Profil Tokoh DEPOK

Raden Sudrajat

Raden Sudrajat

Lurah Kelurahan Pancoran Mas

Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Setda Kota Depok

Camat Kecamatan Pancoran Mas

November 2008

100 Guru dapat pelatihan pencak silat

Monitor Depok, 11 November 2008DEPOK JAYA, MONDE: Pencak Silat merupakan olahraga beladiri warisan leluhur yang menjadi jati diri bangsa. Melestarikan Dinas Pendidikan Kecamatan Pancoranmas bidang seni budaya generasi muda dan olahraga bekerja sama dengan PGRI setempat menyelenggarakan pelatihan pencak silat untuk guru-guru olahraga SD se-Panmas, kemarin.

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan dan wawasan guru olahraga SD se-Panmas mengenai Pencak Silat. Sekalgus untuk meningkatkan prestasi,” ungkap Use Supriadi SPd MM selaku Pembina seni budaya generasi muda dan olahraga dinas Pendidikan Kecamatan Pancoran Mas, kepada Monde.

Program pelatihan yang digelar dib alai Rakyat Depok Jaya Pancoran Mas ini dan diikuti 100 guru olahraga juga dimaksudkan untuk mempersiapkan siswa/i di sekolahnya dalam menghadapi pekan olahraga (POR) usia dini sekolah dasar, baik tingkat kecamatan, kota, maupun provinsi.

Hadir dalam kesempatan ini camat Pancoranmas Rd Sudrajat yang juga membuka pelatihan. “Pelatih yang didatangkan merupakan salah satu pengurus Ikatan Pencak silat (IPSI) tingkat Jawa Barat.” tambah Use yang juga merupakan ketua panitia pelatihan. Ketua PGRI kecamatan Pancoran Mas H Syamsudin Azhari mengungkapkan apa yang didapat oleh para guru dari pelatihan ini diharapkan menjadi modal untuk disampaikan kepada siswa.

“Setelah para guru mengikuti pelatihan ini, guru dapat melanjutkannya kepada para siswa untuk menambah pengetahuan siswa tentang Pencak Silat yang pada akhirnya meningkatkan prestasi mereka.”

POR Usia Dini SD tingkat Kota Depok, kecamatan Panmas berhasil menorehkan prestasi di cabang Pencak Silat. Bahkan menjadi salah satu yang dikirim ke tingkat provinsi.(m-9)

Panmas canangkan HKG

Monitor Depok, 8 November 2008PANMAS, MONDE: Dengan mengusung tema mewujudkan keluarga kecil, sehat, bahagia, dan sejahtera, TP PKK Pancoran Mas mencanangkan Hari Kesatuan Gerak (HKG) tingkat kecamatan, kemarin.

Hadir dalam kesempatan ini ketua TP PKK Kota Depok Nur Azizah Tamhid, Camat Pancoran Mas Rd Sudrajat, Ketua TP PKK Panmas Elly Purwanasaei, perwakilan dari Polsek, Koramil, Puskesmas, para lurah, ketua TP PKK kelurahan, ketua LPM se-Panmas.

Rd Sudrajat, Camat Panmas mengatakan, pencanangan ini merupakan tindak lanjut dari pencanangan HKG tingkat Kota Depok yang dilaksanakan sehari sebelumnya. “Setelah pencanangan HKG Kota Depok, akan dilanjutkan serentak pada 10 November, Panmas menjadi yang pertama karena pada tanggal yang sama ada penilaian P2WKSS.”

Ketua TP PKK Kota Depok, Elly berpesan pencanangan ini dapat dilanjutkan dengan aksi nyata bukan hanya sebatas rencana dan laporan. “Diharapkan ini menjadi kegiatan rutin tahunan sehingga saat akan ada penilaian tidak menjadi masalah. Meskipun belum ada pencanangan, kegiatan tetap berlangsung semampunya. Ini bisa dimulai dari November hingga Desember akhir.”

Dengan kegiatan positif seperti ini masyarakat diharapkan memiliki obsesi yang baik sehingga berdampak positif pula bagi keluarga prasejahtera dan sejahtera tingkat satu.

“Ini merupakan amanah untuk memberdayakan masyarakat tingkat bawah. Kita berfungsi sebagai penyuluh dan penggerak yang bisa memotivasi sehingga apa yang terjadi di tengah masyarakat dapat terpantau. Satu kader nantinya diharapkan dapat menangani 10-20 keluarga.”(m-9)

Oktober 2008

Kasus Gizi Buruk Jadi Perhatian Pemkot Depok

Kompas.com, Minggu, 12 Oktober 2008DEPOK, MINGGU – Menyusul tewasnya Wahyu Saputra akibat gizi buruk, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok memfokuskan penanganan masalah kualitas gizi anak-anak dan berupaya agar kejadian itu jangan sampai terulang lagi.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail di Depok, Minggu (12/10), mengimbau kepada para ibu untuk memaksimalkan fasilitas kesehatan yang ada, seperti RW siaga, puskesmas, ataupun posyandu. Seharusnya, kata dia, semua fasilitas itu dijadikan sarana mengatasi masalah kesehatan yang ada.

Wali kota secara pribadi turut merasa prihatin dengan adanya kejadian tersebut dan menilai penanganan gizi buruk belum tertangani dengan sistematik. Ia juga mengimbau agar pihak keluarga tidak membiarkan saja jika terjadi kasus serupa.

“Seharusnya, orangtua juga lebih proaktif memeriksakan kesehatan anaknya,” katanya.

Nur Mahmudi meyakinkan kepada warga bahwa pihak pemerintah kota melalui dinas kesehatan setempat siap memberikan pelayanan. Kasus tewasnya bocah penderita gizi buruk tersebut bukan sengaja menelantarkan warganya.

“Para orangtua harus proaktif untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan di puskesmas dan meminta solusi penyelesaiannya,” ujarnya.

Sebelumnya, diberitakan, Wahyu (6), bocah warga RT 02 RW 06 Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, meninggal dunia akibat kekurangan gizi. Ketika meninggal, Wahyu hanya memiliki berat badan 10 kilogram.

Menurut Camat Pancoran Mas Ajat Sudrajat, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan angka gizi buruk di wilayahnya, yaitu dengan memberikan penyuluhan, pemberdayaan keluarga, pemantauan pemberian makanan tambahan, seperti bubur kacang hijau, pemulihan dan rujukan.

“Untuk itu diperlukan alternatif lain, yaitu dengan pendekatan perilaku kepada masyarakat dan dukungan dari masyarakat sendiri,” katanya.

Untuk penanganan gizi buruk di Pancoran Mas, setidaknya terdapat 14 pos gizi untuk membantu pemantauan asupan gizi, tetapi ternyata masih terdapat balita yang terkena gizi buruk. Pemkot Depok saat ini juga tengah mempersiapkan Puskesmas Pancoran Mas (Panmas), Kota Depok, untuk menangani bayi di bawah usia lima tahun (balita) penderita gizi buruk untuk mendapatkan perawatan rawat inap.

“Kami sedang mempersiapkan Puskemas tersebut untuk dapat menangani pasien penderita gizi buruk dengan rawat inap,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok, Mien Hartati. Menurut dia, dana yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas rawat inap balita penderita gizi buruk tersebut sekitar Rp300 juta.

Selain untuk rawat inap penderita gizi buruk, puskemas tersebut juga dipersiapkan untuk menampung pasien penyakit lainnya. Ia mengatakan, Pancoran Mas merupakan puskesmas ketiga yang akan mempunyai fasilitas rawat inap bagi para pasiennya setelah sebelumnya dibuka di Puskesmas Sukmajaya dan Puskesmas Cimanggis.

Dinas Kesehatan Kota Depok mencatat jumlah balita penderita gizi buruk hingga bulan Juli 2008 di daerah ini mencapai 441 orang. “Penyebab utama gizi buruk adalah lemahnya ekonomi keluarga dan kurangnya pengetahuan orangtua dalam memberikan asupan gizi kepada anaknya,” jelasnya.

Menurut dia, banyak warga Depok yang masih hidup di bawah garis kemiskinan sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan gizi anaknya. “Rata-rata mereka yang bergizi buruk tinggal di permukiman padat penduduk dan cenderung kumuh,” katanya.

September 2008

Panmas buka penitipan kendaraan

Monitor Depok, 29 September 2008 PANMAS, MONDE: Mudik menjelang hari raya Idul Fitri seperti sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Indonesia yang merantau, tak terkecuali warga Depok. Ada pemudik yang menggunakan kendaraan sendiri baik itu kendaraan roda empat maupun roda dua. Namun tidak sedikit yang lebih memilih menggunakan kendaraan umum.

Bagi warga yang memilih kendaraan umum, banyak di antaranya meninggalkan kendaraannya di rumah, sementara rumah dalam keadaan kosong. Hal ini menyebabkan risiko kehilangan dan terjadinya pencurian sangat besar.

Di Pancoran Mas, Polsek bersama kecamatan menyediakan tempat penitipan kendaran bagi para pemudik yaitu di SMK Setia Negara. “Penitipan ini dimaksudkan untuk menghindari banyaknya pencurian kendaraan bermotor bagi warga yang meninggalkan rumahnya untuk mudik,” ungkap camat Panmas Rd Sudrajat.

Di SMK Setia Negara, ratusan kendaraan terutama roda dua dapat tertampung. “Selain aparat kepolisian yang menjaga kendaraan masih ada juga petugas kemanan sekolah.”

Camat juga mengimbau kepada para pemudik untuk menitipkan rumah kepada tetangga yang tidak mudik serta menambahkan kunci atau pengaman tambahan. “Warga yang mudik bisa melapor kepada RT/RW/Polsek.”

Pesan lain yang disampaikan adalah memastikan kendaraan yang digunakan laik jalan untuk menghindari terjadinya kecelakaan. “Periksa jangan sampai rem blong dan jangan memaksakan kendaraan yang tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh yang dapat menyebabkan kecelakaan.”

Sebelumnya Kapolres Depok, Kombes Gatot Eddy Pramono saat gelar pasukan menghadapi Lebaran di balaikota Depok, pekan lalu mengatakan, Polres Metro Depok juga menyediakan layanan serupa, yakni penitipan kendaraan bagi warga yang mudik.

“Dari pada takut kendaraannya hilang saat mudik, silahkan titipkan di kantor Polres atau Polsek terdekat,” ujar Kapolres.(why/wen/m-9/van)

Agustus 2008

Panmas peringkat IV pembayaran pajak

Monitor Depok, 30 Agustus 2008 PANMAS, MONDE: Dari target Rp6.550.279.688, realisasi Pajak bumi dan bangunan (PBB) pada minggu ke II Juli 2008 kecamatan Pancoran Mas baru mencapai Rp 1.830.626.318 atau sekitar 27,90%. Raihan ini menjadi peringkat keempat dari enam kecamatan se-Depok.

“Periode Agustus belum habis dan saya yakin Pancoran Mas akan mampu menduduki peringkat II,” ungkap Camat Panmas Rd Sudrajat di ruanga kerjanya, kemarin.

Mengenai data yang terbaru sesuai jatuh tempo pembayaran PBB yang telah ditetapkan yaitu pada tanggal 31 Agustus 2008, camat menjelaskan masih dalam tahap penghitungan, selain itu masih banyak warga yang hingga kemarin melakukan pembayaran di loket PBB di kantor kecamatan atau KPP Pratama.

Yang cukup membanggakan, salah satu kelurahan di Pancoran Mas yaitu Depok Jaya pada periode II Juli 2008 mampu menduduki peringkat pertama realisasi raihan PBB dari 63 kelurahan se-Depok.

Camat menyadari bahwa besarnya realisasi pembayaran pajak sangat dipenaruhi kesadaran warga dalam melaksanakan kewajibannya membayar pajak. Untuki itu, pihaknya tidak pernah bosan menyampaikan perihal PBB kepada masyarakat.

“PBB sangat penting karena ditujukan untuk pembangunan wilayah. Kepada warga diharapkan jangan hanya menuntut perbaikan jalan tetapi melupakan kewajiban membayar pajak.”(m-9)

Juli 2008

Raker kepsek se-Panmas digelar

Monitor Depok, 17 Juli 2008 STADELA, MONDE : Dengan harapan dapat meningkatkan kemampuan kompetensi dan prfesiaonalisme kepala sekolah SD se-kecamatan, Seksi Pendidikan dan Kebudayaan Kec. Pancoran Mas menggelar rapat kerja kepala-kepala sekolah 16-17 Juli 2008.

Kegiatan yang digelar di kantor Kasi Dikbud Panmas Jl Stadela Depok ini dihadiri Camat Pancoran Mas Rd Sudrajat, Kasi Dikbud Panmas H Sunyipto, serta puluhan kepala sekolah SD se-Pancoran Mas.

Camat menyampaikan rapat kerja ini hendaknya dapat menjadi sarana evaluasi masa kerja 2007/2008 sehingga dapat meningkatkan kinerja demi kemajuan di bidang pendidikan.

“Selain menajdi evaluasi, tentunya dapat pula disusun berbagai masukan dalam rencana kerja ke depan untuk 2008/2009 sehingga langkah-langkah yang diambil sesuai dengan tupoksi dan hasilnya disetujui untuk selanjutnya disampaikan ke tingkat kota.”

Kelulusan SD yang mencapai 100% tahun ini di wilayah Pancotran Mas juga perlu mendapat perhatian agar tahun ke depan dapat mempertahankan dan meningkatkannya.

“Kepsek juga diharapkan mampu meningkatkan hasil belajar secara objektif dan normatif. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah pemberantasan penyakit kudis atau kurang disiplin, kutil atau kurang teliti, dan kurap atau kurang rapi.”(m-9)

Tanah eks kantor Desa Pondok Jaya dijualbelikan. Pemkot diminta segera bertindak

Monitor Depok, 10 Juli 2008 PANMAS, MONDE: Sebidang tanah seluas 200 m2 bekas kantor Desa Pondok Jaya yang merupakan aset Pemkot Depok diperjualbelikan.

Ketua LSM Dinamika Pers Kota Depok Mulia Aman Siregar meminta tanah tersebut dikembalikan ke Pemkot Depok sebagai aset negara. Hal itu diperkuat dengan bukti adanya berita acara serah terima aset tahap I pada tahun 2001 dari Kabupaten Bogor kepada Pemkot Depok.

Saat ini keberadaan tanah yang terletak di wilayah RT 03/06 ini sedang dalam proses jual beli antara A Ruslan (penjual) dan dr Burman (pembeli). “Ini kan tanah negara, jadi harus dikembalikan kepada negara sesuai dengan legalitas hukumnya. Bukti tanah itu adalah aset negara adalah serah terima aset. Jika memang bukan aset negara mengapa ada dalam berita acara tersebut,” katanya.

Mulia A Siregar juga mempertanyakan mengapa akta jual beli tersebut bisa diterbitkan dan keterangan tanah tidak sengketa bisa ditandatangani. “Apakah dalam hal ini tidak ada koordinasi? Oknum pejabat yang salah juga harus diberikan sanksi,” tandasnya.

Lurah Pondok Jaya Budiyono menyampaikan bahwa pihaknya sudah melaporkan permasalahan ini ke kecamatan dan camat akan melaporkannya ke Pemkot Depok.

“Kami melakukan pencatatan tanah tersebut tidak sengketa mengingat kelengkapan administrasi tanah tidak ada masalah. Juga tidak ada yang menyatakan bahwa tanah tersebut berperkara kecuali berita acara serah terima yang baru diketahui belakangan. Jadi tidak ada alasan untuk menolak tanda tangan,” ungkap Budiyono.

Menurutnya, kelurahan menandatanganinya lantaran RT dan RW selaku delegasi dari kelurahan juga telah menyetujui dan menyatakan tidak ada masalah. Setelah mengetahui ada kejanggalan, kelurahan segera melakukan pencabutan sebagai saksi mengenai tidak adanya sengketa pada tanah tersebut.

Camat Pancoran Mas Rd Sudrajat menyampaikan bahwa sudah mengupayakan penyelesaian masalah ini dengan mengundang pihak pembeli dan penjual, kelurahan, serta beberapa orang saksi.

“Hal ini akan segera diselesaikan dan tentunya butuh proses secara bertahap. Tindakan yang perlu dilakukan adalah mengamankan aset negara,” kata Sudrajat.

Sementara itu, A Ruslan selaku penjual yang mengklaim bahwa tanah itu miliknya tetap keukeuh bahwa tanah yang dikatakan sebagai aset Pemkot Depok berdasarkan berita serah terima pada tahun 2001 itu adalah benar-benar miliknya yang dibuktikan dengan surat segel jual beli, SPTT, serta kesaksian dari pihak yang mengetahui riwayat tanah.

“Itu tanah saya. Saya beli dari H Misan yang merupakan pemilik awal tanah tersebut. Saya bisa buktikan bahkan saksi termasuk penjual sendiri. Saya saja baru tahu kalau tanah tersebut ada serah terima dari Kabupaten Bogor ke Pemkot Depok. Kalau tahu dari dulu, sudah saya tuntut.”

Meskipun menunggu apa tindakan selanjutnya dan melihat perkembangan, Ruslan mengharapkan Pemkot Depok mengambalikan tanah yang telah dijual seharga Rp50 juta itu kepadanya. Dia mengaku siap membawa permasalahan ini ke Pengadilan Tata Usaha Negara.(m-9)

Juni 2008

‘Tertibkan administrasi kependudukan’

Monitor Depok, 14 Juni 2008 PANMAS, MONDE: Camat Pancoran Mas Rd Sudrajat meminta kepada warganya untuk bertindak tertib administrasi yang ditandai dengan kepemilikan KTP, KK, surat nikah, dan akta kelahiran.

Dengan kepemilikan KTP, seseorang dapat diketahui secara jelas tempat tinggalnya. Manfaatnya ketika ada operasi yustisi, orang tersebut tidak terjaring karena memiliki tanda pengenal.

“Tahun depan rencananya pembuatan KTP digratiskan sehingga meringankan warga, namun jangan sampai terlambat karena akan didenda,” ungkap Rd Sudradjat, baru-baru ini.

Warga juga diminta untuk tidak memiliki KTP dobel, mengganti KTP seumur hidup yang dibuat semasa Depok masih dibawah pemerintahan Kabupaten Bogor menjadi KTP Depok.

“KTP dan KK ini juga menjadi syarat program santunan kematian,” tambahnya.

Menurutnya masih banyak warga Depok yang telah menikah, namun belum memiliki surat nikah diupayakan melalui program nikah massal.

Surat nikah ini menjadi bukti bahwa pasangan telah resmi menjadi suami istri. Surat ini pun berguna bila memiliki anak untuk pembuatan akta kelahiran.

“Akta kelahiran pun dibutuhkan anak untuk masuk sekolah, mencari kerja, atau ingin menjadi pegawai negeri sipil.”(m-9)

Juni 2008

‘Tingkatkan usia harapan hidup lansia’

Monitor Depok, 6 Juni 2008 PANMAS, MONDE: Siapa bilang orang lanjut usia (lansia) tidak bermanfaat. Lansia memiliki benyak pengalaman, daya pikir, dan nasehat yang lebih matang serta doa yang manjur.

Demikian disampaikan Camat Pancoran Mas Rd Sudrajat dalam kegiatan peringatan Hari Lanjut Usia Nasional dan HUT ke-9 Kota Depok yang dilaksanakan Lembaga Lansia Indonesia (LLI) Pancoran Mas di aula kecamatan setempat, kemarin.

Hadir dalam kesempatan ini anggota DPRD Kota Depok dari Fraksi Golkar H Amsir, Ketua LLI Depok, Ketua LLI Pancoran Mas, Kanit Patroli Polsek Panmas, Ketua TP PKK Panmas, serta puluhan lansia.

Disampaikannya, dalam mempertingati hari lansia digelar berbagai kegiatan semisal senam massal, senam jantung sehat, pemeriksaan kesehatan, pemberian bingkisan kepada lansia yang berusia di atas 72 tahun, dan jalan sehat.

“Keikutsertaan para lansia dalam berbagai kegiatan ini perlu ditingkatkan dengan memperkuat silaturahmi, informasi, dan koordinasi agar lansia dapat meningkatkan usia harapan hidup.”

Ditambahkan Ketua LLI Panmas H Emphy, berbagai kegiatan ini dilaksanakan untuk peningkatan kesehatan lansia sehingga tidak merepotkan keluarga, masyarakat, atau pemerintah.(m-9)

Mandiri tanam 500 pohon di Setu Citayam

Monitor Depok, 2 Juni 2008 CITAYAM, MONDE: Perubahan iklim dan rusaknya ekosistem di sejumlah wilayah Indonesia membuat miris Mahasiswa Pecinta Alam Atmajaya. Depok sebagai daerah resapan hujan, dinilai mempunyai peran sangat besar bagi Jakarta.

Bisa dikatakan kerusakan lingkungan hidrologis di Depok bisa menyebabkan petaka bagi Ibukota republik ini.

Karenanya pada Sabtu (31/5), mereka menggandeng Bank Mandiri menanam 500 pohon jati cepu di kawasan Setu Citayam, Pancoran Mas. Ratusan pohon ini diharapkan bisa memperindah kawasan Setu Citayam dengan luas 12 hektare.

Menurut ketua pelaksana penanaman pohon, Edo Tambun, manusia, hewan dan tumbuhan adalah mahluk yang terkena imbas pemanasan ini.

“Kerusakan ini dapat diredam dengan penanaman pohon, yang mempunyai potensi besar untuk mendinginkan kota. Cara ini juga sangat efektif untuk menghilangkan karbondioksida di udara,” ujarnya.

Wakil Rektor III Universitas Atmajaya, Drs Yohannes Temaluru, menambahkan acara ini digelar dalam rangka melaksanakan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pengabdian pada masyarakat.

“Kegiatan ini dipilih untuk menjaga kelestarian, keindahan, dan kesehatan bumi,” demikian Yohannes.

Camat Pancoran Mas, Rd Sudrajat menyambut baik kegiatan penanaman pohon ini. Apalagi menurutnya, setu berfungsi sebagai daerah resapan air, pemasok cadangan air tanah, pendingin suhu udara kota, pengendali banjir, wisata olahraga air, habitat satwa liar, dan tentu saja menambah keindahan kota.

“Saya sangat mendukung gerakan penanaman pohon ini. LSM, dan Pokja Setu Citayam pun ikut saya libatkan. Semoga hal ini kelak turut menyumbangkan oksigen, setidaknya bagi masyarakat di sekitar sini,” katanya.(ap)

Mei 2008

Warga serbu OP migor di Panmas. Disperindag evaluasi OP lanjutan

Monitor Depok, 23 Mei 2008

PANMAS, MONDE: Puluhan warga menyerbu pelaksanaan operasi pasar minyak goreng yang diadakan Disperindag Kota Depok di aula Kecamatan Pancoran Mas, kemarin. Sementara itu Disperindag Kota Depok akan mengevaluasi kegiatan OP yang telah dilaksanakan di enam kecamatan.Kabid Perdagangan Disperindag Dedi Rosadi mengatakan pelaksaan operasi pasar minyak goreng (OP migor) di Panmas merupakan hari terakhir sejak diadakan pada 30 April lalu.

“Hari ini pelaksanaan OP terakhir di Kota Depok. Untuk tahap ini mengenai kelanjutannya apakah diadakan lagi, kita akan evaluasi terlebih dahulu,” katanya.

Namun, berdasarkan pelaksanaan OP kali ini, kata Dedi, harga migor di pasaran yang sempat melonjak kini memperlihatkan adanya indikasi harga migor stabil. “Pelaksanaan OP ini memang untuk menstabilkan harga migor yang sebelumnya tidak menentu, sehari bisa naik atau bisa turun,” ujar Dedi.

Camat Pancoran Mas Rd Sudrajat menambahkan pelaksanaan OP di wilayahnya tidak ada kesalahan persepsi sebagaimana yang terjadi di wilayah lain. Di beberapa kecamatan, banyak warga yang mengira harga migor dalam OP ini adalah Rp5.000 padahal Rp5.000 merupakan besarnya subsidi yang diberikan kepada warga setiap pembelian dua liter migor. Dengan harga migor Rp23.000, warga hanya cukup membayar Rp18.000 untuk mendapatkan dua liter migor.

“Berkat sosialisasi yang terus menerus melalui rapat minggon, maulid, atau pertemuan lainnya, warga tahu bahwa harga migor yang dijual mendapat subsidi Rp 5.000,” kata Sudrajat.

Selain berharap stabilnya harga migor, Camat, mengharapkan dengan OP ini masyarakat terbantu. “Untuk membantu masyarakat, banyak RT, RW, atau pihak kelurahan yang berinisiatif membantu warga dengan menerima titipan pembelian migor,” ungkapnya.(m-9)

Februari 2008

DPC PKS Panmas gelar Mukercab I

Monitor Depok, 8 Februari 2008 PANMAS, MONDE: Dalam sambutannya pada Musyawarah Kerja Cabang (Mukercab) I DPC PKS Pancoran Mas, Camat Pancoran Mas, Rd Sudrajat mengharapkan perlu peningkatan kerjasama yang baik untuk mendukung program-program pemerintah sehingga tidak terjadi miscomunication antara pemerintah dan masyarakat.

“Kerjasama antarelemen mutlak diperlukan dan ditingkatkan, sehingga tidak terjadi miscomunication antara pemerintah dengan masyarakat,” tandas Sudrajat, kemarin. Mukercab I DPC PKS Pancoran Mas yang dibuka Camat Panmas dihadiri seluruh perwakilan DPRat se Pancoran Mas, pengurus cabang Panmas, perwakilan pengurus DPD Kota Depok dan anggota legislatif PKS daerah pemilihan Panmas.

Sudrajat mengharapkan Muskercab I DPC PKS Panmas bisa menghasilkan program-program dan putusan yang mendukung program Pemkot Depok menjadi pemerintah yang melayani dan menyejahterakan.

Sekum DPD PKS Kota Depok, Yogo Pamungkas, mengatakan seluruh kader harus mengisi pembangunan Kota Depok dalam berbagai hal, tidak hanya politik saja tetap juga bidang-bidang lain seperti sosial dan budaya. Di kesempatan ini juga ditetapkan rencana strategis DPD PKS Kota Depok.

“Pengoptimalan program dan kegiatan dalam periode ini sebesar 70% untuk pemenangan Pilkada Jawa Barat 2008 dan Pemilu 2009 serta 30% untuk melayani dan membina Kota Depok,” ujar Yogo.

Januari 2008

Rumah Rara dibanjiri warga

Monitor Depok, 7 Januari 2008 BOJONG PONDOK TERONG, MONDE: Ribuan warga Bojong Pondok Terong, Panmas dan sekitarnya kemarin mendatangi rumah bintang tiga besar Stardut Indosiar Zahra Nurani alias Rara.

Kediaman Rara di RT01/03 ini sudah didatangi warga sejak pagi karena anak pasangan Abdul Kodir dan Siti Saodah ini Jumat pekan lalu berhasil menuju gran final tiga besar bintang Stardut Indosiar.

Rumah warna kuning itu pun langsung jadi perhatian ribuan warga yang berduyun-duyun ingin melihat secara langsung penampilan Rara di atas pangung dekat rumahnya.

Memang, kemarin, digelar konser kecil Bintang Stardut Indosiar dengan menampilkan tiga grand finalis Stardut Indosiar seperti Ayah Dayat dengan Fuji, Bunda Ade dengan Deca, dan tuan rumah dari Bojong Pondok Terong Bunda Dadah dengan Rara

Ketika rombongan crew Indosiar yang membawa para bintang Stardut tiba di rumah Rara, desakan warga makin menjadi-jadi. Teriakan dan sambutan terdengar bersahutan di sekitar rumah Rara.

Semakin siang, warga makin banyak. Ketika Rara tampil di panggung tepukan dan lambaian para fans yang rata-rata kawula muda dan ibu-Ibu bertambah seru. Bahkan dengan goyangan patah-patah suasana menjadi begitu ramai.

Menggunakan gaun putih dan celana hitam, Rara yang didampingi bunda Dadah minta warga Depok selalu mendukungnya menjadi ratu Stardut Indosiar 2008 sehingga bisa membawa nama kota Depok diajang acara ini.

Sontak warga pun membalas dengan tepukan tangan dan terikan yang mendukung Rara.

Teriknya panas matahari tak mencairkan minat warga untuk meninggalkan seputar rumah Rara. Warga tetap antusias melihat pertunjukan bintang Stardut sekitar tiga jam itu. Tak ketinggalan Camat Pancoran Mas Rd Sudrajat ikut bernyanyi di panggung bersama bintang Stardut dengan tembang Sisa-Sisa Cinta.

Acara Stardut selanjutnya akan dilaksanakan 18 Januari 2008. Rara pun berharap jajaran Pemkot Depok dapat memberi dukungan dengan menyaksikan langsung ke Teater Tanah Airku Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

Dua Lima Jigo, Dua Lima Jigo Rara Jagonya,” begitu jingle yang dilontarkan dara kelahiran 1983 ini untuk menarik dukungan warga.

Siap dukung

Saat mengunjungi Balaikota kemarin untuk meminta dukungan Pemkot, Rara mendapat angin segar setelah jajaran muspida yang diwakili Camat Pancoran Mas Rd Sudrajat dan Asisten Pembangunan Pemkot Depok Abdul Haris siap membantu dan mendukungnya menjadi ratu baru di event Stardut.

“Walaupun walikota dan wakil wali tidak hadir dalam acara syukuran Rara yang menjadi grand finalis Stardut, saya yang mewakili dan hadir ke acara syukuran Rara di rumah Rara di RT 01 RW 03 Bojong Pondok Terong, Depok,” kata Haris.

Menurut dia, pihaknya berjanji senantiasa mengikuti perkembangan acara ini melalui surat kabar dan bahkan pada Jumat malam saya menyaksikan pertujukan Rara di Teater Tanah Airku, TMII.

“Di sana banyak sekali jajaran pejabat kota Depok yang menyaksikan. Pemkot Depok selalu mendukung Rara untuk maju ke babak berikutnya bahkan menjadi ratu dangdut baru.”

Camat Pancoran Mas Rd Sudrajat menambahkan pihaknya bangga ada warganya yang berprestasi di ajak event yang besar ini seperti stardut. “Rara ini merupakan aset yang dapat mempromosikan dan memperkenalkan kota Depok.”

Rara atau Zahra Nurani mengatakan pesaing paling berat adalah Deca dengan Bunda Adenya, karena Deca memiliki suara yang bagus dan penampilannya juga lebih baik.

“Dalam penjurian di Stardut saya selalu di bawah Deca,” ujarmua.

Untuk mempersiapkan langkah berikutnya, Rara mengatakan setiap hari selalu minum susu, berlatih vokal di Raflesia Studio, dan yang paling utama menjaga stamina kesehatan agar semuanya berjalan dengan baik.(m-10)

November 2007

Camat Panmas sungkan tegur kontraktor

Monitor Depok, 27 November 2007

PANMAS, MONDE: Meski pernah menjabat Kabid Pengawasan dan Pengendalian Dinas Tata Kota Bangunan (Kabid Wasdal Distakotbang) Kota Depok, Camat Pancoran Mas, R Sudrajat, sungkan menegur CV Duta Penggana Gana, menyusul penggunaan potongan balok kecil sebagai pengganjal atap baja gedung utama kecamatan menyalahi bestek.

Dalam pengecekan fisik kantor kecamatan kemarin, Sudrajat tak berani bertindak tegas — misalnya— menghentikan sementara proyek itu sebelum ada penjelasan teknis dari pengawas menyangkut penggunaan potongan balok kecil sebagai pengganjal kap kantor tersebut.

Apalagi Manalu, pelaksana lapangan CV Duta Panggana-Gana, kontraktor kantor Kec Panmas mengaku bahwa pemasangan potongan balok-balok kecil sebagai pengganjal kerangka atap yang terbuat dari baja itu memang tidak ada didalam bestek.

“Saya tidak bisa bertindak, karena harus meminta penjelasan dari Distakotbang, terutama pengawasnya. Kalau saya hentikan, tapi ternyata Distakotbang bilang itu tidak ada masalah, kan saya juga nggak bisa apa-apa,” kata Sudrajat kepada Monde, kemarin.

Pelaksana Lapangan CV Duta Panggana-Gana, Manalu mengaku, pemasangan potongan balok-balok kecil sebagai pengganjal kap memang tidak terdapat di dalam bestek, namun pihaknya menjamin konstruksinya tidak akan bergeser Apalagi jika kap sudah terpasang genteng.

”Ya, memang [pemasangan potongan balok kecil tidak terdapat di dalam bestek,” kata Manalu kepada Camat dan Monde, kemarin.(mj)

Oktober 2007

Camat Panmas: Para lurah mesti waspadai arus balik

Monitor Depok, November 2007PANCORAN MAS, MONDE: Arus balik sudah mulai ramai memasuki Kota Depok. Warga yang pada saat Lebaran pulang ke kampung halamannya masing-masing saat ini sudah berangsur kembali guna memulai aktivitas rutin mereka.

Arus balik dari tahun ke tahun biasanya juga identik dengan datangnya para pendatang baru dari berbagai daerah ke Jakarta atau Depok, yang ikut sanak keluarga atau teman mereka yang mudik, guna mengadu nasib dan mencari pekerjaan.

Mengantisipasi banyaknya pendatang baru yang tidak memiliki surat-surat pindah dari daerah asalnya, Camat Pancoran Mas, Sudrajat meminta agar para lurah serta ketua RW dan RT mewaspadai para pendatang baru saat arus balik tersebut.

“Kita bukannya orang lain datang ke Depok, tapi supaya lebih ada tertib administrasi data kependudukan, sebaiknya mereka membawa surat pindah dari daerah asalnya masing-masing,” ujar Sudrajat.

Selain itu menurut Sudrajat, untuk mencegah semakin tingginya angka pengangguran, sebaiknya para pendatang baru tersebut saat datang ke Depok atau Jakarta sudah memiliki pekerjaan yang tetap.

“Jangan saat datang ke Depok baru mau nyari pekerjaan. Kalau begitu maka hanya akan menambah jumlah pengangguran dan kepadatan penduduk. Soalnya saat ini jumlah angka pengangguran di Depok sudah cukup tinggi,” tuturnya.

Kepada para lurah dan ketua RW serta ketua RT, Sudrajat meminta agar mereka aktif turun di lingkungannya masing-masing guna mendata para pendatang baru tersebut.

“Mereka para lurah atau ketua RW dan ketua RT adalah ujung tombak yang berkewajiban untuk menyosialisasikan kepada masyarakat mengenai pentingnya tertib administrasi kependudukan.

Karena itu jika usai Lebaran ini ada pendatang baru di lingkungannya masing-masing, maka sebaiknya ketua RW dan ketua RT meminta mereka untuk melapor. Selain itu minta juga mereka membawa surat pindah,” katanya.

Sudrajat mengungkapkan bahwa tertib adminsitrasi data kependudukan dan surat pindah dari daerah asal bukannya untuk membatasi atau melarang orang untuk tinggal di Depok.

“Ini semata-mata untuk mencegah hal-hal yang tidka diinginkan. Misalnya tindakan terorisme. Kalau ada surat pindah, kita jadi tahu asal-usul orang tersebut,” ujar Sudrajat.(m-5)

Baliho Wali dipersoalkan. Infokom: Partisipasi pihak ketiga

Monitor Depok, 1  Oktober 2007MARGONDA, MONDE: Baliho bergambar Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail, Wakil Walikota Yuyun Wirasaputra, Sekretaris Daerah Winwin Winantika dan Kepala DKLH Walim Herwandi, dipersoalkan keberadaannya.

Pusat Studi Informasi dan Pembangunan Masyarakat (P-Sigma) yang melalukan survai dan pengkajian sekitar sepekan, mempertanyakan hal itu, lantaran pos anggarannya tak tercantum dalam laporan kegiatan APBD Depok semester I/2006.

Baliho itu dipasang di beberapa ruas jalan utama di Kota Depok, a.l. di Jl Margonda Raya, Jl Sawangan Raya, Jl.Krukut, Jl Raya Bogor dan Simpangan Depok. Isi baliho itu mengenai Sipesat, Komiter Bersama Depok Peduli Jogja dan lingkungan hidup.

“Karenanya, kami [P-Sigma—Red] meminta kejelasan dari mana sumber pendanaan pembuatan baliho raksasa” jelas Direktur Badan pengurus P-Sigma, Anggawira kepada Monde, tadi malam.

Oleh karena itu, P-Sigma mempertanyakan dari mana dana pembangunan baliho itu diperoleh. Anggawira pun yang meneliti pos anggaran dalam laporan pelaksanaan kegiatan APBD Kota Depok Semester 1 TA 2006, tak mencantumkan sama sekali dana baliho. “Ini bisa dilihat di pos anggaran bagian Infokom,“ katanya.

Begitu juga, katanya, saat P-Sigma menanyakan masalah ini ke legislatif, juga tak diperoleh jawaban mengenai anggaran baliho, sehingga mendorong lembaganya untuk mempertanyakan masalah ini.

“Lalu dari mana sebenarnya anggaran pembuatan baliho. Kalau memang dari pihak ketiga seharusnya kan dicantumkan [di baliho itu] disponsori oleh siapa,” papar Anggawira.

Terkait hal itu, Kabag Infokom Rd Sudrajat yang dihubungi terpisah mengatakan anggaran pembuatan baliho memang tidak ada dalam Dokumen Anggaran Satuan Kerja (DASK) Bag Infokom.

“Keberadaan baliho-baliho itu dari partisipasi pihak ketiga. Baliho itu penting. Isinya, memuat kebijakan strategis pimpinan (Walikota—Red),” ujar Sudrajat.

Kasubag Komunikasi Infokom Dodi Rustiadi, menambahkan, “Setahu saya pembuatan baliho itu dari pihak ketiga, sedang pihak ketiga siapa, saya tak tahu.”

Plt Distakotbang Utuh Karang Topanesa menjelaskan, dinasnya yang menjadi leading sector perizinan reklame dan baliho hanya bertindak sebagai pihak pemberi saran tentang baiknya penempatan baliho berisi pesan layanan masyarakat itu.

Pajaknya? Utuh pun menegaskan iklan/pesan layanan masyarakat tak dipungut pajak atau retribusi.

“Soal lainnya, misalnya isi muatan coba tanyakan ke Infokom. Kami (Distakotbang—Red) hanya tahu itu diurus oleh pihak ketiga,” Utuh menambahkan.

Perlunya transparansi

Direktur Badan pengurus P-Sigma Anggawira menekankan di Depok perlu menerapkan transparasi anggaran, termasuk dana pembuatan baliho. Apabila melibatkan pihak ketiga, katanya, Pemkot seharusnya mencantumkan logo perusahaan sember pemberi dana di baliho itu.

Dalam laporan pelaksanaan kegiatan APBD Kota Depok Semester 1 TA 2006 bagian Infokom soal belanja operasional public (BOP) memuat rincian al untuk sosialisasi informasi profil Kota Depok, yang menganggarkan Rp100 juta. Dari anggaran itu dipakai untuk menyediakan 4 buah papan display foto, 10.000 lembar leaflet dan 2.500 kantong.

Ada pula BOP untuk sosialisasi informasi pelayanan publik dengan anggaran Rp110 juta. Anggaran itu dipakai untuk 25 publikasi, 1.750 buku informasi pelayanan publik.(m-2)

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: