. Saat ini di Indonesia sudah terdapat sekitar 3.200 BMT dengan total aset Rp 2 triliun.

“Visi saya adalah memakmurkan masjid. Tanpa mengabaikan program-program lainnya, kami akan melakukan pemberdayaan ekonomi masjid dimulai dari Kota Depok,’’ungkap Mustafa Edwin, yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Indonesia tersebut. Sementara program lain yang menjadi priroitas dilakukan adalah mengentaskan umat menjadi melek Al-Qur’an,”tambahnya.

Hari Minggu, 14 September 2008, Mustafa Edwin Nasution bersama pengurus DMI Kota Depok dilantik menjadi pengurus DMI Kota Depok periode 2008-2013 oleh Ketua Umum DPW DMI Jabar, Maulani. Pakar ekonomi syariah dari Universitas Indonesia ini terpilih menjadi ketua umum DMI Depok dalam musyawarah anggota DMI Kota Depok beberapa waktu lalu.

Juli 2008

Mustafa pimpin DMI Kota Depok

Monitor Depok, 15-Jul-2008SUKMAJAYA, MONDE: H. Mustafa Edwin Nasution terpilih menjadi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Depok periode 2008-2013, pada musyawarah daerah pertama yang diselenggarakan di Balaikota Depok.

Syamsuri, sekretaris panitia penyelenggara mengatakan dari empat kandidat DMI pertama Kota Depok H. Mustafa Edwin Nasution terpilih sebagai Ketum DMI dengan jumlah perolehan 10 suara. Mengungguli kandidat lainnya, Masnun Salim yang memperoleh 3 suara, Sadar Harapan 6 suara dan H Munajat kosong. “Jadi H. Mustafa Edwin Nasution terpilih sebagai ketum periode 2008-2013,” ujarnya, kemarin.

Dijelaskannya, Musda DMI berlangsung Sabtu (12/7) di Balaikota yang pertama diselenggarakan. Pemilihan ketum itu diikuti peserta pleno pimpinan daerah sebanyak 11 orang, pimpinan cabang DMI 6 kecamatan di Depok 12 orang, DKM masjid besar sebanyak 12 orang, Masjid Agung Baitul Kamal 2 orang, kemudian utusan pendamping wilayah dua orang.Namun para peserta Musda banyak yang meninggalkan ruangan sebelum waktunya sehingga suara yang masuk sedikit.

“Jadi peserta musda banyak yang abstain,” ujarnya seraya menambahkan Musda berlangsung sejak pukul 07.00 hingga 21.00.

Lebih lanjut dikatakan, tugas DMI adalah meneguhkan peranan masjid sebagai pusat kemajuan kaum muslimin di Depok, kemudian memperbaiki manajemen masjid, pemberdayaan ekonomi umat melalui DKM-DKM dengan terbentuknya unit pelayanan zakat.(sud)

Bisnis Dalam Perspektif Syariah Islam dan Tantangannya

Penulis: Mustafa Edwin Nasution, Ph.D (Ketua Umum IAEI)Sumber: http://iaeipusat.org/lihatartikel.php?id=6, 30 Juli 2008

Agama diturunkan untuk menjawab persoalan manusia baik dalam skala mikro maupun makro. Manusia sebagai kahlifatullah fil ardh menggunakan ajaran agama dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian agama seyogianya dapat mewarnai tata kehidupan sosial ekonomi, politik dan budaya masyarakt. Hal yang sama juga berlaku untuk kegiatan bisnis. Bisnis adalah keseluruhan kegiatan yang diorganisir oleh orang orang yang berkecimpung dalam bidang perniagaan dan industri yang menyediakanbarang dan jasa untuk kebutuhan mempertahankan dan memperbaiki standar serta kwalitas hidup

Bisnis Islami adalah bisnis yang menggunakan prinsip, prosedur, asumsi sekaligus instrumentasi dan epistemologi (sumber pengetahuan) Islam. Eppistemologi Islam yang utama adalah Al Qur’an dan Sunnah. Dengan demikan, setiap pelaku bisnis harus mendasarkan kegiatannya berdasarkan syariah Islam. Syariah Islam adalah seperangkat do’s and don’t yang seyogianya dijadikan pegangan dari para pelaku bisnis.

Muhammad SAW adalah sebuah pribadi yang lengkap dimana kepeloporannya dan ketokohannya serta kreatifitasnya telah terbukti dalam dunia kewirausahaan serta dunia bisnis. Rasulullah telah mencapai kesuksesan dan keyaanan bisnisnya pada usia 40 tahunan. Seperti kita ketahui bersama, beliah melakukan perdagangan keliling dengan rajin dan penuh tanggung jawab pada kegiatan usahannya. Beliau terkenal dengan kejujuran (shidiq) dan kesetiaaanya memegang janji ((amin). Hal ini merukan dasar-dasar dari etika bisnis yang seyogiannya dijadikan teladan dalam praktek bisnis yang ada.

Bisnis yang berbasis syariah Islam di Indonesia sepengetahun penulis muncul pada waktu berdirinya Bank Muamalat Indonesia (1992), walaupun mungkin di beberapa daerah sistem syariah ini juga sudah dipraktekkan seperti sistem bagi hasil. Semenjak berdirinya Bank Muamalat tersebut, maka telah muncul pula berbagai banklainnya yang membentuk usaha yang berdasarkan syariah Islam seperti BNI 46, BRI, BII, Bank IFI, HSBC, Bank Danamon, Bank Bukopin, Bank Jabar dan lain lain. Selanjutnya pada Juni 1997, untuk pertama kalinya ditawarkan reksdana Syariah yang dikelola oleh PT Danarekso Investment Management. Pada tanggal 5 Mei 2000, berdasakarkan kesepakatan antara Bursa Efek Jakarta dan PT Danareksa Investment telah lahir Index Syariah di Bursa Efek Jakarta. Pada tanggal 25 Mei 2000 telah lahir pula reksadana syariah yang kedua yaitu yang dikelola oleh PT PNM Investment Management. Dengan demikian lantai bursa syariah semakin meriah dan semakn banyak instrument instrument investasi syariah yang dapat digunakan masyarakat dalam kegiatan bisnisnya. Pada saat ini di dunia ditperkirakan sudah terdapat lebih kurang 100 reksadana syariah.

Di bidang perasuransian, muncul PT Asuransi Takaful Indonesia yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah Islam. Sampai awal tahun 2003 tercatat lebih dari enam perusahaan asusnsi syariah telah muncul merapaikan kegiatan bisnis syariah dibidang asuransi tersebut. Bidang pegadaianpun t tidak mau ketinggalan dalam bisnis syariah ini. Sampai akhir tahun 2003 telah ada 35 outlet pegadaian Sayriah..

Dengan demikian tampai bahwa dengan berjalannya waktu, bisnis syariah semakin bertambah banyak. Dimasa mendatang diperkirakan kegiatan ini akan diikuti pula oleh bidang bidang bisnis lainya.

Sehubungan dengan makin maraknya kegiatan bisnis yang berbasis syariah tersebut maka terdapat beberapa hal yang perlu disadari bahwa praktek praktek bisnis yang dilakukan para praktisi bisnis harus dilakukan Secara benar dalam arti kata sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam syariah Islam. Dengan demikian menjadi penting bagi masyarakat untuk memahami bagaimana sebenarnya praktek bisnis yang Islami tersebut.- baik bagi pelaksana bisnis maupun bagi pengguna jasa-jasa perusahaan yang berbasis bisnis syariah Islam. Perkembangan yang pesat perusahaan-perusahaan yang berbasis syariah memerlukan dukungan masyarakat baik yang berasalam dari perguruan tinggi, maupun unsur unsur lainnya seperti pemerintah, lembaga lembaga keuangan.

Pertukaran dan Perdagangan Dalam Lintasan Sejarah:

Allah menciptakan manusia dengan berbacam macam sifat yang salah satu diantaranya adalah sifat saling membutuhkan satu dengan lainnya. Tidak ada seorangpun yang dapat memenuhi kebutuhannya secara sendirian, Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka diperlukan adanya kegiatan pertukaran dan perdagangan diantara manusia. Salah satu sistem pertukaran adalah dengan cara jual beli (al Ba’i).

Nabi Muhammad SAW diutus ke muka buni untuk dijadikan teladan bagi seluruh manusia dalam segala aspek kegipannya. Dalam kaitan dengan pertukaran dan perdagangan, pada masa tersebut terdapat berbagai ragam cara pertukaran dan perdagangan. Sebagian ada yang dibenarkan oleh Nabi karena tidak bertentangan dengan ketentuan ketentuan yang ditetapkan oleh Allah sementara ada yang dilarang karena tidak sesuai dengan syariah Islam yang ada. Secara umum dapat kita katakan bahwa syariah Islami membolehkan adanya jual beli (al Ba’i) dan melarang Riba.

Dalam kaitan dengan Riba, sebenarnya bukan agama Islam saja yang melarang riba tersebut. Seluruh agama samawi lainnya juga mengharamkan praktek riba. Taurat,dan Injil dengan tegas melarang praktek pemberian utang atau pinjaman dengan mengutip riba. Kitab Exodus (Keluaran) pasal 22 ayat 25 mengatakan:

“Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku orang yang
miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia: janganlah engkau bebankan bunga uang terhadapnya”

Dalam Kitab Deuteronomy (Ulangan) pasal 23 ayat 19-20 tertulis:

“Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan, atau apapun juga yang dapat dibungakan”.

“Dari orang asing boleh engkau memungut bunga tapi dari saudaramu janganlah engkau memungut bunga supaya Tuhan, Allahmu memberkati engkau dalam segala usahamu dinegeri yang engkau masuki untuk mendudukinya”

Pasal ini menunjukkan bahwa pengambilan bunga baik bunga uang maupun bunga yang berasal dari bahan makan terhadap sesama saudara adalah dilarang. Sementara pengambilan bunga terhadap orang asing adalah boleh. Mungkin hal ini yang merupakan penyebab dari maraknya praktek bunga di dunia pada saat ini. Disini tentunya perlu dikaji secara mendalam mengapa terdapat ayat yang diskriminatif ini.

Selanjutnya dalam Kitab Lecitus (Imamat) pasal 25 ayat 36- 37 tertulis:

“Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu bisa hidup diantaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, jugamakananmu janganlah kauberikan dengan meminta riba”

Sementara dalam Kitab Perjanjian Baru yang ditulis oleh Lukas, ayat 6 pasal 34-35 mengatakan:

“Dan, jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang karena kamu berharap akan menerima sesuatu darinya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang berdosa supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akanbesar dan akmu akan menjadi anak Tuhan Yang Maha Tinggi sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterimakasih dan terhadap orang-orang jahat”

Disini tampak adanya kecapam kepada orang yang mengharapkan jasa atas pemberian pimjaman. Akan tetapi banyak tafsiran dari ayat ini yang memungkin terjadinya praktek bunga seperti yang terjadi pada saat sekarang ini.

Sementara Al Qur’an dengan tegas melarang secara universal praktek riba dengan segala macam bentuknya. Proses pengharaman Riba dalam Qur’an dilakukan secara bertahab dan ayat terkhir yang berkenaan dengan pengharaman Riba adalah ayat yang tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 278-278 :

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinngalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman” “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”

Demikian cara Allah menjelaskan kepada manusia tetntang pengharaman Riba. Ayat diatas adalah ayat terakhir dari serangkaian ayat yang berkenaan dengan riba. Dengan Turunnya ayat tersebut yang dibacakan nabi pada Khutbah Haji terakhir pada tahun ke sembilabn Hijriah, maka sudah tuntas bahwa riba adalah diharamkan dari segala kegiatan dimuka bumi. Turunnya ayat yang terang benderang tersebut,tidak meimbulkan banyak pertanyaan dikalangan para sahabat dan masyarakat pada waktu itu. Dan untuk menafsirkan ayat tersebut, tidak membutuhkan berbagai pemahaman yang cangih. Riba, berapaun besarnya adalah haram

Barangkali ada sebagian sarjana yang mencoba memberikan penjelasan bahwa pelarangan pengambilan bunga (riba) pada masa Rasulullah SAW terjadi karena pengambilan bunga menimbulkan ketidakadilan yang begitu besar kepada mereka yang meminjam atau berutang. Mereka berpendapat bahwa para peminjam dan pengutang ini pada umumnya adalah orang-orang miskin yang melakukan pinjaman semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri. Karena itu pinjaman dengan beban kembalian berbunga merupakan bentuk eksplotasi yang sangat bertentangan dengan prinsip keadilan. Tetapi, lanjut argumentasi mereka, sistem perbankan konvensional modern tidak mengandung eksploitasi demikian. Karena yang meminjam pada umumnya adalah dunia usaha dan bukan orang-orang miskin. Pengembalian berbunga pada transaksi pinjaman demikian dinilai sebagai suatu kewajaran dan tidak bertentangan dengan prinsip keadilan yang manapun.

Namun pendapat demikian tidaklah didukung oleh bukti-bukti sejarah. Prof. Dr. Muammad Abu Zahrah membantah pendapat pendapat ini dalam bukunya “Buhuts Fir Riba” dengan menyatakan bahwa dugaan yang justru memiliki bukti sejarah adalah pinjaman yang tujuannya untuk investasi dan produksi dan bukan untuk konsumsi kebutuhan pokok. Hal ini didasarkan pada corak kehidupan bangsa Arab yang primitif lagi bersahaja. Kehidupan mereka bukanlah suatu corak kehidupan yang luas sehingga memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang banyak. Makanan mereka adalah kurma dan susu serta daging. Tiap-tiap orang baik yang kaya maupun yang miskin, memiliki jenis makanan pokok ini. Barang siapa yang suatu saat tidak memilikinya, ia akan mendapatkan kemurahan tradisional Arab dan akan segera dipenuhi kebutuhannya itu oleh tetangganya, saudaranya atau sahabat-sahabatnya. Pada zaman Nabi SAW, mereka mendapatkan pemenuhan kebutuhan ini lewat Baytul Maal. Maka sukar dinalar bagaimana orang-orang miskin itu berutang hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dengan dibebani pengembalian berbunga.

Di samping itu letak geografis kota Makkah telah menyebabkan penduduk Qurasy menjadi pedagang-pedagang yang ulung. Bangsa Qurasy ini berperan penting dalam proses perdagangan internasional dengan memperdagangkan komoditas dari Parsi dan Romawi. Kafilah-kafilah dagang ini memiliki rombongan yang sangat banyak dan didanai lewat mudharabah atau pinjaman yang berbunga. Pinjaman yang berbunga inilah yang indikasikan oleh seluruh ayat-ayat riba dalam al-Qur’an terdapat cukup bukti untuk mendukung adanya transaksi dagang Muhammad sebelum dan sesudah kenabiannya di Mekkah maupun Madinah. Diriwayatkan bahwa nabi melakukan transaksi, baik untuk penjualan maupun pembelian . Beberapa transaksi dibawah ini memperlihatkan sifat dan ruang lingkup hubungan Muhammad dengan orang lain :

– Transaksi penjualan
Anas meriwayatkan bahwa nabi pernah menawarkan sebuah kain pelana dan bejana untuk minum seraya mengatakan, “ Siapa yang ingin membeli kain pelana dan bejana air minum?” Seorang laki-laki menawarkan seharga satu dirham, dan Nabi menanyakan apakah ada orang yang akan membayar lebih mahal. Seorang laki-laki menawar kepadanya dua dirham, dan ia pun menjual barang tersebut padanya(Tarmidji, Abu Dawud dan Ibn Majah).
Abdullah ibn Abdul Hamzah mengatakan : “Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum ia menerima tugas kenabian, dan karena masih ada suatu urusan ia dengannya maka aku menjanjikan untuk mengantarkan kepadanya, tetapi aku lupa. Karena teringat tiga hari kemudian, aku pun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada di sana”. Nabi berkata : “Engkau telah membuatku resah, aku berada disini selama tiga hari menunggumu” (Abu Dawud)

– Transaksi pembelian
Jabir berkata : “Saya sedang melakukan perjalanan dengan menunggang seekor unta yang sudah kelelahan, tetapi ketika nabi lewat dan memukulnya, unta tadi berjalan lagi. Ini belum pernah ia lakukan sebelumnya. Nabi lalu berkata. “Jualah unta itu padaku seharga satu iqiyah (40 dirham)” Saya setuju, tetapi dengan syarat saya boleh mengendarainya sampai ke rumah. Ketika sampai di Madinah, saya serahkan unta tersebut, dan ia membayar kontan”.

Urwah ibn Abu al-Ja’d al Bariqi mengatakan , Nabi tela memberikan padanya satu dinar untuk membeli seekor biri-biri. Ia pun membeli dua ekor biri-biri, dan menjual satu diantaranya seharga satu dinar. Maka Nabipun memohon berkah atas transaksi dagang ini dan membawa untuknya seekor biri-biri dan satu uang dinar, dan berkata bahwa ia memiliki bakat sedemikian rupa sehinga jika membeli sebutirpun ia akan mendapat untung (Bukhari).
Hakim ibn Hizam berkata, Nabi mengirimkan padanya uang saru dinar untuk membeli seekor domba seharga satu dinar, menjualnya kembali seharga dua dinar, membeli seekor hewan korban seharga satu dinar, dan membawanya bersama keuntungan satu dinar yang didapatnya. Nabi memberikan satu dinar sebagai sedekah serta memohon berkah atasNya (Tarmidzi dan abu Dawud)

– Pembelian secara kredit
Nabi kadang-kadang membeli barang secara kredit, jika tidak mempunyai sesuatu untuk dibayarkan. Abu Rafi’ berkata, “Nabi telah meminjam seekor unta masih muda, dan ketika unta-unta sedekah dating padanya menyuruh saya untuk membayar orang yang menjual unta yang masih muda itu. Ketika saya katakana padanya bahwa saya hanya mampu membayar seekor unta bagus yang umurnya tujuh tahun, beliau mengatakan, “Berikan padanya unta tersebut, sebab orang yang paling utama adalah orang yang menebus utangnya dengan cara yang paling baik” (Muslim ).

Abu Hurairah berkata, seorang laki-laki menagih hutang kepada Nabi dengan sikap sangat tidak sopan, dan para sahabat berkeberatan, tetapi Nabi berkata, “Biarkan saja ia, sebab orang yang mempunyai hak itu boleh bicara, dan belikan ia seekor unta lalu berikan unta itu kepadanya”. Ketika mereka menceritakan pada Nabi bahwa yang dapat mereka peroleh adalah seekor unta yang lebih bagus dari yang ditruntut oleh orang itu, Nabi mengatakan, Belilah unta itu dan berikan kepadanya , sebab yang paling baik di antara kalian adalah orang yang membayar utangnya dengan cara terbaik” (Bukhari dan Muslim).

Abdullah ibn Abi Rabi’ mengtakan, Nabi pernah meminjam darinya empat puluh ribu (dirham), dan ketika membayar Nabi mengatakan, “Semoga Allah SWT memberkahi keluarga dan hartamu. Satu-satunya penghargaan untuk suatu pinjaman adalah pujian dan pembayran kembali (Nasa’i).
Ali menceritakan, Nabi meminjam beberapa dinar dari seorang tabib Yahudi yang meminta pelunasan dari Nabi. Ketika Nabi memberitahu Yahudi tersebut bahwa ia tidak punya apa-apa utnuk membayarnya, Yahudi tersebut berkata, “Saya tidak akan meninggalkanmu Muhammad, hingga engkau membayar saya”. Nabi berkata, “Kalau Begitu saya akan duduk bersamamu.” Dan Nabi pun melakukan hal itu. Nabi sholat dzuhur, ashar, magrib, isya dan esoknya shalat subuh, para sahabat Nabi mengancam orang tersebut, Nabi menyadari tindakan mereka. Lalu mereka berkata, “Rasulullah apakah orang Yahudi ini menahanmu?” Terhadap pertanyaan ini Nabi menjawab, “Tuhanku menahanku untuk tidak menyalahi kesepakatan yang telah kubuat dengan Yahudi tersebut atau orang lain “. Ketika beberapa hari berlalu Yahudi itu lalu berkata, “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasululllah ; separuh kekayaan saya akan saya belanjakan di jalah Allah. Saya bersumpah, saya melakukan ini untuk semata-mata untuk memastikan gambarantentang engkau yang telah diungkapkan dalam Taurat : “Muhammad ibn Abdullah yang bertanah kelahiran kelahiran di kota Makkah, yang hijrah ke Taiba, dan yang memiliki kerajaan di Syria ; tidak bersikap kasar, keras atau suka berteriak di jalan-jalan, dan tidak dikenali kekasaran atau pembicaraan yang tidak senonoh. Berikanlah keputusan tentang harta ini menurut apa yang Allah telah perlihatkan kepadamu”. Orang –orang Yahudi sangat kaya (Baihaqi dalam Dalail an Nubuwwa)

Adalah merupakan fakta sejarah bahwa Muhammad tidak hanya melakukan perdagangan dengan adil dan jujur, akan tetapi ia bahkan telah meletakan prinsip-prinsip mendasar untuk hubungan dagang yang adil dan jujur itu. Kejujuran, keadilan dan konsistensi yang ia pegang teguh dalam traksaksi-transaksi perdagangan telah menjadi teladan abadi dalam segala jenis masalah perdagangan. Menurut Nabi , peraturan-peraturan berikut ini harus diperhatikan dalam berdagang disamping sikap adil dan jujur dalam melakukan transaksi :

Pertama, penjual tidak boleh mempraktekan kebohongan dan penipuan mengenai barang-barang yang dijual pada pembeli. Nabi berkata, “ Apabila dilakukan penjualan, katakanlah : tidak ada penipuan”

Kedua, para pelanggan yang tidak sanggup membayar kontan, hendaknya diberi tempo untuk melunasinya. Selanjutnya, pengampunan hendaknya diberikan jika ia benar-benar tidak sanggup membaya. Seseorang akan dimasukan ke surga, karena pernah berdagang di dunia, dan menunjukan kebaikan orang-orang, memberikan tempo untuk melunasi hutangnya, serta membebaskannya bagi yang sangat membutuhkan.

Ketiga, penjual harus menjauhi sumpah yang berlebih-lebihan dalam menjual sesuatu barang. Nabi berkata, “Hati-hatilah terhadap sumpah berlebihan dalam suatu penjualan. Meskipun ia meningkatkan pemasaran, tetapi juga akan mengurangi berkahnya”.

Keempat, hanya dengan kesepakatan bersama, atau dengan suatu usulan dan penerimaan, penjualan suatu barang akan sempurna. Nabi berkata, “Keduanya tidak boleh terpisah kecuali dengan kesepakatan bersama”.

Kelima, penjual harus tegas terhadap timbangan dan takaran. Mengenai ini Nabi berkata, “Tidak ada satu kelompok yang mengurangi timbangan dan takaran, tanpa diganggu oleh kerugian “. Nabi diriwayatkan juga berkata kepada para pemillik takaran dan timbangan, “Sesungguhnya kamu telah diberi kepercayaan dalam urusan yang membuat bangsa-bangsa yang terdahulu sebelum kamu di musnahkan”

Keenam, orang yang membayar di muka untuk pembelian suatu barang tidak boleh menjualnya sebelum barang tersebut menjadi miliknya. Nabi berkata, “Barang siapa membayar dimuka untuk suatu barang, jangan biarkan menyerahkan barang tersebut kepada orang lain sebelum barang tersebut menjadi miliknya”.

Ketujuh, Nabi telah melarang segala bentuk monopoli dalam perdagangan dengan mengatakan, “Barang siapa yang melakukan monopoli, maka ia adalah pendosa”.
Kedelapan, tidak ada komoditi yang boleh dibatasi. Anas meriwayatkan bahwa pada suatu ketika dimasa Rasulullah harga-harga melonjak tinggi. Mereka meminta, “Wahai Rasulullah , batasilah harga uantuk kami”. Nabi menjawab, “Sesungguhnya Allahlah yang menaikkan harga, membatasi, melimpahkan dan membagikan bantuan makanan”
Ini merupakan suatu keputusan dalam menangani masalah perdagangan besar . Jika harga dibatasi, lalu tidak akan ada perusahaan dagang dan niaga, maka perdagangan akan berhenti.

Prinsip-prinsip Umum Ekonomi Islam

Walaupun pemikiran para pakar tentang ekonomi islami terbagi-bagi ke dalam tiga mazhab, yaitu mazhab Baqir as-Sadr, mazhab Mainstream, dan mazhab Alternatif-kritis, namun pada dasarnya mereka setuju dengan prinsip-prinsip ini membentuk keseluruhan kerangka ekonomi islami, yang jika diibaratkan sebagai sebuah bangunan yang divisualisasikan sebagai berikut:

Bangunan ekonomi Islam didasarkan atas lima nilai universal, yakni: Tauhid (keimanan), Adl (keadilan), nubuwwah (kenabian), Khilafah (pemerintahan), dan Ma’ad (hasil). Kelima nilai ini menjadi dasar inspirasi untuk menyusun proposisi-proposisi dan teori-teori ekonomi Islam.

Namun, teori yang kuat dan baik tanpa diterapkan menjadi sistem, akan menjadikan ekonomi Islam hanya sebagai kajian ilmu saja tanpa memberi dampak pada kehidupan ekonomi. Karena itu, dari kelima nilai-nilai universal tersebut, dibangunlah tiga prinsip derivatif yang menjadi itu adalah multitype ownership, freedom to act, dan Social Justice .

Di atas semua nilai dan prinsip yang telah diuraikan di atas, dibangunlah konsep yang memayungi kesemuanya yakni konsep akhlak. Akhlak menempati posisi puncak, karena inilah yang menjadi tujuan Islam dan dakwah para Nabi, yakni untuk menyempurnakan akhlak manusia . Akhlak inilah yang menjadi panduan para pelaku ekonomi dan bisnis dalam melakukan aktivitasnya.

Mudharabah dan Musyarakah

Jenis pembiayaan yang sering dilakukan oleh kaum muslimin dalam perjalanan sejarah mereka adalah mudharabah dan musyarakah (partnership). Mudharabah adalah suatu bentuk perkongsian di mana salah satu pihak bertindak sebagai financier (penyedia dana finasial) sementara pihak lain menyediakan jasa keusahaan (entrepeneurship). Pada posisi demikian, sang financier bukanlah bertindak sebagai peminjam dana (lender atau creditor) melainkan sebagai investor yang akan menyumbangkan dana finansial itu untuk tujuan-tujuan produktif. Sebaliknya, sang pengelola dana akan bertindak sebagai entrepreaneur (fund manager)dan bukan debitor. Hubungan yang terjalin atara kedua belah pihak merupakan suatu hubungan kemitraan dan kerja sama dan bukan layaknya hubungan yang terjaga dalam transaksi pinjam-meminjam. Keuntungan dari usaha ini akan terbagi dua berdasarkan proporsi yang disepakati kedua belah pihak. Namun jika terjadi kerugian, maka sang financier yang akan mendapatkan kerugian sementara pengelola dana akan kehilangan tenaga dan waktunya.

Dalam musyarakah sang financier terlibat langsung terhadap proses kegiatan bisnis. Ia berbeda dari mudharabah karena dalam mudharabah sang financier adalah seorang mitra tidur (sleeping partner). Jika terjadi kerugian, maka kerugian itu akan dihitung proporsional terhadap modal yang telah disetor dalam perkongsian ini. Jika terjadi keuntungan maka akan dibagikan berdasarkan yang telah disepakati di depan. Liabilitas sang financier akan terbatas hanya pada jumlah pembiayaan yang diberikan dalam usaha ini.

Sekalipun Islam melarang transaksi berbasis bunga dan menggalakkan penyertaan modal sendiri (equity financing), namun islam tidak mengharamkan kredit secra umum. Islam membolehkan penyaluran kredit yang langsung berhubungan dengan pembelian barang dan jasa. Ini dapat kita lihat dalam jual beli(Al- Ba’i), murabahah, salam dan istihna’. Murabahah suatu perjanjian penjualan di mana penjual membelikan suatu barang yang dibutuhkan oleh pembeli kemudian menjualnya kepada pembeli dengan suatu marjin keuntungan yang disepakati. Pembayaran dapat dilakukan lewat cicilan maupun lump sum. Dalam jual beli salam, pembelian dengan penyetoran seluruh harga dilakukan di depan sementara barang yang dipesan akan diantarkan di masa yang akan datang. Sedangkan Istihna’ adalah suatu perjanjian penjualan di mana seorang kontraktor menyepakati untuk memproduksi atau membangun dan mengantarkan suatu barang tertentu yang dipesan dengan suatu harga yang telah disepakati dengan pihak pemesan. Pembayaran dapat juga diberikan lewat cicilan atau sesuai dengan kemajuan pembuatan barang yang dipesan. Disamping itu ada juga modal yang lain seperti ijarah (leasing). Kesemua moda ini dimaksudkan untuk memenuhi tuntutan kegiatan bisnis pada masa itu dan dapat juga dipergunakan secara luas dalam kegiatan bisnis modern.

Banyak sarjana dan peneliti non muslim yang membuktikan bahwa perdagangan internasional yang dilakukan oleh kaum Muslimin pada masa kejayaan mereka umumnya dimotori oleh pembiayaan mudharabah dan musyarakah. Hampir di seluruh bidang industri telah memakai moda ini termasuk dalam pembiayaan pertanian, kerajinan, industri olahan dan perdagangan luar negeri baik sesama Muslim maupun dengan mereka yang non Muslim seperti Yahudi dan Nasrani.

Begitu luasnya penggunaan moda pembiayaan ini dalam memobilisasi modal dan mudahnya akses bagi dunia usaha maka terjadilah pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat dan besar dalam perekonomian dunia Islam. Di samping itu pola ini telah mendorong lebih jauh perdagangan internasional mulai Maroko dan Spanyol di Barat sampai India, China dan asia Tengah di Timur. Ini tidak hanya direkam oleh data sejarah yang dapat ditemukan di perpustakaan-perpustakaan melainkan juga oleh kenyataan ditemukannya mata uang Islam di berbagai belahan dunia seperti Rusia, finlandia, Swedia, Norwegia, Inggris dan lain-lain.

Kriteria Kualitas Sumber Daya Insani

Dalam Alquran Allah berfirman bahwa manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi, artinya untuk menjadi pemimpin dan pemakmur bumi. Karena itu pada dasarnya setiap manusia adalah pemimpin. Nabi bersabda : “Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya”. Ini berlaku bagi semua manusia baik dia sebagai individu, kepala keluarga, pemimpin masyarakat atau kepala Negara. Nilai ini mendasari kehidupan kolektif manusia dalam Islam (siapa memimpin siapa). Fungsi utamanya adalah agar menjaga keteraturan interaksi (mu’amalah) antar kelompok termasuk dalam bidang ekonomi agar kekacauan dan keributan dapat dihilangkan, atau dikurangi. Firman Allah SWT dalam Alquran : “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka dimuka bumi , niscaya mereka ……menyuruh berbuat baik dan mencegah dari perbuatan jahat”

Sebenarnya bagi umat Islam Nabi Muhammad adalah tokoh satu-satunya yang dijadikan panutan dalam kehidupan kemasyarakatan, baik dalam kehidupan sosial, politik maupun ekonomi. Dalam Islam, pemerintah memainkan peranan yang sangat penting. Peran utamanya adalah menjamin perekonomian agar berjalan sesuai dengan syariah dan untuk memastikan tidak terjadi pelanggaran hak-hak asasi manusia . Semua ini dalam kerangka mencapai maqasid al-syariah (tujuan-tujuan syariah), yang menurut Imam Al-Ghazaliy adalah untuk memajukan kesejahteraan manusia. Hal ini dicapai dengan melindungi keimanan, jiwa, akal, kehormatan dan kekayaan manusia. Implikasi nilai ini dalam kehidupan ekonomi dan bisnis adalah untuk mendapatkan laba. Laba dunia dan laba akhirat. Karena itu konsep profit mendapatkan legitimasi dalam Islam.

Dalam pemerintahan, kokohnya perekonomian dan supremasi pemerintahan RI amat tergantung kepada lancarnya cash flow keuangan publik. Sementara itu kelancaran cash flow tersebut amat ditentukan oleh kualitas sumber daya insani sebagai tulang punggung pelaksana. Negeri ini rontok perekonomiannya dan pudar kekuatannya karena aparat eksekutif, legislative dan yudikatif yang tidak memiliki kesalehan, keamanahan, komitmen kepada ajaran agama, dan suka mengambil hak orang lain. Apa yang sudah dijelaskan oleh Imam Abu Yusuf dalam kitabnya al-Kharaj, dan yang dilanggar oleh para pengambil kebijakan di negeri ini 100 persen terjadi benar-benar.

Beliau menulis tentang sifat-sifat yang harus menghiasi diri para aparat pajak (kharaj) dan usyur (pajak bagi hasil dalam prosentase). Terhadap yang pertama, beliau menulis :” Aku melihat engkau mengumpulkan sekelompok orang yang sudah dikenal reputasi kesalehannya (ahl as-Sholah), komitmen keagamaannya dan keamanahannya untuk diangkat sebagai seorang petugas kharaj. Siapapun dari mereka yang anda angkat hendaklah seorang yang faqih (memahami hukum syariah), memilki pengetahuan yang cukup (alim), selalu bermusyawarah dengan orang yang ahli di bidangnya dan menahan diri dari hak orang lain (afif). Hendaknya ia tidak terlihat cacat di mata rakyat dan tidak takut celaan dari orang yang mencelanya selama ia dalam alur yang benar, menjaga apa yang harus dijaga dan melaksanakan apa yang harus diamanahkan kepadanya semata-mata mengharapkan balasan yang baik dari Allah SWT. JIka tidak memilki sifat keadilan, tidak kredibel, dan tidak dipercaya, maka ia tidak dapat dipercaya untuk menghimpun harta. Dan orang yang engkau angkat hendaknya tidak berlaku kejam kepada para pembayar kharaj, tidak meremehkan mereka dan tidak menghina mereka. Namun ia menghiasi dirinya sifat lembut yang dibarengi dengan sedikit keras dan tegas tanpa harus bertindak zalim atau bertindak melebihi kewenangannya. Kelembutan (diperlukan) untuk menghadapi sesame muslim, ketegasan (ghildhoh) diperlukan untuk menghadapi penjahat, keadilan untuk menghadapi kaum minoritas (ahl ad-dzimmah) dan mereka yang dizalimi, kekerasan (syiddah) untuk menghadapi orang zalim dan hendaklah mereka meminta maaf kepada rakyat… Hendaknya mereka menjunjung tinggi prinsip persamaan dalam majlisnya dan dicerminkan pada raut mukanya sehingga semua golongan apakah yang dekat, yang jauh, yang kaya dan yang miskin sama di hadapannya.

Terhadap aparat yang akan bertugas menghimpun usyur (pajak bagi hasil dalam prosentase) beliau memberikan rincian kriteria: “ Adapun petugas usyur, hendaknya anda mengangkat sekelompok orang yang sudah dikenal reputasi kesalehannya (ahl as-Sholah) dan komitmennya terhadap agama. Engkau perintahkan mereka agar tidak melampaui batas terhadap rakyat dalam melaksanakan tugas-tugas mereka dan tidak berbuat zalim. Hendaknya mereka tidak mengambil (usyur) melebihi dari yang telah diwajibkan kepada mereka dan mereka mengikuti apa yang sudah ditetapkan atas mereka” keuangan publik, beliau juga mengikuti perkembangan di lapangan dan memonitornya dengan seksama. Pantauan beliau memberikan sumbangan yang tidak kalah pentingnya. Beliau menginginkan prinsip-prinsip yang mendasari pelaksanaan di lapangan ini memberikan hasil (output) yang sesuai dengan harapannya. Jika meleset, maka perlu dilakukan peninjauan ulang untuk memastikan apakah hal ini terjadi karena kesalahan prosedur atau karena kesalahan yang disengaja oleh petugas.

Dengan monitoring dan pengawasan (mutaba’ah dan muraqabah) seperti ini, diharapkan tidak terjadi penyelewengan yang dilakukan oleh aparat karena proses pegawasan ini terjadi dari dua sisi yaitu sisi internal (iman) dan sisi eksternal (monitoring atasan atau penguasa). Namun pengawasan secara internal jauh lebih efektif daripada pengawasan eksternal.

Bagi umat muslim, Allah telah mengutus Nabi Muhammad untuk diteladani samppai akhir zaman, Sifat-sifat Nabi yang harus diteladani oleh manusia pada umumnya dan pelaku bisnis pada khususnya, adalah sebagai berikut :

Siddiq

Sifat siddiq (benar, jujur) harus menjadi visi hidup setiap muslim. Karena hidup kita berasal dari Allah, maka kehidupan di duniapun harus dijalani dengan benar. Dari konsep sidq ini, muncullah konsep turunan khas ekonomi dan bisnis, yakni efektifitas (mencapai tujuan dengan tepat,benar) dan efisiensi (melakukan kegiatan dengan benar, yakni menggunakan tehnik dan metode yang tidak menyebabkankemubaziran.

Amanah

Amanah (tanggung jawab, dapat dipercaya, kredibilitas) menjadi misi hidup setiap muslim. Karena seorang muslim hanya dapat menjumpai Allah dalam keadaan ridha dan diiridhai , yaitu manakala ia menepati amanat yang telah dipikul kepadanya. Sifat ini akan membentuk kredibilitas yang tinggi dan sikap penuh tanggung jawab pada setiap individu muslim. Kumpulan individu dengan kredibilitas dan tanggung jawab yang tinggi akan mealahirkan masyarakat yang kuat, karena dilandasi oleh saling percaya antar anggotanya. Sifat amanah memainkan peranan penting dalam kehidupan ekonomi dan bisnis, karena tanpa kredibilitas dan tanggung jawab kehidupan ekonomi dan bisnis akan hancur.

Fathanah

Sifat fathanah (kecerdikan,kebijaksanaan,intelektualitas) dapat dipandang sebagai srategihidup setiap muslim. Karena untuk mencapai Allah SWT, seorang muslim harus mengoptimalkan segala potensi yang telah diberikan oleh-Nya. Potensi yangberharga dan mahal yang hanya diberikan pada manusia adalah akal (intelektualitas). Karena itu Allah berfirman, “Dan orang yang paling bertagwa justru adalah orang yang paling mengoptimalkan potensi pikiranya. Bahkan peringatan palking kerasadalah Dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”.

Tabligh

Sifat tabligh (komunikasi, keterbukaan,pemasaran) merupakan taktik hidup muslim karena setiap muslim mengemban tanggung jawab da’wah, yakni menyeru, mengajak, memberitahu. Sifat ini bila sudah mendarah daging pada setiap muslim, apalagi yang bergerak di bidang ekonomi dan bisnis sebagai pemasar-pemasar yang tangguh dan lihai. Karena sifat tabligh menurnkan prinsip-prinsip ilmu komunikasi (personal maupun massal), pemasaran, pennjualan, peiklanan,pembentukan opini massa, open management, iklim keterbukaan dan lain-lain.

Dengan demikian kegiatan ekonomi dan bisnis manusia harus mengacu pada prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh nabi dan rosul. Walaupun demikian pelaku ekonomi dalam kerangka ini dapat dipegang oleh umat nonmuslim. Sehingga perekonomian secara keseluruhan dapat berkembang.

Penutup

Perkembangan system bisnis syariah di masa mendatang, pada akhirnya akan sangat tergantung dari kualitas sumber daya insani yang bergerak dalam kegiatan bisnis syariah beserta elemen-elemen yang menopangnya. Tersediannya sumber daya insani yang berintegrasi tinggi dan kompeten di bidangnya sangatlah diperlukan oleh bisnis syariah. Integritas yang tinggi hanya bias diperoleh dan dipertahankan bila dilandasi kejujuran (shiddiq) dan dapat dipercaya (amanah); sedangkan kompetensi perlu didukung dengan kecerdasan (fathonah) serta keterbukaan dan komunikatif (tabligh). Keempat sifat ini, Shiddiq, tabligh, amanah, Fathonah (STAF) sebagaimana telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW kiranya perlu menjadi pegangan kita semua, terutama sekali yang berkecimpung dalam bisnis khususnya bisnis syariah .
Bisnis syariah hanyalah sub sistem dalam sebuah sistem ekonomi yang lebih besar, yang dewasa ini belum sesuai dengan syariah. Oleh karena itu, betapapun kita ingin mewujudkan bisnis syariah yang ideal, harapan tersebut tentu tidak mudah dilaksanakan bilamana system ekonomi yang lebih luas dan system-sistem lalinnya belum sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Keberhasilan bisnis syariah di masa depan juga tergantung kepada kemampuan bisnis syariah menyajikan produk-produk dan jasa-jasa yang sesuai dengan syariah namun menarik, kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jawaban-jawaban normatif seperti “fatwa MUI tentang bunga bank haram” atau” adanya pengawas agar sesuai syariah” sering dirasakan kurang memadai dan terkadang timbul kesan bahwa instrument yang dipakai adalah konvensional yang diberikan “baju” syariah.
Oleh karena itu, dalam rangka pengembangan bisnis syariah ke depan diperlukan product development yang didasarkan penelitian dan riset yang baik. Untuk melakukan research-based product development yang efektif namun juga efisien, tampak diperlukan kerjasama baik sesama pelaku bisnis syariah maupun antara pelaku bisnis syariah dengan pihak-pihak lain seperti : ulama, otoritas, para ahli dan akademisi. Selain itu perlu juga dukungan dari masyarakat dengan cara membiasakan diri dan keluarga berperilaku islami sehingga akan tergambar dalam kehidupan sehari-hari dan akan mempengaruhi organisasi, lembaga, dan masyarakat secara keseluruhan. Budaya Islami dapat terwujud dalam berbagai bentuk kehidupan.
Banyaknya tantangan yang besar dalam melaksanakan bisnis syariah membutuhkan dukungan pemerintah untuk mendorong dan menciptakan kondisi yang konduksif bagi pengembangan bisnis khususnya bisnis syariah.

Dengan adanya pola empirik maka diharapkan prinsip dan sistem bisnis yang dihasilkan akan lebih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sistem bisnis yang kita klaim sebagai system yang Islami dapat dibuktikan sebagai sistem bisnis yang terbaik sebagaimana hadist Rasulullah SAW yang menyatakan Islam itu diatas dan tidak ada sistem yang lebih baik diatasnya.
Agenda ini bukan kewajiban para praktisi bisnis syariah atau ekonom saja, tetapi agenda kita semua yang mengaku dirinya sebagai ummat Islam termasuk ulama, tokoh masyarakat, pengusaha, akademisi, mahasiswa, birokrat dan politikus. Mudah-mudahan jika kita dapat bekerja sama dan terpadu, proses ini akan lebih cepat mencapai hasil. Penelitian-penelitian ilmiah, publikasinya di majalah riset ilmiah serta kegiatan seminar, diskusi, bedah buku akan sangat membantu proses ini. Kita harus terus berusaha dan berharap semoga Allah SWT dapat mempermudah upaya kita untuk melaksanakannya . Amin

Mustafa Edwin Nasution: “Saya Ingin Seluruh Lembaga Pendidikan Mengajarkan Ekonomi Syariah”

Perkembangan lembaga keuangan syariah di Indonesia tak akan maju bila tak didukung oleh peran dari lembaga pendidikan sebagai motor inovasi pengembangan ekonomi syariah. Sebab, dalam pendidikan ekonomi syariah melahirkan banyak penelitian yang bermanfaat bagi industri keuangan syariah.Hal ini yang membuat, berbagai negara yang telah mengembangkan lembaga keuangan syariah seperti Malaysia terus mensinergikan antara akademisi dengan praktisi.


Lantas bagaimana dengan Indonesia? Untuk Indonesia hingga kini belum terbentuk dan masih berjalan sendiri-sendiri.

Tapi bagi Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Dr. Mustafa Edwin Nasution, menyakini suatu saat nanti sinergi tersebut akan terwujud. Terlebih dalam pengembangan ekonomi syariah di Indonesia saat ini telah banyak melahirkan penelitian-penelitian yang bermanfaat bagi industri keuangan syariah.

Untuk menyakinkan hasil penelitian tersebut, IAEI di bulan Agustus akan menggelar acara Seminar Internasional di Universitas Airlangga – Surabaya, dan mempublikasikan bagaimana perkembangan penelitian ekonomi syariah di Indonesia.

Lalu perkembangan ekonomi syariah seperti apakah yang diinginkan oleh Ketua Umum IAEI, ini? Agus Yuliawan dari  pkesinteraktif.com, berbincang-bincang dengan Dr. Mustafa Edwin Nasution, di kampus PSTTI – UI Salemba Jakarta. Berikut pembicaraanya:

Kabarnya IAEI di bulan Agustus nanti akan mengadakan Seminar Internasional di Surabaya, apa benar?

Insyaallah di bulan Agustus itu kami akan mengadakan acara seminar ekonomi syariah bertaraf internasional.


Apa keinginan IAEI diacara tersebut?

Kami ingin mengembangkan ilmu ekonomi syariah menjadi sebuah sistem altenatif ditengah krisis dunia saat ini yang diakibatkan oleh sistem kapitalisme yang terus melakukan eksploitasi.

Untuk pengembangan di Indonesia, apa saja yang sudah dilakukan oleh IAEI?

Selama ini IAEI masih bersifat pada pendidikan dan pengembangan ilmu ekonomi syariah, kita berharap diseluruh lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia mengajarkan tentang pengetahuan ekonomi syariah.

Untuk mempersiapkan itu, strategi apa yang telah dilakukan oleh IAEI?
Untuk mengembangkan itu, kami telah menyiapkan kurikulum, tenaga pengajarnya dan materi-materi pengajaran ekonomi syariah. Dengan ini semua kami berharap gelombang pendidikan ekonomi syariah di Indonesia lebih berkembang pesat.

Bicara kurikulum pendidikan ekonomi syariah di Indonesia, adakah spesifikasi kurikulumnya pengajarannya?

Dalam kurikulum ekonomi syariah di Indonesia ini lebih spesifik pada lembaga keuangan Islam (Islamic Finance) baik itu perbankan, pasar modal dan asuransi syariah.

Menurut Anda sejauh ini berapa besar kebutuhan SDM untuk mengoperasikan lembaga keuangan syariah?

Jika di Indonesia itu dibutuhkan sekitar 14 ribu SDM dan jika diseluruh dunia dibutuhkan 70 ribu SDM dengan asumsi perkembangan dari lembaga keuangan syariah di Indonesia atau di dunia.

Regulasi tentang pengembangan ekonomi syariah telah diterbitkan, apa komentar Anda?Kami sangat bahagia sekali melihat itu semua, apalagi tahun ini merupakan awal tahun yang baik bagi perkembangan ekonomi syariah di Indonesia, dimana lembaga keuangan syariah merespon baik terhadap peran lembaga pendidikan syariah di Indonesia. Hal ini bisa terlihat dari beberapa rekomendasi yang terlahir dalam ranah akademika bisa diimplementasikan di lembaga keuangan syariah.

Bagaimana Anda melihat sikap dari Departemen Pendidikan Nasional?

Saya rasa semuanya pada mendukung adanya perkembangan ekonomi syariah, terlebih dengan hadirnya UU Perbankan Syariah merupakan amanah dari negara yang harus dilakukan oleh semua pihak. Bukan hanya Diknas saja tapi pemerintah, DPR dan masyarakat

Selasa, 15 Juli 2008

1 Comment »

  1. insya4jjl program yang baik ini akan dimudahkan dan dapat direalisasikan bagi kepentingan dan kemakmuran seluruh ummat indonesia.

    Comment by emkaass — November 2, 2011 @ 3:03 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: